Samarinda Panas

Samarinda panas! Ya, sudah beberapa hari ini kotaku tercinta bersuhu lumayan panas. Setelah beberapa hari tak ada hujan sama sekali, akhirnya hujan sempat mengguyur sekali dua kali dan disertai genangan tinggi di beberapa ruas jalan). Namun setelah hujan berlalu, suhu kembali panas. Kalau di siang hari nekad naik motor tanpa pelindung tambahan seperti sunblock, sarung tangan, kaus kaki, dll, siap-siap saja mendapatkan kulit yang gosong akibat sengatan matahari. Continue reading

Buah Mangga

Musim mangga kali ini benar-benar kunikmati. Hampir setiap hari aku membeli mangga. Kisaran harga mangga di Samarinda adalah Rp 7.500 s/d Rp 25.000 per kilonya. Kalau ingin yang lebih hemat, ada mangga apkiran yang agak kematangan, sekitar Rp 10.000 per 3 Kg. Yuk dipilih…dipilih… ๐Ÿ˜€ Continue reading

Penjual Durian dan Foto Gayus

Awal tahun ini sangat berbeda dengan awal tahun lalu. Januari tahun lalu Kota Samarinda dihiasi oleh banyaknya tukang buah dadakan yang menjual buah musiman. Hampir setiap hari aku membeli durian dan buah-buahan eksotis lainnya. Saking seringnya membeli durian, aku sempat digodain sama penjual duriannya ๐Ÿ˜€

Aku sempat membuat 2 buah postingan mengenai musim buah di Samarinda. Disini dan disitu. Continue reading

Swimming Fruits @ Hot, Sweet and Sour Pool

Ada beberapa jenis rujak yang pernah kumakan, namun yang paling kusukai adalah rujak serut. Ada beberapa alasan mengapa aku lebih menyukai jenis rujak serut ini, antara lain karena berkuah, enak banget ‘kan bisa diseruput ๐Ÿ™‚ Aku lebih menyukai bila komponen kuahnya dipisah-pisah, sehingga kita bisa memilih rasa yang kita inginkan, apakah manis aja, pedas sedang atau pedas banget. Makan rujak serut ini sangat menyegarkan karena disajikan dalam keadaaan dingin, segerr benerr ๐Ÿ™‚

Alat yang penting dalam pembuatan rujak serut ini tentu saja parutan. Parutan yang digunakan adalah yang berlubang besar-besar, berbeda dengan parutan keju apalagi parutan kelapa ๐Ÿ˜› Continue reading

Asam Tempayang

Beberapa hari yang lalu temanku baru pulang dari Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Bila sedang musim buah, di daerah ini akan banjir buah-buahan, antara lain durian, elai dan cempedak. Selain buah yang sudah familiar, ada juga buah hutan yang merupakan buah khas Kalimantan. Alhamdulillah, kemarin aku diberi oleh-oleh buah ihau (buah ini pernah kutulis disini) sekresek gede dan sebiji buah asam tempayang.

Asam tempayang ini oleh warga sekitar biasanya disebut buah asam. Kulitnya agak kasar, berwarna kusam kecoklatan (gimana tuh warnanya ๐Ÿ™‚ ). Buah ini wangi seperti kuweni, tapi serat-seratnya jauh lebih kasar. Kulit buah harus diiris agak tebal untuk menghindari getah yang terdapat di kulitnya, jika tidak bibir akan bengkak akibat getahnya. Seperti sekarang… Bibirku jadi kering dan agak pecah-pecah setelah makan buah asam ini 2 hari yang lalu, padahal kurasa aku sudah mengupas kulitnya tebal-tebal. Hmm… madu nggak ada, lip balm-pun tak punya untuk mengolesi bibir supaya tidak terlalu kering… Jadinya pasrah deh, senyum nggak usah lebar-lebar, karena agak terasa nyeri ๐Ÿ˜ฆ Continue reading

Tidak Boleh Dicoba

Akhir-akhir ini FLASHku sering ngadat, timbul tenggelam, connect disconnect gitu. Entah mengapa… Mungkin karena pengguna FLASH di Samarinda semakin meningkat, jadi rebutan jaringan deh… entahlah ๐Ÿ˜ฆ Kondisi Jaringan yang seperti ini yang membuat blogging dan blogwalking kurang maksimal. Banyak blog sahabat yang belum sempat kukunjungi, chongmal mianhaeyo… (maaf banget, Kor). Bahkan kemaren aku sempat mengadu ke Yani, karena nggak bisa upload foto, padahal aku sudah semangat banget tuk memperlihatkan kepiting rebus yang kumasak. Mungkin karena jaringan yang lagi jelek, katanya… dan benar saja, beberapa jam kemudian aku bisa lagi memuat foto di postingan. Alhamdulillah…

Koneksi internet yang jelek juga kualami tadi malam, bikin bete aja. Jadinya kuputuskan untuk ikut rombongan tante-tanteku (ada 3 0rang adik ibuku) ke supermarket karena ingin membeli roti. Supermarketnya ada di mall, jadi sebelum masuk supermarket, ngider dulu sambil cuci mata ๐Ÿ˜€

Saat masuk supermarket, aku hanya mengiringi ย tante-tanteku itu, karena sedang nggak ada yang kuincar. Tiba di konter makanan kecil yang ditimbang, para tante ini sibuk dengan pilihannya masing-masing. Tak jauh dari tempatku berdiri, ada dua orang yang sedang memilih manisan. Sambil memasukkan manisan tersebut ke kantung plastik yang telah disediakan, mereka juga sambil memasukkan manisan ke mulut mereka. Padahal ‘kan ada tulisan “dilarang mencoba” tertempel pada tiap boxnya. Continue reading