Nokiyah Jaduliyah Sekoniyah

Yang punya hape, berarti orangnya berduit!

Ya, itulah yang tertanam di kepalaku, dulu. Saat aku kuliah di tahun ketiga Akademi Keperawatan, sekitar tahun 2000, dari 60 mahasiswa di kelasku, hanya ada 4 orang yang punya hape. Dua orang bisa punya hape karena disubsidi oleh pacar tajir, yang dua lagi karena mereka adalah pegawai negeri yang sedang melanjutkan pendidikan. Maklum saja, dulu harga handset hape mahal pake bingit! Belum lagi harga kartu perdana dan pulsa yang tidak kira-kira. Bahkan voucher pulsa yang tersedia baru yang nominal Rp 100 ribu. Pokoknya, setiap kali melihat orang yang menenteng hape, aku selalu berpikir pasti orang kaya nih. 😀 Continue reading

Nama dalam Daftar Kontak

Pertama kali punya ponsel dulu, aku sangat suka menambah nama dalam daftar kontak. Nokiyah jaduliah dengan warna ngejreng dan antena menonjol itu dengan bangga kutenteng ke sana ke mari. Maklum saja, waktu itu masih sekitar tahun 2001. Seingatku memori yang bisa menyimpan nomor kontak cuma pada SIM card saja, itu pun terbatas hanya untuk 100 kontak. Saat akan memasukkan nomor baru, nomor yang dirasa tidak penting dihapus terlebih dahulu. 😀 Continue reading

Ah, Aku Malu

Aku teringat dulu pernah ada iklan ponsel di televisi. Saat itu diiklankan ponsel yang bentuknya kecil, sampai-sampai tak terlalu terlihat saat seorang perempuan sedang menelpon, karena tertutup rambut. Laki-laki yang duduk tak jauh darinya merasa ge-er karena mengira perempuan itu sedang tersenyum padanya, padahal si perempuan sedang menelpon orang lain. Continue reading

PPS : Para Pencari Sinyal

“Lagi kerja ya, Kak?” tanya seorang teman melalui jendela obrolan di fesbuk.

Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa saat itu aku sedang di rumah. 🙂

Di tempat kerjaku sangat minim sinyal, boro-boro mau online. Mungkin karena posisi puskesmas yang jauh dari tengah kota dan agak terlindung oleh bukit. Aku kadang kasihan melihat pasien korban kecelakaan lalu lintas yang berusaha menghubungi keluarganya saat berada di UGD. Sudah kesakitan, ditambah lagi berusaha teriak-teriak di ponsel gara-gara suara pembicaraan yang putus-putus. 😀 Continue reading