#AkuCintaSamarinda

Januari 2014 ini, Kota Samarinda akan berulang tahun yang ke-346. Tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya, kurasakan tak banyak yang berubah dari wajah kotaku. Kecuali adanya peningkatan kemacetan di berbagai ruas jalan, karena sepertinya pemilik kendaraan bermotor semakin meningkat. Oh iya, di Jalan Bhayangkara juga ada perubahan. Bekas gedung sekolahku tercinta, SMA N 1 serta SMP N 1 telah rata dengan tanah. Kedua sekolah tersebut telah dialihkan ke Jalan Kadrie Oening.
Continue reading

November Rain

“Tutup jendelanya! Mau turun hujan.”

Aku mendengar seruan seorang laki-laki dari rumah tetanggaku, kemudian suara seorang perempuan pun menyahut mengiyakan. Rumahku ini memang hanya terbuat dari kayu, sama halnya dengan rumah tetanggaku yang lain. Sehingga percakapan dengan nada biasa kadang bisa terdengar dengan baik, terlebih lagi bila berseru atau berteriak. Pembicaraan orang yang lalu lalang di gang samping rumahku juga terdengar jelas. Continue reading

Sepatu Karet

Aku kehujanan…

Kebasahan…

Tapi untunglah aku telah mengantisipasi…

Sepasang sepatu karet yang takkan terkelupas

Lumayan…

Meskipun sama sekali tak cantik

Insya Allah bisa membantu menghadapi musim hujan ini… 🙂

_______________________

Hmm… diluar baru mulai turun hujan dan aku masih belum mengenali bagaimana bau hujan itu… 😦

 

Banjir Kemarin dan Undangan

“‘Denger2′ dari tivi, dan ‘lihat-lihat’ di radio Samarinda Banjir ya ?”

Itulah bunyi sebuah komen di blog ini dari Adelays. Yups bener banget.

Banjir terjadi lagi pada hari Sabtu kemarin (9/4), di beberapa wilayah di Kota Samarinda.

Aku sebagai salah satu penghuninya sudah merasa terbiasa. Beberapa kawanku di fesbuk meng-update statusnya yang berkaitan dengan masalah banjir, baik itu macet, terjebak banjir, atau daya tahan kendaraannya yang masih bagus saat melintasi banjir. Huhu… aku nggak yakin Si Beib-ku mampu menerobos banjir selutut 😥 Continue reading

Busi Atau Gusi?

Sejak tadi malam hujan turun lumayan lebat di seputaran Kota Samarinda. Sebagian besar warga kota sudah bisa membayangkan di daerah mana saja yang akan terjadi banjir atau genangan air hujan yang cukup tinggi, sehingga daerah-daerah tersebut bisa dihindari bila akan bepergian. Continue reading

Meninggikan Rumah Panggung: Solusi Menghadapi Banjir

Judul postingan yang panjang banget ya?? Non of my favorite thema sih…tapi rada penasaran dikit… 😆

Kota Samarinda yang banyak memiliki sungai, berarti juga banyak memiliki wilayah bantaran sungai yang dijadikan tempat tinggal dan mendirikan rumah panggung. Rumah panggung ini banyak tersebar di Kalimantan, konstruksinya terbuat dari kayu dengan tiang-tiang yang terbuat dari balok kayu ulin. Kayu ulin atau disebut juga kayu besi, merupakan kayu yang paling keras di dunia, wilayah tumbuhnya umumnya di hutan dataran rendah Pulau Kalimantan.

Karena di Kota Samarinda sering terjadi banjir, maka meninggikan rumah merupakan salah satu solusi untuk mengurangi dampak banjir. Ternyata tiang-tiang itulah yang ‘ditambah’ oleh tukang tersebut. Awalnya iseng jalan-jalan ke rumah kakakku, waktu melihat ke rumah sebelah rumahnya, rupanya banyak tukang yang sedang bekerja. Kata kakakku, para tukang itu sedang ‘meninggikan rumah’. Heh?? Meninggikan rumah? Hal yang baru kudengar. Memang rumah tetangga itu merupakan rumah panggung dengan banyak tiang, namun aku tetap penasaran bagaimana sih cara meninggikan rumah itu.

DSC01223

Gambar diatas menunjukkan rumah yang telah ditinggikan ± 1 meter. Karena penasaran, aku pengen bertanya sekaligus wawancara pada salah satu tukang, bagaimana sih cara pengerjaannya. Tapi, oops  😳 para tukangnya sedang hanya mengenakan celana dalam saja… *malu, langsung ngibrit*. Rupanya mereka baru dari kolong rumah yang berair itu (mungkin sayang pakaiannya bisa kotor, jadinya cuma sempakan? ). Untung saja kakakku mengerti caranya, step by step pula, padahal beliau bukan berprofesi sebagai tukang.

Dengan serius kakakku menjelaskan…bla…bla… Yang berhasil kutangkap dari penjelasan itu (maklum susah mudhengnya, lain bidangnya sih…) antara lain seperti ini:

Syarat utama peninggian rumah adalah rumah panggung (ya iyalah…) dengan tiang yang terbuat dari kayu ulin.

Alat-alat serta penggunaannya :

Continue reading