Nokiyah Jaduliyah Sekoniyah

Yang punya hape, berarti orangnya berduit!

Ya, itulah yang tertanam di kepalaku, dulu. Saat aku kuliah di tahun ketiga Akademi Keperawatan, sekitar tahun 2000, dari 60 mahasiswa di kelasku, hanya ada 4 orang yang punya hape. Dua orang bisa punya hape karena disubsidi oleh pacar tajir, yang dua lagi karena mereka adalah pegawai negeri yang sedang melanjutkan pendidikan. Maklum saja, dulu harga handset hape mahal pake bingit! Belum lagi harga kartu perdana dan pulsa yang tidak kira-kira. Bahkan voucher pulsa yang tersedia baru yang nominal Rp 100 ribu. Pokoknya, setiap kali melihat orang yang menenteng hape, aku selalu berpikir pasti orang kaya nih.😀

Sumber Gambar

Saat mulai bekerja sebagai pegawai honorer di kampus di awal tahun 2001, aku masih merasa tak mungkin bisa punya hape. Gajiku ‘hanya’ sebesar Rp 181.500 per bulan, dan itupun dibayarkan per 3 bulan. Setelah beberapa bulan bekerja, ada salah seorang teman yang menawarkan hape-nya padaku. Sebuah Nokia 5110 dengan warna casing hijau seingatku ditawarkan dengan harga Rp 500.000. Aku tak mengerti, apakah itu murah atau mahal. Setelah menimbang-nimbang bahwa aku tak mungkin bisa membeli yang baru, dan kebetulan gaji per 3 bulananku juga cair, kuambillah hape itu dengan sukacita.

Sudah punya hape, ternyata muncul permasalahan selanjutnya, yaitu aku harus membeli kartu perdana. Hanya ada 2 pilihan, si merah dan si kuning. Dulu, si merah Kokomsel harus melewati daftar tunggu dan harganya juga cukup mahal. Aku  mendapat informasi dari salah seorang rekan kerja bahwa dia membayar sekitar Rp 500.000 untuk membeli perdana, dan itu pun harus menunggu cukup lama. Karena aku sudah tak sabar ingin menggunakan hape baruku, pilihanku jatuh pada si kuning In****t yang tak perlu menunggu lama untuk mendapatkannya, namun tetap saja harganya juga lumayan, sekitar Rp 350.000. Jika dibandingkan dengan harga kartu perdana di masa sekarang yang murah meriah, bahkan hanya seharga Rp 2.000.

Menimang-nimang si Nokia 5110 second, memang terasa besar dalam genggaman. Namun terasa mantap, karena dibeli dengan gaji sendiri. Antenyanya yang menonjol saat ditaruh di saku itu merupakan salah satu tanda, atau pemberitahuan ke orang lain bahwa kita juga punya hape. Yeay!😀

Punya hape itu rasanya seperti … keren, pastinya. Aku merasakan adanya perubahan pada pola kebiasaan, akibat dari adaptasi teknoligi. Dengan bodi gendutnya Nokia 5110, aku bisa gaul, saling bertukar nomor hape dengan orang lain, dan komunikasi menjadi semakin lancar. Aku bisa mengabari emak di rumah tentang keberadaannku, aku bisa menyapa teman tanpa bertemu langsung, aku bisa memencet kalkulator tanpa menggunakan kalkulator, dan satu lagi, aku bisa main game Snake!😀

Lalu, apakah setelah mulai punya hape aku jadi merasa seperti orang kaya? Tentu saja tidak. Karena saat aku mampu membeli si Nokiyah Jaduliyah Sekoniyah itu, pengguna hape di kotaku sudah semakin marak. Saat aku bisa membeli hape bekas, orang lain sudah banyak yang mampu membeli hape yang masih baru dan bentuknya lebih langsing dan imut. Dahulu memang semakin kecil hape, maka dianggap lebih keren. Bahkan (seingatku) saat aku masih menggenggam Nokia 5110, sudah muncul iklan hape Nokia imut di televisi, dan salah satu bagian iklannya menunjukkan si Nokia gendut dicemplungkan ke dalam mangkuk sup karena pemiliknya malu punya hape besar. Padahal di era smartphone sekarang ini, hape sudah semakin lebar saja dan bahkan ada yang hampir tak muat dimasukkan ke dalam saku.

Yang aku suka dari hape jadulku adalah casing-nya yang bisa kuganti-ganti dengan mudah. Saat bosan dengan hijau, aku bisa menggantinya dengan warna kuning, atau merah. Tak ketinggalan gantungan hape yang juga beraneka macam. Aku pernah membeli gantungan hape yang terbuat dari semacam manik bertuliskan huruf dan dirangkai sesuai nama yang kita inginkan.

Lebih dari setahun kemudian, saat gajiku sudah naik sedikit, aku memberanikan diri membeli Nokia 3110 yang lebih slim dibanding Nokia 5110. Beli baru, pastinya. Sedangkan si Nokiyah Jaduliyah kuhibahkan pada sanak famili yang belum punya hape. Entah di mana sekarang rimbanya si Nokia gendut itu. Yang jelas hape pertamaku itu penuh sejarah. Seperti kata pepatah, “Yang pertama biasanya takkan terlupa.”

24 thoughts on “Nokiyah Jaduliyah Sekoniyah

  1. bah jadi inget hape pertama Siemens C35, mahal bingits 1 jutaan, kartu perdana plus pulsa 500 ribu, dipake tak berapa lama pulsa sisa 250 ribu hapenya hilang, jatuhentah di mana!
    *nangis di pojokan

  2. HP pertamaku bukan Nokia, kayaknya Siemens dengan temannya si merah yang beli perdananya mahalnya ga ketulungan, nasibnya berakhir tragis, hilang.
    sukses di GA-nya,

  3. judulnya aja bikin ngakak! khas kaka akin bingiiiitsss😀 ;D ;D
    btw, itu kartu perdana kokomsel emang mihil. dulu papaku beli 500 apa 750rb gitu ya.. kotaknya bagus, ga kaya kskrg ga ada kotaknya ;D

    makasih ya mbak udah ikutan GA-ku :))))

  4. 😛 Iya jadi ingat dulu waktu pake Hape Nokia jadul itu😉
    tapi saya pertama pake hape th 1998 yaitu hape type C25 – lupa merknya, namun bukan merk Nokia.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s