Tour (Nekad) de Jatim – Bali

PENGEN LIBURAN!

Selasa, 3 Desember 2013 (LINE)

Akin: Liburan yuuk

Kawan: Gak ada duit, haha

Akin: Aku lagi pengen plesiran
Akin: tabungan sih menipis
Akin: mana mesti nyiapin duit buat semesteran
(emo lemes)
Akin: Tapi pengen jalan-jalan!

Kawan: Bayarin aku

Akin: Huhu ….

Minggu, 8 Desember 2013 (LINE)

Akin: Pengen ke Surabaya (Saat itu aku sedang membuka situs penjualan tiket online dan melakukan pemesanan)

Kawan: Ngapain?

Akin: Ehm, pengen ke Banyuwangi, trus nyebrang ke Bali

Kawan: Kapan?

Akin: Selasa besok (lalu aku ke ATM untuk melakukan pembayaran tiket)

Itu adalah potongan percakapanku dengan seorang kawan lebih dari 2 pekan yang lalu. Saat muncul hasrat ingin jalan-jalan, perasaan itu seperti tak terbendung. Resah, gelisah. Seperti ada yang mengganjal di hati. Terakhir kali aku melakukan perjalanan tahun ini adalah saat ke Jakarta, Juli lalu. Hanya beberapa bulan saja, rasanya seperti telah bertahun-tahun aku tidak bepergian.

Tujuan utamaku sebenarnya adalah Bali. Maklum saja, sudah umur segini, aku belum pernah sekalipun ke Pulau Dewata. Sayangnya harga tiket pesawat Balikpapan-Denpasar pada Bulan Desember ini berkisar di angka Rp 1 juta, oneway. Belum lagi tiket baliknya, biaya perjalanan dari kotaku, Samarinda, menuju Balikpapan pulang-pergi, biaya akomodasi, makan, oleh-oleh, dll. Sehingga (dalam tempo yang sesingkat-singkatnya), sekitar Minggu malam aku memilih alternatif kedua, yaitu perjalanan lewat Banyuwangi untuk kemudian menyeberang ke Denpasar dengan moda transportasi bus. Yang kulakukan terlebih dahulu adalah membeli tiket pesawat Balikpapan-Surabaya PP, dan Denpasar-Surabaya.

SIAP-SIAP NGEBOLANG, BACKPACKING

Hatiku bersorak saat memutuskan pilihan alternatif kedua itu. Tak ada lagi yang namanya tujuan utama dalam perjalanan, yang mana artinya semua tujuan bernilai sama bagiku. Sebagai seorang blogger, yang sesekali menjadi traveller, kota yang kita tuju bukan hanya menjadi tempat untuk jalan-jalan, tetapi juga menjadi ajang kopdar dengan rekan blogger. Setelah mengabari kawan-kawan yang tinggal di kota yang akan kutuju, dan menanyakan jalur transportasi serta waktu yang harus kutempuh, akupun mantab mempersiapkan perjalanan. Sepatu yang nyaman, backpack kuning, setumpuk pakaian untuk 5 hari, aku sudah siap untuk backpacker-an

wpid-IMG_20131210_212540.jpgYa, aku bepergian seorang diri. Cukup nekad, bukan? Bismillah dan tak ketinggalan mohon doa restu dari orangtua. Setelah mencium tangan emak, aku bertolak dari rumah ke Bandara Sepinggan, Balikpapan.Tiba di Bandara Juanda, Sidoarjo, pada Selasa pukul 11.00 WIB, aku dijemput oleh familiku, Mbak Dian. Tak ketinggalan kopdar dengan 2 orang rekan blogger Sidoarjo di malam harinya.

Keesokan paginya aku bersiap melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. Mbakku mengantarkanku sampai terminal Purabaya, Surabaya. Ada yang bilang waktu tempuh ke Banyuwangi sekitar 7-8 jam. Wow, itu cukup lama. Namun aku berusaha menepis pikiran itu, dan membuat perjalananku bisa senyaman mungkin. Tak ketinggalan, “cemilan limangewuan“, lumayan buat teman di perjalanan.😀

Camilan LimangeuanCemilan limangewuan😀

Mengapa aku memilih moda angkutan bus? Mengapa bukan kereta saja? Kereta memang lebih nyaman, namun aku sangat menikmati perjalanan dengan bus, karena lebih banyak pemandangan yang bisa disaksikan. Mulai dari persawahan, sampai perkotaan. Lagi pula, bus bisa turun di mana saja, misalnya di hatimu di perempatan jalan di mana seorang sahabat sudah menunggu untuk menjemput kita. Bukankah itu menyenangkan?😀

???????????????????????????????Glenmore adalah tempat yang kutuju di Banyuwangi. Kang Sofyan bertempat tinggal di perkebunan yang ada di wilayah ini. Setelah sebelumnya hanya dapat berinteraksi dengannya melalui dunia maya, atau telpon dan SMS, aku ingin meningkatkan persahabatan kami dengan sebuah perjumpaan yang biasa disebut kopdar. Karena aku melewatkan acara pernikahan Kang Sofyan, jadinya aku sempat berharap agar bisa ke Banyuwangi setelah istrinya melahirkan. Alhamdulillah, ternyata harapanku terwujud.

Aku belum puas menikmati Glenmore, dan sama sekali belum mencicipi Banyuwangi, namun aku sudah harus bertolak ke Denpasar pada Kamis siang. Setelah beberapa waktu menunggu di halte, akhirnya bus jurusan Jember-Denpasar pun tiba. Aku menyongsong bus sambil berlari di bawah hujan. Aku harus membayar sejumlah Rp 75.000 untuk bus AC dan ada toiletnya.

???????????????????????????????Hujan di luar sana

Matahari sudah terbenam saat bus mulai merangkak ke dalam kapal fery di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Saat di kapal, aku keluar bus untuk menikmati pemandangan sambil menyantap nasi bungkus yang kubeli di pelabuhan. Kulihat banyak juga penumpang lain yang membuka bekalnya.

???????????????????????????????Nasi bungkus dengan sepotong ayam yang ukurannya sebesar ruas jari😀

Aku sangat suka berada di atas kapal. Menikmati semilir angin, sambil menyaksikan pelabuhan Ketapang yang semakin terlihat jauh. Lalu melangkah ke sisi satunya untuk menyaksikan kerlip lampu tepian Bali, di Gilimanuk.

???????????????????????????????Di seberang sana Bali, Cyiiin! *norak😀

Beberapa kawan berpesan agar aku berhati-hati selama perjalanan dan tidak terlalu menunjukkan gadget. Namun rasanya tak tahan untuk mengambil gambar hal-hal yang membuatku tertarik. Aku juga membuka obrolan dengan seorang bapak-bapak yang mengenakan seragam yang bertulisakan nama bus yang kunaiki.

???????????????????????????????Supir bus AKAS

Ternyata beliau adalah supir bus dan pernah tinggal di Samarinda, namun hanya sekitar 6 bulan. Bagi beliau, meskipun gaji besar di kampung orang, masih lebih nyaman di kampung sendiri, meski seadanya. Beliau menyarankan agar aku duduk di samping supir, agar bisa beliau antar sampai terminal Ubung, Bali. Sedangkan penumpang lain harus turun di terminal Mengwi yang cukup jauh dari pusat kota.

SELAMAT DATANG DI BALI!!!

Memasuki Pulau Bali ternyata harus melalui pemeriksaan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Di pelabuhan Gilimanuk, semua penumpang wajib turun dari bus dan melewati pos pemeriksaan. Setelah berjalan beberapa meter, baru kemudian naik bus. Hal ini penting diketahui oleh siapa saja yang berniat berwisata ke Bali melalui jalur darat, agar tak lupa membawa kartu identitasnya.

???????????????????????????????Jangan lupa, siapkan KTP

Bus kemudian melaju ke arah Denpasar. Aku tak berharap bisa lekas sampai di tujuan, karena aku tahu bahwa perjalananku masih panjang. Aku hanya perlu menikmati suguhan di kanan kiri jalan, perkampungan Bali, warga yang berjalan beriringan dengan memakai pakaian adat, dan yang paling menarik adalah pepohonan yang tersusun rapi sehingga menyerupai terowongan. Jarak antara pelabuhan Gilimanuk ke Denpasar masih memakan waktu beberapa jam. Belum lagi pada beberapa bagian perjalanan, bus melambat karena kendaraan yang cukup padat akibat adanya pembangunan jalan tol. Sementara itu gerimis menghiasi kaca bus.

???????????????????????????????Bus melambat ….

Alhamdulillah, akhirnya tiba juga di terminal Ubung, lewat tengah malam. Aku lalu naik taksi menuju alamat rumah kos-kosan yang telah disediakan Ari dan Arina. Pasangan suami istri itu memang ‘kupaksa’ agar memberi servis terbaik bila aku tiba di Bali. Sebuah sepeda motor pun telah dipersiapkan untuk kupakai. (Haha … maaf ya, begitu merepotkan kalian)😀

???????????????????????????????Servis plus cemilan😀

???????????????????????????????Siap menjadi guide untuk tamu spesial pake telor dari Samarinda

Jum’at pagi, Ari dan Arina menjemputku untuk sarapan. Setelah itu kami ke rumah Gandhi, karena kami akan ke Bedugul dengan naik sepeda motor. Gandhi menjadi ojek sementara. Ternyata Bedugul itu sangat jauh. Jalannya menanjak dan meliuk-liuk. Kami harus bersaing dengan bus-bus pariwisata yang knalpotnya tepat di depan kami. Pemandangan di sepanjang jalan yang kuperhatikan adalah banyaknya rumah makan dengan menu “Babi Guling”. Akhirnya kami tiba di Kebun Raya Bali. Tempatnya sangat asri, dengan tanaman bunga di sana-sini. Tak ketinggalan patung-patung pewayangan yang menjadi ciri khas Pulau Dewata.

???????????????????????????????Sereman akulah …😀

Sayangnya gerimis. Kami lalu keluar dari Kebun Raya Bali, menuju ke danau Beratan yang tak jauh dari kebun raya. Sementara Ari dan Gandhi sholat Jum’at, aku dan Arina berteduh karena hujan yang semakin deras. Kunjungan ke Bedugul tidak dapat maksimal. Pemandangan danau juga tak dapat ditangkap dengan jelas oleh kamera, karena kabut.

??????????Brrr …. Dingiiin …

Setelah hujan agak reda sedikit, kami memutuskan untuk balik ke Denpasar. Di tengah jalan, hujan kembali melebat. Ari dan Arina mengenakan mantel, sedangkan Gandhi meminjamiku atasan jas hujannya, sehingga kami berbasah-basah ria. Setibanya di bawah (kota), ternyata hujan belum turun dan cuacanya cukup hangat.

LOST IN BALI

Setelah mengantar Gandhi ke rumahnya, Ari menyarankan agar kami pulang saja dulu. Baru setelah itu kami merencanakan acara selanjutnya. Ari dan Arina berada di sepeda motor di depanku. Aku mengiringi dari belakang dengan keyakinan bahwa aku tak akan mungkin ketinggalan. Namun tiba-tiba ada mobil yang menyalip, aku lalu kehilangan mereka. Aku terus saja menjalankan motor, hingga aku menepi dan menyerah pada kondisi bahwa aku telah tersesat. Setelah berulang kali menelpon Ari, dan sebaliknya, barulah aku ditemukan olehnya. Aku menyalahkan jalan di Denpasar yang kebanyakan satu jalur sehingga cukup membingungkan. *alasan😀

KOPDAR DI BALI

Akhirnya bisa juga ketemu Hanila Pendar Bintang, beserta Mas Husni. Yang namanya blogger, kopdar is a must😀 Senang sekali saat berbincang-bincang bersama kedua suami istri itu, serta Ari dan Gandhi. Kopdar di Pizza Hut, namun tanpa makan-makan, hanya minum saja. Bahkan setelah minuman kami habis, percakapan masih terus berlanjut.

???????????????????????????????Similar smile😀

Memang tak salah bila Tour (nekad) de Jatim – Bali ini kuanggap sebagai perjalanan yang paling memorable, karena banyak kejadian yang kualami. Selain perjalanan seru ke Bedugul yang disertai jujan, untung saja bukan angin puting beliung seperti hari seelumnya. Kemudian kejadian aku tersesat di Denpasar. Dan ada satu lagi, yaitu KENA TILANG!

???????????????????????????????Wani piro? Hehe ….

PANTAI, I’M COMING!

???????????????????????????????Sayang sekali, tak terlihat sunrise, karena tertutup awan

Sabtu pagi Ari mengajak ke pantai Sanur untuk melihat matahari terbit. Sayannya mendung. Akhirnya aku, Ari dan Arina berfoto-foto iseng.

???????????????????????????????Matahari terbit di sebelah sana!😀

???????????????????????????????Ah, rupanya matahari masih malu-malu padaku😀

Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Serangan yang cukup sepi. Di kejauhan terlihat beberapa orang berselancar. Arina tak sabar untuk segera mengambil pasir di pantai itu, yang ternyata butirannya berukuran lebih besar dibanding pasir pantai yang pernah kulihat. Ternyata Arina adalah crafter sejati. Pasir pantai itu rencananya akan dipakai sebagai hiasan pada kotak-kotak souvenir buatannya yang biasanya untuk memenuhi pesanan.

???????????????????????????????Pantainya bersih, pasirnya putih dan ombaknya lumayan. Mari kita berenaaaaang:mrgreen:

Pesawatku dari Denpasar menuju Surabaya adalah pukul 13.50 WITA. Dengan membawa pakaian basah bekas berenang, ranselku terasa sedikit lebih berat. Ari mengantarku ke bandara. Subhanallah, tol yang kulewati begitu keren. Kata Ari lebih cantik lagi saat air pasang. Saat tiba di Bandara Ngurah Rai, aku lebih terkagum-kagum lagi melihat bandara yang demikian megah, meski pembangunannya masih dalam proses. Setelah terbang ke Surabaya, aku menunggu beberapa jam untuk keberangkatan pesawatku dari Surabaya ke Balikpapan.

Alhamdulillah, aku tiba di rumah sekitar pukul 12 malam. Awalnya kukira badanku akan terasa sangat pegal karena perjalanan jauh yang telah kutempuh. Ternyata tidak terlalu. Mungkin karena perjalananku sangat menyenangkan. Banyak kisah yang diukir, ada pula pelajaran baru yang dipetik. Seru!

“Bawaannya segini aja?” tanya seorang kawan.

Si Kuning

“He-eh,” sahutku. Namanya juga backpacking:mrgreen:

my backpack

Semalam aku memeriksa telapak kakiku. Ternyata benar-benar ada sebuah tahi lalat. Aku terkekeh.

Emak langsung menyahut, “Bisakah tahi lalat itu dicongkel saja, supaya kamu nggak jala-jalan melulu?”

Aku tertawa.

Tulisan ini diikutkan pada “My Itchy Feet…Perjalananku yang tak terlupakan

41 thoughts on “Tour (Nekad) de Jatim – Bali

  1. waaaaah…..perjalanan jauh juga yaaa mba…dan seru-seru aja ngebolang berbonus kopdaaar :D…mantaap laaah…aku juga kalau naik bus tetap ‘tenang’ kalau ada cemilaaaan :D…makasih udah ikutan GAku yaaa….seru kaan berItchyFeet riaaa…cheeers….

  2. Reportasenya lengkap bang’get! Terus, tentang budget yang diperbincangkan via line itu “pas,cukup atau kurang”, Kak?:mrgreen:

    Kalau saya sampai lost in Bali, saya memilih putar blaik dan mencari jalan untuk wisata lagi. Wkwkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s