Belajar dari Lansia

Tak alang-alang, aku tinggal bersama tiga orang lansia (lanjut usia)! Mereka adalah emakku yang  berusia 72 tahun, serta dua orang adik beliau, pamanku yang berusia 70 tahun dan tanteku yang berusia 66 tahun. Saudara emak ini sudah bertahun-tahun tinggal bersama kami. Waktu sebelum menikah, aku yang menjadi pendamping mereka di rumah. Kini ada Pak Suami yang menemaniku menjaga mereka, walaupun sebenarnya mereka tidak butuh dijaga. 😀 Continue reading

Emak-emak Semakin Eksis dengan Notebook Tipis

Salah seorang kawanku, beberapa waktu lalu didiagnosis menderita skoliosis, atau kelaianan susunan tulang belakang yang berbentuk seperti huruf “S”. Apa pasal? Kawanku adalah seorang emak-emak yang aktif. Dia sedang melanjutkan jenjang pendidikannya di sebuah universitas. Dengan seabreg tugas kuliah, dia pun harus membawa beban yang cukup berat dengan hanya menggunakan sebuah tas cangklong. Lambat laun, tanpa disadari bahunya jadi miring. Hal ini terlihat jelas oleh orang lain yang berada di belakangnya. Belum lagi keluhan-keluhan nyeri pada tulang belakang yang kerap menghampiri. Kemudian dia disarankan oleh dokter untuk (jika memang harus) membawa beban dengan posisi yang seimbang di bahu kiri dan kanan dengan menggunakan ransel (backpack). Continue reading

Giveaway Senangnya hatiku: Rejeki Tak Kemana

Frase “rejeki tak kemana” mungkin kurang lengkap, karena agak rancu. Namun memang kalimat itulah yang cukup sering terdengar diucapkan orang banyak. Menurutku, bila ditulis secara utuh, frase itu akan seperti ini, “bila memang sudah rejeki, maka tak akan lari ke mana-mana”. Bila memang sesuatu itu adalah rejeki yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk kita, maka insya Allah cepat atau lambat kita akan mendapatkannya, seperti halnya sebuah pengalaman sederhana yang pernah kualami beberapa tahun yang lalu. Continue reading

Tidak Takut Miskin (Juga)

Dari sekian banyak tulisan yang kita baca setiap kali blogwalking, tentu ada beberapa yang begitu melekat di hati dan pikiran. Lalu, bila ditanya tulisan mana yang paling berkesan dari blog Mbak Erry, maka yang paling kuingat adalah 2 buah tulisannya. Bagiku, kedua tulisan ini terasa berbeda. Bila biasanya aku akan tertawa, atau minimal senyam-senyum saat membaca tulisan Mbak Erry, maka saat membaca kedua tulisan ini aku mewek. Layar monitorku terlihat kabur, karena ternyata pandanganku terhalang oleh genangan di pelupuk mata. Continue reading