Kisah Si Fulan yang Baru Pulang Berhaji

Kali ini aku akan bercerita tentang Si Fulan yang baru pulang berhaji. Awalnya banyak orang yang terkaget-kaget saat mendengar kabar bahwa dia akan menunaikan rukun Islam kelima itu. Pujian terlontar untuknya, pun gunjingan tak sedikit di belakangnya. Hingga usai 25 hari dia berada di Saudi Arabia, tak usai jua komentar orang-orang yang merasa lebih hebat dibanding juri-juri di Pildacil.

“Naik haji itu kan rukun Islam kelima. Dia harus bertahap dong. Kok langsung loncat ke nomor lima,” ucap seseorang.

“He-eh, sholatnya tuh mesti dibenerin dulu,” timpal yang lainnya.

“Sholat aja nggak, eh, udah naik haji aja,” sahut yang lainnya lagi.

Si Fulan tak memedulikan ucapan orang. Dia hanya tahu satu hal yang pasti, bahwa namanya ada dalam daftar jaamaah haji Indonesia tahun 1435 H.

Singkat cerita, Si Fulan tiba di tanah air. Tak ada pesta penyambutan yang meriah, tak ada gerbang bertuliskan ucapan “Selamat Datang dari Tanah Suci“, cukup segelintir sanak saudara. Ramai orang berkunjung ke rumah Si Fulan, entah demi kacang arab atau pistachios si kacang ketawa. Atau mungkin demi mendengar bagaimana penderitaan Si Fulan saat berada di Arab sana.

“Apa yang kita dapatkan di sana (Tanah Suci) adalah gambaran dari bagaimana perilaku kita di tanah air ….” Demikian ucapan yang menyebar dari mulut ke mulut.

“Makanya, sebelum berangkat haji, kita harusnya tobat dulu ….” Ini ucapan yang lain lagi.

Dan ya, orang-orang yang mengunjungi Si Fulan mendengarkan kisahnya saat naik haji. Dan yang terjadi adalah, orang-orang terpukau. Bukan oleh kisah-kisah khusyuknya ibadah Si Fulan, namun oleh pengakuannya dan kesadarannya akan kebesaran Allah. Berulang kali ia mengalami kejadian-kejadian yang mungkin merupakan hukuman baginya.

“Memang Allah itu Yang Mahapengatur atas segalanya,” ucap Si Fulan, diiringi oleh anggukan para tamunya. Detik itu juga di hati para tamu menggema ucap syukur dan bait doa.

“Alhamdulillah … Si Fulan sudah insyaf. Semoga dia menjadi haji yang mabrur ….”

Satu cerita Si Fulan yang membuat para tamunya  tersenyum-senyum, yaitu saat ia melontar jumroh.

“Kepalaku kena timpuk batu. Tau sendiri kan bagaimana emosionalnya orang saat melontar jumroh. Tetapi bagus juga sih kepalaku kena batu, supaya ….”

Ehm, kira-kira apa ya lanjutan ucapan Si Fulan? Supaya apa ya? Pastinya ada kaitannya dengan makna rukun haji melontar jumroh itu sendiri.

Sila ditebak ya. Insya Allah akan ada pulsa Rp 10.000 buat 5 orang yang jawabannya benar atau setidaknya mendekati benar. Jangan lupa jawabannya dikirim lewat email kakaakin@gmail.com.

Waktu kuisnya sampai hari Rabu, tanggal 5 November 2014.

Insya Allah pengumumannya akan dilakukan pada hari yang sama di blog ini juga.😀

Sumber gambar

10 thoughts on “Kisah Si Fulan yang Baru Pulang Berhaji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s