Tidak Sensitif

Tengah hari sudah beberapa jam berlalu. Usai istirahat, sholat dan makan (ishoma), kelas kedua hari Minggu kemarin dimulai lagi. Kampusku agak sepi, karena tidak terlalu banyak perkuliahan, berbeda dengan hari biasa. Sebagian teman-teman semester V kelas anvulen (alih jenjang) terlihat antusias mengikuti materi selanjutnya. Sementara sebagian lagi (termasuk aku) terlihat mengantuk.

Dosen sudah beberapa menit berdiri di depan kelas. Beliau terlihat sibuk menghubungkan laptop dengan perangkat proyektor (LCD). Aku masih membuka laptopku untuk meng-update status dan chatting di Facebook mendownload file materi kuliah yang dikirim oleh temanku. Beberapa teman sudah mempersiapkan buku catatannya. Tiba-tiba terdengar ucapan dosen (yang kurang lebihnya seperti kalimat berikut ini).😀

“Susah ya. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang mau membantu sama sekali.” Lalu beliau melangkah keluar dari kelas.

Seisi kelas pun terhenyak. Kami saling pandang. Sejurus kemudian, barulah kami menyadari bahwa dosen kami rupanya gagal menyambungkan laptop ke LCD, karena hanya warna hitam yang muncul di dinding putih tempat memproyeksikan LCD.

“Loh, tadi kan LCD-nya bisa dipake,” gumam Ketua Tingkat.

“Iya ya …,” sahut yang lainnya.

“Kok bapak itu nggak bilang ya kalo butuh bantuan …,” ucap sebuah suara.

“Iya, kok langsung ngambek gitu ….”

Ternyata beliau kembali ke kelas bersama petugas kampus yang membawa LCD yang lain. Setelah LCD ditukar, perkuliahan pun dimulai dengan pembukaan berupa ceramah tentang kepekaan kami yang menurut beliau sangat kurang.

Entah bagaimana penerimaan teman-temanku yang lain. Menurutku, kami memang salah, karena kurang peka dengan sekitar. Namun, bila membahas tentang LCD, aku yakin tidak semua temanku -yang kebanyakan adalah emak-emak- bisa paham. Bahkan mungkin mereka tidak tahu di bagian mana tombol on/off-nya. Maklum, selain gaptek, pekerjaan kami jarang yang bersentuhan dengan perangkat tersebut. (Ini apa adanya, bukan bermaksud membela diri. Hehehe ….)

Bagaimana menurut Sahabat sekalian mengenai ceritaku di atas? Apakah punya pengalaman juga tentang hal-hal yang sensitif? #eh

10 thoughts on “Tidak Sensitif

  1. Ya …
    “anak-anak” sekarang memang sangat sibuk dengan “mainan” nya
    sehingga lupa lingkungan sekitar …

    kadang-kadang lhooo … nggak semua begitu kok … banyak juga yang lebih parah …

    Hahahaha

    salam saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s