PPK: Perempuan Pencinta Kenangan

“Aku adalah perempuan pencinta kenangan,” ucapku pada seorang sahabat.

Iapun terbahak-bahak, “Berarti susah move-on dong.”

“Bukan itu maksudku, Dear,” sahutku sambil tersenyum. “Aku menyintai kenanganku. Aku menggenggam setiap kenangan dan menyimpannya dengan rapi dalam folder-folder khusus memoriku.”

“Bukankah orang yang selalu memandang ke belakang merupakan orang sulit untuk melangkah ke depan?”

“Sebenarnya bukan seperti itu. Kenangan adalah bagian dari masa lalu. Nah, ibaratnya orang yang naik kendaraan, masa lalu itu menjadi semacam spion. Kau tidak perlu kembali ke waktu dulu, namun kau bisa melirik dan berkaca pada spion itu, sebagai panduan untuk melangkah.”

“Hmm…”

Ah, rupanya sahabat yang dimensinya kurang lebih sama dengan diriku ini berusaha mencermati kalimatku yang mbulet.

“Setiap orang berdiri di atas kenangannya masing-masing,” lanjutku. “Kau pasti pernah mendengar kisah-kisah orang sukses. Rata-rata masa lalu mereka tidaklah mudah. Mereka berpijak pada kenangan akan kehidupan yang tidak nyaman itu. Mereka belajar, lalu mereka berusaha sebaik-baiknya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman dibanding masa lalu.”

“Oo… begitu,” ucap sahabat sambil mengangguk-angguk. “Kalau begitu, aku juga termasuk ‘perempuan pencinta kenangan’ dong, karena aku juga sering belajar dari masa lalu.”

It’s good for you, Dear,” sahutku. “Nah, karena aku adalah ‘perempuan pencinta kenangan’, maka akupun akan membuat sebuah kontes atau giveaway dengan tema kenangan. Tidak mungkin aku membuat sebuah lomba menulis tentang masa depan, karena masa depan itu adalah hal yang absurd.”

“Wah, benar-benar pencinta kenangan ya. Benar banget, tidak ada yang bisa tau bagaimana masa depan,” sahabat tertawa kecil. “Eh tapi, apa tadi? Mau ngadain kontes atau giveaway ya? Horeee!”

Aku tersenyum melihat reaksi sahabat.

“Temanya apa?” tanyanya.

“Seperti yang kubilang tadi, tentang kenangan,” jawabku.

“Tetapi, tentang kenangan yang bagaimana nih?”

“Lihat saja nanti saat peluncurannya,” aku mengedipkan mata kepada sahabat.😉

43 thoughts on “PPK: Perempuan Pencinta Kenangan

  1. temanya “susah move on” yah kakak?..hahahahaha…
    saya mau menyimpan semua kenangan dalam sebuah hardisk external bertera-tera, tapi kalo rusak, trus keformat gimana yah kak?..hehehehe

  2. justru dengan kenangan yang lalu bisa buat inspirasi untuk kedepan + perbaikan untuk kedepan…
    contoh : dulunya tdk serius bljr maka nilainya gak bagus, dari masa lalulah dia jd semangat memperbaikinya….
    kenangan juga bisa memberikan inspirasi🙂 tapi jangan terus terbuai dg kenangan…

  3. kenangan itu perlu lah
    makanya aku bikin blog dan tak pernah aku rubah sedikitpun jurnal lama biarpun kadang empet kalo dibaca sekarang, hehehe.

  4. boleh juga nih Kak Akin, mau bikin GA saja ngasih pembukaan yang bikin kita jadi penasaran. Kenangan ? setiap kita pasti punyalah, dan kenangan terpahitlah yang seringkali menjadi penyemangat dalam langkah ke depan

  5. PPK hmm..singkatan unik..:)
    “Aku menyintai kenanganku. Aku menggenggam setiap kenangan dan menyimpannya dengan rapi dalam folder-folder khusus memoriku.”

    Aduh mbak, baca kalimat ini jd teringat lagi Naskah Buku aq yg di terima di satu penerbit mayor Gramedia Group, yg sdh berbln2 hampr setahun blm terbit jg. Masih menunggu antrian (janjinya 3 bulan krn ada 13 judul akan terbit) dan setiap aku tanya, editornya bilg..waduuhh maaf mbak, di sela-sela terus sama VIP. What?? baru ini aku mengerti kalau ada yg namanya “VIP” ck.. ck.. akhirnya krn kesibukan aku lupa lagi sama naskah itu🙂

    Buku aku mengenai “Berdamai dengan masa lalu” dan kalimat Kaka Akin itu seide dgnku walau aku membahasakannya dgn menyimpannya, spt menyusun di rak-rak buku..🙂

    Salam Kenal dan Salam Maniez dari Bandung,
    Sukses GA-nya yaa

  6. Kenangan. Sebuah dunia yang aneh. Ia, kenangan, bisa datang dari apa saja, dari mana saja, seperti setan. Ia bisa menyentak ketika kita sedang mengaduk minuman. Ia bisa menerabas hanya lewat satu adegan kecil di film yang sedang kita tonton. Ia bisa menyeruak dari sebuah deskripsi novel yang sedang kita baca. Ia bersemayam di mana-mana, di bau parfum orang yang bersimpangan dengan kita, di saat kita sedang termangu di pantai, di saat kita sedang mendengarkan lagu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s