Rewang

Kata “rewang” berasal dari bahasa Jawa yang menurut pemahamanku selama ini artinya adalah membantu tetangga atau saudara yang sedang mengadakan hajatan. Biasanya yang dibantu adalah bagian dapur, mengingat kegiatan menyediakan makanan untuk hajatan itu memerlukan banyak tangan. Ada yang mengupas-ngupas, memotong-motong, memasak-masak, dan sebagainya. Bayangkan saja betapa repotnya tuan rumah bila harus melakukan semuanya sendiri.

Di kampungku yang sebagian besar warganya bersuku bugis, memiliki istilah “ma’dawa-dawa” yang bermakna sama dengan rewang. Saat suatu keluarga akan menikahkan anaknya, beberapa hari sebelum hari H para tetangga sudah berdatangan untuk membantu di dapur. Biasanya acara pernikahan didahului dengan acara penyerta seperti khatam Al-Qur’an, Mappacci (bainai), Mangalisi (mencukur sebagian alis), yang dilaksanakan dalam 2 atau 3 hari sebelum pernikahan. Jadi kegiatan ma’dawa-dawa bisa berlangsung selama sepekan karena banyak yang harus dipersiapkan. Dulu malah sampai membuat kue kering juga.

Kini telah ramai orang menggunakan jasa katering dalam menyelenggarakan hajatan. Namun tetap saja ma’dawa-dawa tak bisa tertinggal, karena memang biasanya hanya acara utamanya saja seperti saat resepsi atau akad nikah yang menggunakan jasa katering. Lagi pula, tetangga cenderung tak dapat dibendung semangat ingin menolongnya. Mereka bela-belain datang dan meninggalkan keluarganya (untuk sementara), lalu bergelut dengan asap, uap dan bau bumbu.

Rewang

Semangat tolong-menolong memang menjadi ciri khas masyarakat kita. Hanya saja, ada satu hal yang kusayangkan, saat ibu-ibu berkumpul, maka ajang pergosipan juga dimulai. Mulai dari para selebriti, hingga tetangga sendiri menjadi topik pembicaraan. Hal inilah yang sulit untuk dihindari.

Namun sebaiknya kita memang tak lepas dari do’a, semoga acara yang kita selenggarakan mendapatkan ridho dari Allah Ta’ala, dan semoga diberi kelancaran. Aamiin ….

Bagaimana dengan di daerahmu, Sahabat? Apakah “rewang” masih membudaya?

It’s tomorrow!

19 thoughts on “Rewang

  1. Masih, kak… dikampungku tradisi rewang ini masih berjalan.
    dan inilah keindahan negara kita, gotong royong masih ada, saling membantu, tua muda, kaya miskin, tetep ikutan rewang klo ada hajatan.

    Tp rewang jg bisa jd ajang bergosip ibu2..hihi

  2. masih kak,bahkan di Siak Riaupun namanya rewang lo hehehe…..rame banget,seru aja jadinya hehe….kalo dah rewang siap2 aja deh bisa menikmati masakan mbah2 kayak blendrang gitu hehehe……….semoga acaranya lancar ya kak🙂

  3. Di seputaran rumah saya sekarang … hal ini (hampir) sudah tidak ada lagi …
    karena jasa katering … (wedding) event organizer dan sebagainya membuat semuanya jadi mencari praktisnya saja …

    kadang saya merindukan kehangatan gotong royong seperti ini Kak

    Salam saya Kak

    (20/6 : 1)

  4. Iyaa mba.,,daerah sini pantura masih kental aja tradisi rewang pas ada tetangga hajatan baik mantu, khitannan, melahirkan dsb. Senengnya bisa guyub dengan banyak orang🙂

  5. dikampungku tradisi ini masih terjaga, tradisi katering belum menyentuh kampung, semoga terus tetap terjaga.
    *Semoga semua lancar sampai selesai, bantu rewang do’a dari jauh🙂

  6. Di tempat saya rewang juga masih membudaya: ibu-ibu dan remaja putri di dapur, bapak-bapak dan remaja putra di ruang tamu dan halaman rumah. Apa saja yang tampak belum beres langsung diberesin dah… secara bersama.

  7. thanks sob untuk postingannya…
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu…
    salam kenal yach…
    kunjungi blog saya ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s