[photofiction] Undangan

Undangan“Aku cinta kamu, Mas,” Antika menatap lembut lelakinya di sebuah cafe.

“Iya, aku tahu itu,” sahut Airlangga.

“Apakah kau juga cinta padaku?”

“Haruskah dipertanyakan lagi?”

“Aku bahagia, karena kau ada di depanku saat ini, Mas,” Antika lalu menggenggam tangan kekasihnya di atas meja.

Airlangga merasakan genggaman erat Antika. Iapun mengurungkan niat merogoh tasnya untuk mengambil sebuah amplop berisi undangan, yang bertuliskan namanya dan nama seorang wanita lain.