Seorang Bunda

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Kita hidup berdampingan dengan orang lain. Secara otomatis, kita tak bisa mengelakkan interaksi. Kita juga melihat apa yang dilakukan orang lain, begitu pun sebaliknya, orang lain melihat apa yang kita lakukan. Bila sepak terjang kita tidak baik, maka akan meninggalkan kesan yang tidak baik pula di benak orang lain. Bila tingkah laku kita baik, maka yang tersisa adalah kesan yang baik. Ditambah lagi hal-hal yang baik itu akan selalu terngiang, bahkan mungkin akan disampaikan pula kepada orang lain, agar semua mengetahui tentang kebaikan itu.

Yang ingin kusampaikan adalah tentang seorang bunda. “Bunda” adalah salah satu panggilan yang kini kerap terdengar digunakan untuk memanggil sesosok ibu, meskipun bukan ibu kandung. Misalnya ada sekolah yang mengarahkan siswanya untuk memanggil ibu guru dengan sebutan “bunda”. Secara umum, banyak orang yang memanggil sesosok perempuan yang sudah menjadi ibu sesungguhnya dalam keluarganya dengan sebutan “Bunda”, karena memang sosok itu bersikap seperti layaknya seorang ibu baik di dalam maupun di luar keluarganya. Seorang bunda tentunya bertingkah laku baik dan mengayomi, sampai-sampai orang lain rela memanggilnya dengan sebutan “bunda” seolah-olah dengan ibu kandungnya sendiri.

Adalah Bunda N yang sudah lama aku mengenal sosoknya. Sebenarnya tidak terlalu mengenal, karena beliau berada di jajaran atas kedinasan tempat aku bekerja. Beliau juga tidak mengenalku. Pada suatu hari beberapa tahun yang lalu, beliau ada dalam rombongan yang sedang melakukan supervisi di puskesmas tempat kerjaku. Dalam periode tertentu, selalu ada supervisi.

Pandangan bunda beredar ke seluruh ruangan. Kebetulan hari itu aku sedang bertugas bersama Cempluk. Langkah kami mengiringi beliau beserta rombongan yang sedang memasuki ruang tindakan di UGD. Agak berdebar-debar juga saat menantikan komentar beliau tentang tempat kerjaku.

Tiba-tiba bunda menyolek permukaan sebuah lemari kaca yang setinggi dada. Colekan itu samar, namun sempat tertangkap olehku dan Cempluk. Lemari kaca itu sebenarnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat-alat medis yang jarang digunakan.

“Terima kasih ya, karena sudah dijaga kebersihan tempat kerjanya,” ucap bunda sambil tersenyum, beberapa saat kemudian setelah rombongan ke luar ruangan. Nada bicara bunda tetap seperti biasa, lembut.

Aku dan Cempluk membalas senyuman itu. Lalu kami saling colek segera setelah bunda tak lagi di ruangan kami. Kami terkekeh perlahan. Kami tahu persis bahwa bunda menggunakan ungkapan yang bermakna kebalikannya. Lemari kaca itu (cukup) berdebu! Maklum saja, waktu itu kami hanya mempunyai seorang petugas kebersihan yang harus bekerja mebersihkan puskesmas yang memiliki banyak ruangan. Mungkin sebenarnya salah kami juga, karena mestinya di sela kesibukan kami bisa menyempatkan diri untuk sekedar membersihkan lemari kaca. (Syukurlah, sekarang petugas kebersihan kami sudah bertambah).

Pengalaman dengan bunda itu kemudian menjadi semacam legenda di antara aku dan Cempluk. Kami menganggap bahwa bunda tahu persis bagaimana cara meraba langsung ke hati bawahannya. Tentu saja kami sebenarnya merasa malu, namun bunda memilih cara yang halus untuk menegur kami. Sangat berbeda bila dibanding dengan beberapa pimpinan lain yang langsung mengumbar amarah kepada bawahan. Sering kali tak peduli dengan sekitar saat memarahi bawahan, bahkan cenderung membuat malu bawahan.

Hal yang bisa kupetik dari Bunda N adalah bahwa tak perlu marah atau berkata-kata kasar bila ada orang lain yang melakukan kesalahan. Baik itu saat kita jadi seorang pemimpin atau tidak. Marah-marah  atau mempermalukan bawahan di depan orang lain, tak akan menyelesaikan masalah. Malah hanya akan menimbulkan dendam di hati.

25 thoughts on “Seorang Bunda

  1. Cara menegur seorang Ibu, menggigit tanpa menyentuh..Dengan cara itu kita selalu memikirkan kata-katanya ya Mbak Akin. Yang akan memotivasi kita berbuat lebih baik lagi🙂

  2. Marah dengan cara menyindir itu essip, Kak. Daripada marah2 sampai melngelurkan otot2, tapi gak didengar dan gak memberikan kemanfaatan percuma🙂

    Sukses GA nya Kak🙂

  3. Kematangan seseorang bisa menjadi penyebab ia menjadi bijak dalam mengkritisi sesuatu hal yang perlu pembenahan. Beliau telah mampu berkomunikasi dengan baik dan memberikan makna mendalam.

  4. bunda tahu betul karakter anak- anaknya sehingga bunda arif dalam meberikan nasihatnya, meski dengan bahasa yang lembut akan tetapi sudah bisa ditangkap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s