Inilah Jalanku

Saat lulus dari Akademi Keperawatan (D3), aku merasa gembira sekaligus penasaran akan dunia kerja yang akan kuhadapi. Surat lamaran pun kutulis untuk kukirimkan ke beberapa rumah sakit. Bahkan tawaran menjadi perawat di luar negeri juga sempat kulirik, namun tidak jadi kuikuti karena yakin takkan mendapat ijin orang tua. Tiba-tiba aku dihubungi kampusku dan aku ‘ditarik’ untuk bekerja di kampus. Kupikir dari pada lama menanti jawaban atas surat lamaranku, lebih baik kuterima saja tawaran itu. Bukankah itu berarti bahwa ada sesuatu yang ‘lebih’ dari diri kita, sehingga pihak kampus ‘meminang’ kita untuk bekerja di sana?  Memang saat itu aku sedang memiliki kelebihan, yaitu kelebihan berat badan. :mrgreen: Continue reading

Wisuda

Beberapa hari yang lalu aku diundang untuk menghadiri acara wisuda di kampus Akademi Keperawatan Pepmprop. Kaltim, Samarinda, tempatku menimba ilmu keperawatan dulu, serta tempatku bekerja selama kurang lebih 4 tahun. Kupikir akan sangat menyenangkan bertemu kembali dengan rekan-rekan kerja dulu, sekalian halal bihalal. Setelah pindah tempat kerja, ini adalah kali keduaku menghadiri acara wisuda di kampus ini. Continue reading

Di Depan Kelas

Waktu aku menjadi mahasiswa dulu, aku bukanlah mahasiswa yang bandel. Hanya saja beberapa tingkah yang katanya sih dianggap lumrah juga kulakukan, seperti sekali/dua kali membolos, duduk selalu di barisan paling belakang, makan/minum di kelas  (bahkan saat sedang ada dosen 😯 ), terlambat masuk kelas atau saat praktik di rumah sakit, tidur di kelas, dll. Continue reading

Kok Salah Sih?!?!

Sejak awal masa perkuliahan di Akademi Keperawatan, kami para mahasiswa diajarkan berbagai macam praktek tindakan keperawatan dasar, seperti cara memandikan pasien, mengukur tekanan darah, memberi makan pasien dll. Praktek tindakan ini nantinya akan sangat bermanfaat saat kami bekerja di rumah sakit, puskesmas atau klinik. Dosen-dosen kami sangat tekun dalam memberikan pengarahan, karena mereka nggak mau entar lulusannya malu-maluin karena nggak bisa kerja. Continue reading

Bila Aku Sakit

Lho… perawat bisa sakit juga toh…

Waduh… Dokter ternyata bisa sakit juga ya…

Ungkapan diatas pasti cukup sering kita dengar. Sebagian besar orang tentu sangat memahami, bahwa perawat, dokter atau orang yang menggeluti bidang kesehatan lainnya adalah manusia biasa. Namun tak jarang juga ada yang merasa geli, saat mendengar seorang dokter terserang diare. Mungkin di benak orang tersebut berkata “Apakah dokter ini jajan sembarangan… sampai-sampai mencret gitu…”

Aku juga pernah mendapati orang yang terheran-heran saat melihat hasil foto x-ray mulut seorang dokter gigi, yang katanya ternyata “giginya hancur nggak karu-karuan juga…”, mungkin mereka menganggap ini lucu juga.

Sesungguhnya, kami ini (ehm… anggap aja aku mewakili penggelut bidang kesehatan 🙂 ) just like you. Sama saja seperti kebanyakan orang yang ada di republik ini. Meskipun pengetahuan di bidang kesehatan boleh dibilang lebih banyak dibanding yang lain, namun tak jarang kami berada dalam kondisi “kurang sehat” 🙂

Menurutku, ada beberapa hal yang menyebabkan kondisi kurang sehat ini : Continue reading

Lanjutan Kisah Perawat Kukar yang Ditangkap

Rupanya kasus penangkapan Misran, salah satu perawat yang bertugas di pusban (puskesmas pembantu) di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berkembang. Kemarin (19/11) Misran menjalani sidang putusan dan divonis 3 bulan penjara akibat terbukti membuka praktik kefarmasian tanpa disertai keahlian dan kewenangan.

Aku sebagai perawat merasa miris mendengar hal ini. Seperti kita ketahui masing-masing profesi memiliki batasan-batasan lingkup kerja. Namun kondisi di lapangan tidaklah semudah itu. Jumlah dokter yang mau ditempatkan di daerah terpencil aja masih terbatas jumlahnya. Mudah-mudahan ada penyelesaian yang baik bagi semua pihak deh…

Ini nih berita lengkapnya dari Kaltim Post Online.

______________________________________

Jum’at, 20 November 2009 , 13:04:00

BERI OBAT DAFTAR G, DIVONIS 3 BULAN

TENGGARONG – Malang benar nasib perawat Misran, kepala Puskesmas Pembantu (Pusban) Kuala Samboja, Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar). Niatnya menolong masyarakat di wilayah kerjanya dibalas dengan vonis 3 bulan penjara. Akibatnya, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kukar mengancam, menghentikan pelayanan kefarmasian di 128 pusban di Kukar.

Dalam sidang, Kamis (19/11) terungkap fakta, Misran terbukti memberikan obat keras daftar G yang memiliki ciri lingkaran merah di kemasannya. Menurut hukum, Continue reading

Penangkapan Perawat di Kukar

Beberapa pekan belakangan ini tersiar kabar yang cukup mengejutkan di kalangan praktisi kesehatan di Kaltim. Awal mula beritanya adalah pencidukan seorang perawat di daerah Kukar bernama Misran (40) oleh polisi. Beritanya dapat dibaca disini. Alasan penangkapan perawat tersebut adalah karena telah melanggar 2(dua) pasal Undang Undang RI, yaitu :

1.  Undang Undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Pasal 82 ayat 1)

2. Undang Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik kedokteran (Pasal 78)

Perawat dan bidan yang bekerja di Puskesmas wilayah Kukar sempat mengadakan mogok bekerja baik di dalam maupun luar gedung (16-17/3) setelah kejadian penangkapan itu. Ditambah lagi beredar SMS yang lumayan horor, yang sampai juga di handphone saya, isi lengkap SMS itu adalah berikut ini:

“Ini info dari PPNI Kab. Himbauan utk slrh tenaga perawat yg di wilayah kerjanya ada dokter… Dilarang keras melakukan praktek pengobatan di dlm maupun di luar gedung. (kptsn polda… semua perawat yg melakukan pengobatan/pekerjaan di luar kompetensinya adalah penjahat).”

Tidak heran perawat dan bidan jadi was-was dalam bekerja bila ada embel-embel “…adalah penjahat” yang membayanginya.

Menurut saya, akar permasalahan yang memang telah ada sejak dulu kala ini adalah kurangnya tenaga kesehatan (bukan hanya dokter) di Puskesmas pelosok dan terpencil. Di daerah tersebut masing-masing petugas kesehatan dituntut untuk bisa melakukan segala hal. Karena keterbatasan tenaga kesehatan, sejak dulu telah terjadi tumpang tindih uraian tugas, misalnya perawat yang melakukan tugas dokter dan bidan atau bidan yang melakukan tugas dokter dan perawat. Masyarakat tentu saja akan lebih memilih tenaga kesehatan yang tersedia di daerahnya daripada harus ke dokter di daerah lain yang harus ditempuh berkilo-kilo meter.

Untuk kasus penangkapan perawat, Kepala Dinas Kesehatan Prop. Kaltim telah menyampaikan bahwa pihaknya terus berusaha menyamakan persepsi dengan pihak kepolisian mengenai aplikasi kedua undang-undang yang disebutkan diatas agar masyarakat lebih terlayani dan perawat atau bidan tidak dianggap sebagai penjahat dan harus mengalami hal seperti yang pernah dialami oleh Misran. Untuk perawat dan bidan daerah terpencil boleh lega karena bisa diberi izin, namun tidak untuk yang berada di perkotaan karena telah banyak terdapat Puskesmas, rumah sakit dan praktik dokter.

Untuk perawat sebenarnya dapat melakukan praktek secara resmi, namun memang ada batasan-batasannya. Hal ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI no 1239/Menkes/SK/XI/2001. Link-nya ada di-sini.

Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu Dosen Akper Pemprop Kaltim, Karyoso, mengenai penangkapan perawat ini. Menurut beliau hendaknya aparat melihat dulu ke belakang mengenai peran besar yang dilakukan oleh perawat sejak zaman kemerdekaan hingga saat ini. Dengan demikian alangkah lebih baik bila ada Undang Undang yang lebih menguntungkan perawat, karena bila kedua pasal dalam Undang Undang tentang Kesehatan dan Kedokteran diatas dilaksanakan begitu saja, tidak menutup kemungkinan perawat dan bidan akan melakukan mogok lagi yang mengakibatkan masyarakat tidak terlayani. Beliau juga menambahkan bahwa institusi pendidikan keperawatan tidak bekerja untuk melahirkan penjahat, namun untuk melahirkan perawat-perawat yang kelak bermanfaat di masyarakat.

Kejadian di atas terjadi di Kaltim, namun bagaimana dengan propinsi lain ya…

Harapan saya semoga semua tenaga kesehatan dapat bekerja dengan tenang tanpa dibayangi oleh perasaan takut ditangkap, sehingga semua masyarakat dari kota hingga daerah terpencil mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal. Go Indonesia Sehat 2010!

credit: Berbagai sumber