Upaya(ku) Menikah

Kemarin aku mendapat mention di Twitter dari salah seorang rekan #BloggerSamarinda. Dia menyertakan link sebuah tulisan anyar di blognya. Dialah @EllieHasan, seorang kawan yang enerjik. Saat-saat pertama mengenalnya dulu, kesanku mengenainya adalah “Cool and Smart“. *pelukEllie

Saat membaca judul tulisan Ellie, aku senyam-senyum sendiri dan berusaha meraba isi tulisan itu. Membaca paragraf demi paragraf, aku terhanyut dan terlarut. GUE BANGET! Karena kami berada pada latar budaya yang sama, sedikit banyaknya aku juga mengalami apa yang diceritakannya dalam tulisan itu. Perbedaannya dengaku adalah bahwa Ellie menulis dengan gamblang sikap serta pendapatnya terhadap apa yang dialaminya. Sedangkan aku merasa pengalaman itu cukup sebagai wacana bagiku saja, karena setelah menjadi seorang blogger, aku terlalu ‘terbuka’ dan sudah terlalu banyak orang yang tahu tentang diriku. Jadinya aku memutuskan untuk menyimpan saja cerita bagian itu.

Memangnya cerita tentang apa sih? Memangnya apa sih yang ditulis Ellie?

Bila Sahabat penasaran akan tulisan Ellie, silakan meluncur saja ke blognya. Judul tulisannya adalah “Upaya(ku) Menikah: Antara Mitos, Doa, Tradisi Lokal, & Pemantasan Diri (?)

Ternyata di Google ada 265 juta artikel tentang “Stop bertanya pada saya kapan saya menikah”curahan banyak penulis dan blogger baik di Indonesia maupun di barat sana.  Baiklah pemirsa, pembaca, rekan, dan keluarga, saya akan menambah satu lagi tulisan tentang itu.

Itu adalah paragraf awal tulisan Ellie. Aku terbeliak. Ternyata banyak juga yang mengeluhkan pertanyaan itu. Hehe ….

Aku setuju dengan pendapat Ellie yang mengatakan bahwa menikah bukanlah perkara menang atau kalah. Yang menikah terlebih dahulu, bukan berarti dia telah menang dan yang belum menikah dianggap kalah. Sayangnya masih begitu banyak yang memandang demikian. Belum lagi kalimat-kalimat menuduh yang ditudingkan ke depan wajahku. Ada satu pertanyaan yang makjleb, yang membuatku bertanya-tanya, apa sebenarnya yang ada di benak orang itu saat bertanya padaku.

“Kamu masih punya ‘rasa’, kan?” tanya seorang ibu-ibu.

“Maksudnya?” aku tak seberapa paham, namun aku menangkap maksudnya, samar-samar.

“‘Rasa itu’ … terhadap laki-laki ….”

“Oh … hehe ….” Karena aku orangnya kalem cool and smart, aku menanggapinya dengan tawa, meski hati sangat merasa tidak nyaman.

Ah, setelah membaca tulisan Ellie, rasanya aku tak sabar ingin bertemu dengannya dan memperbincangkan pengalaman-pengalaman kami. Sebagian mungkin merupakan pengalaman bodoh, tetapi mungkin bisa menjadi hiburan saat diceritakan ulang. Sebagian juga merupakan wujud kasih sayang dan kepedulian orang sekitar terhadap kita.

21 thoughts on “Upaya(ku) Menikah

  1. Sabarlah menunggu lelaki penunggang kuda pituh itu te.
    Mungkin sekarang dia sedang memberi rumput untuk kudanya itu.
    Agar nantinya kuda itu kuat menjadi tungganganmu dan lelaki gagah berparas menawan pujaanmu.

    Nanti kalau menikah saya hadiahi slide lagi ya. Hiks..
    Semangat tente. #PelukTanteAkin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s