Terjemahannya di Bawah Ini

Dua orang pria berjalan memasuki ruangan UGD sore tadi. Salah seorang dari mereka sudah cukup familiar bagi kami, petugas puskesmas. Beliau cukup sering datang untuk berobat dengan keluhan yang kurang lebih sama, batuk dan lain-lain. Sebut saja beliau Mbah Misno. Kali ini Mbah Misno datang dengan diantar oleh salah seorang anggota keluarganya. Continue reading

Suntik

Kemarin aku dan rekanku tersenyum oleh ulah seorang pasien. Biasanya pasien yang ingin berobat di UGD tempat kerjaku, langsung kami minta untuk berbaring di bed UGD. Sambil diperiksa tanda-tanda vital (tekanan darah, suhu, denyut nadi, pernapasan), salah seorang rekan akan menanyai tentang keluhannya (anamnesis). Continue reading

You (don’t) know me so well

Pagi itu Suster Nina (anggap saja nama sebenarnya :mrgreen: ) melakukan pemeriksaan pada pasien-pasien yang sedang dirawat inap di bangsal. Saat tiba giliran Pak Tono, Suster Nina yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, serta lembut tutur bahasanya, melakukan pemeriksaan seperti biasa. Tanda-tanda vital pasien diperiksa, pasien ditanya-tanyai keluhannya untuk mengetahui perkembangan kesehatannya. Continue reading

Lagi Kemping

Seumur-umur aku belum pernah pergi kemping. Nah, kali ini aku pergi kemping, tetapi aku kemping bukan di gunung atau hutan, Sodara-sodara! Aku kemping di rumah sakit!

Adik sepupuku yang bekerja di sebuah perusahaan tambang batu bara di daerah Samboja, mengalami kecelakaan kerja hingga harus dioperasi kemarin di RSU setempat. Samboja adalah termasuk dalam wilayah Kab. Kutai Kartanegara. Jaraknya sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Samarinda. Aku sebagai perawat dalam keluargaku, mau tak mau diutus untuk menjaga sepupuku selama di RS. Inilah yang kusebut kemping, hehehe… (Keknya ada yg protes nih 😀 )

Istilah kemping tentu saja nggak tepat, karena aku dan tante (ibunya sepupuku) menginap di RS yang tidak memerlukan tenda. Usai dioperasi, sepupuku dirawat di ICU. Jadinya semalam aku berjaga di samping bed. Bila kemping sesungguhnya akan merasakan kedinginan karena angin malam, sedangkan aku kedinginan karena ruangan ICU yang AC-nya puoll banget, hehe… Sementara tanteku tidur di luar ICU, karena hanya 1 orang yang diperbolehkan menemani pasien.

Alhamdulillah, sejauh ini kami tak kelaparan. Makanan terus berdatangan dari pengunjung. Bisa-bisa badanku tambah melar nih 😀 Yang kelaparan sih sepupuku, karena belum dibolehin makan banyak.

Setelah diobservasi 24 pasca operasi, siang tadi sepupuku dipindahkan dari ICU ke ruang rawat biasa. Aku bersyukur karena aku takkan kedinginan gara-gara AC lagi… Maklum, ndeso tenan :mrgreen:

Berada jauh dari kota yang ramai, membuatku jenuh juga. Saat kita memerlukan suatu barang, belum tentu tersedia di sekitar RS. Daerah Samboja ini termasuk sepi, menurutku.

Yang lebih menyedihkan, tadi saat aku mengambil obat di apotik, ada obat yang harus dibeli diluar. Menurut pegawai apotik, obat itu bisa tersedia di Kota Balikpapan, yang jarak tempuhnya sekitar 1 jam perjalanan. Owemji, tak ada yang bisa nolongin tuk pergi ke Balikpapan. Ya sudahlah, kuberi tahu saja perawat jaga bahwa aku tak bisa memperoleh obat tersebut. Syukurnya, obat itu bukan komponen utama pengobatan seperti antibiotik.

Hmm.. Rasanya jariku sudah cukup keriting karena ngetik di hape. Sekian dulu postingan ini. Mohon maaf, karena aku belum
1. Berkunjung ke blog Sahabat
2. Membalas komeng yang masuk ke blogku
3. Memuat link sahabat yang ingin bertukar link denganku.

Permisi ya… Aku mau melanjutkan kempingku dulu. Sepertinya masih beberapa hari lagi aku bakal berada disini. Hmm.. Mana persediaan pakaian sudah menipis lagi. Apakah aku mesti mencuci pakaian dan menjemurnya bersama jemuran orang lain? Lah gimana kalo ntar pakaianku ketukar? 😦

Hmm…

Kabur

Ia memacu truknya secepat mungkin. Entah berapa puluh kilometer jalan yang telah dilewatinya. Pikirannya hanya satu, pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Ia tak ingin diberhentikan dari pekerjaannya karena suatu kesalahan yang tidak dilakukannya. Bukan ia yang menyebabkan kejadian itu. Orang itulah yang bersalah. Continue reading