Sebuah Pengumuman Pernikahan

Salah satu momen terbaik dalam hidupku di tahun 2014 ini adalah pernikahanku pada Juni lalu. Sesuatu yang sangat membahagiakan, mestinya bisa segera di-share di blog. Namun ternyata aku tidak segera melakukannya kala itu. Tanggal pernikahanku adalah 21 Juni 2014 dan resepsinya adalah keesokan harinya, sedangkan postingan yang bertuliskan berita bahagiaku itu baru ku-publish pada tanggal 29 Juni 2014 dengan judul “Raja dan Ratu Sehari“. Itu artinya lebih dari sepekan berlalu, barulah aku membuat pengumuman tentang pernikahanku di blog.

Hal spesial mengenai postingan Raja dan Ratu Sehari itu bukan cuma mengenai isi tulisannya, namun sebenarnya tulisan itu kutulis dalam kegalauan. Begini … selama ini aku merasa over exposed, hampir semua sisi kehidupanku kubeberkan di blog. Memang sih tidak semuanya, tapi cukup banyak hal tentangku yang kubagi pada orang lain. Setelah memasuki jenjang pernikahan, aku terbentur pada pemikiran “apakah bijak bila aku membagi kisah tentang keluargaku kepada orang lain?”, “Bagaimana tanggapan Pak Suami bila aku menulis sesuatu tentangnya dan dibaca sekian banyak orang?” dan ada lagi pemikiran lainnya.

Setelah dirundung galau, akhirnya aku memutuskan menuliskan sedikit cerita tentang proses pernikahanku. Ya, memang hanya sedikit. Lagi pula ditulis dalam keadaan terburu-buru, karena enggan menghabiskan waktu terlalu lama di depan lappy. Inilah perasaan yang belakangan kerap menghinggapiku, aku merasa tidak nyaman berlama-lama di depan lappy. Khawatir Pak Suami merasa terabaikan. Entah bagaimana blogger lain yang juga baru memasuki dunia pernikahan ya? Apakah punya perasaan yang sama sepertiku? Hmm…

Cincin kawin

Postingan akan terasa kosong bila tanpa disertai gambar. Lagi-lagi aku mengalami kegalauan saat memilih foto apa yang akan kupajang sebagai pelengkap tulisan “Raja dan Ratu Sehari”. Akhirnya aku memutuskan untuk memasang foto jemariku dengan cincin belah rotan tersemat pada si jari manis. Loh, kok bukan foto wedding yang dipajang? Terkait dengan perasaan overexposed tadi, aku memilih foto yang netral. Bukan bermaksud menyembunyikan wajah Pak Suami, hanya karena aku terbentur dengan berbagai pemikiranku di atas.

Belakangan barulah aku menyadari bahwa mungkin saja kekhawatiranku agak berlebihan. Padahal kan tidak ada salahnya memajang foto pernikahan di blog, atau menuliskan sesuatu yang melibatkan Pak Suami di dalamnya, asalkan kita tidak merendahan martabat suami atau membeberkan aibnya. Karenanya, aku kemudian sesekali membuat tulisan yang membawa-bawa Pak Suami, dan aku juga memajang foto kami berdua pada salah satu postingan di blog.

“Postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”

13 thoughts on “Sebuah Pengumuman Pernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s