Seberapa Panas?

Pernahkah Sahabat membaca cerita yang hot-hot pop? Mungkin pernah, ya? Bagaimana dengan menuliskannya?

Aku pernah berbincang-bincang dengan seorang kawan, tentang apakah kami bisa membuat tulisan fiksi yang di dalamnya disisipi adegan panas baik dengan atau tanpa ranjang. Mungkin bisa, karena kami sudah cukup dewasa dan paham. Namun muncul pertanyaan selanjutnya, apakah kami berani menuliskannya?

TIDAK BERANI!

Alasannya terbesar adalah karena norma agama yang melekat pada diri kita. Saat kita menuliskannya, bisa saja terjadi pertentangan dalam diri, antara keinginan untuk membuat sebuah karya sastra, dengan karya yang bertanggung jawab. Seperti ucapan seseorang yang mengatakan bahwa “Tulisan kita adalah cerminan diri kita, dan kita bertanggung jawab atas tulisan kita.”

Yup, menjadi pilihan setiap penulislah ingin menulis apa. Dan semoga tulisan-tulisan tersebut dapat menginspirasi, bukannya menimbulkan gejolak rasa galau, gelisah, gundah gulana.

Nah, beberapa waktu yang lalu ada event #FF100Kata (fLashfiction 100 kata). Event tersebut berlangsung selama 15 hari dengan tema yang berbeda setiap harinya. Aku hanya sempat membuat 3 FF, itupun hanya yang hari pertama yang kudaftarkan. Sedangkan dua yang lainnya tak sempat di-submit.

Salah satu tema yang kuikuti adalah sebuah gambar yang menunjukkan seorang model yang sedang memperagakan lingerie berwarna merah. Lingerie selalu identik dengan hal yang panas. Setelah memutar otak, aku berusaha membuat FF dengan tema tersebut.

HANTARAN

Hampir setiap pasang mata terpaku pada hantaran di tegah ruangan. Sepasang lingerie merah begitu mencolok dalam sebuah keranjang rotan yang dikemas cantik.
“Selera Tiwi boleh juga. Merah.”
“Selera Anton, kalik.”
Bisik-bisik terus menggema hingga jelang prosesi akad nikah. Tiwi dan Anton akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri.
Malam harinya, pada sebuah kamar, tali-temali berusaha dipasang.
“Ternyata kamu liar, Sayang.”
“Lingerie merah adalah impianku. Lihat, pas dengan ukuranku, 36C.”
Tiba-tiba pintu diketuk.
“Mah!” teriak Tiwi dari luar. “Lihat hantaran Tiwi yang isinya pakaian dalam warna merah, nggak?”
Papah dan Mamah Tiwi saling pandang, lalu membenamkan diri semakin dalam di bawah selimut.

Bagaimana? Tidak panas, kan?😀

25 thoughts on “Seberapa Panas?

  1. hehehe.. aku pernah mba, tapi sampe kasur aja, trus di cut deh.. selanjutnya silahkan pembaca melanjutkan imajinasinya sendiri…😀

    gak berani yg terlalu pulgaaar.😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s