Ingin Menulis Apa?

Ayo, yang sedang malas menulis, silakan mengacungkan tangan!

Mungkin aku sendiri duluan mengangkat tangan, mengakui bahwa sekarang aku sedang dihinggapi penyakit lima huruf itu. Bahkan dengan teganya membiarkan blogku terpuruk, jarang update, blogwalking, apalagi menulis fiksi. Rasanya sudah lama aku tidak mengetikkan kata yang hingga ribuan jumlahnya dalam sebuah cerpen. Rindu sih sebenarnya, tetapi apa daya, rasa M itu sedang menguasai.

Suatu ketika aku melihat pengumuman di wall seorang teman di FB. Ia mengabarkan bahwa akan ada sharing dari seorang penulis Samarinda tentang pengenalan terhadap sinopsis cerita dan skenario FTV. Apakah masih ada yang tidak tahu FTV? Itu tuh, kepanjangannya adalah film televisi, semacam sinetron yang durasinya sekitar 2 jam dan tidak bersambung.

Karena sharing itu berkaitan dengan kepenulisan, aku merasa tertarik untuk hadir. Pertemuan itu berlangsung di sebuah kafe. Si penulis, Mbak W, sangat ramah. Ternyata beberapa sinopsis/ide cerita FTV ber-genre komedi romantis yang ditulisnya, sudah pernah tayang di stasiun TV. Hal itu disampaikannya saat memperkenalkan diri. Belum lagi beberapa cerpennya yang pernah termuat di media nasional, atau perlombaan yang pernah dimenangkannya. Ia menyampaikan prestasinya tanpa kesan menyombongkan diri.

Mbak W kemudian menjelaskan secara singkat tentang sinopsis/ide cerita. Menulis sinopsis berbeda dengan menulis cerpen. Tak ada kata yang berlebihan dan kalimat yang digunakan berorientasi pada visualisasi adegan-adegan. Mbak W juga menjelaskan sepintas tentang skenario. Ia memang belum memijak ke penulisan skenario, karena menurutnya ada tahapan-tahapan dalam sebuah produksi (sinetron atau pun film). Seseorang tidak bisa langsung dipercaya untuk meloncat ke skenario, bila dia belum melewati tahap menulis puluhan sinopsis cerita yang lolos untuk diproduksi (tayang).

“Honornya lumayan,”kata Mbak W.

Ini yang membuat mata kami yang hadir tempo hari, jadi berbinar-binar. Mungkin beneran berwarna ijo kalik ya …. Beberapa ratus ribu rupiah untuk sebuah sinopsis cerita, yang ditulis maksimal 3 halaman. Tapi, itu sih kalau memang lolos.๐Ÿ˜€

“Kalau nulis skenario, satu episode honornya bisa beberapa juta, loh,” lanjut Mbak W lagi. Semakin hijaulah mata-mata๐Ÿ˜€

Yang ada di pikiranku adalah perkalian. Misalnya dapat job 100 episode sinetron striping, dikali 1 juta, sudah dapat seratus juta! Ckckck …. Aku sungguh tergiur! Kali ini pakai hestek #eh sambil ngelirik Om Trainer๐Ÿ˜€

Kemudian muncul pertanyaan dari salah seorang kawan. “Misalnya kita sudah terbiasa menulis sinopsis, apakah kita bisa dengan mudah kembali menulis cerpen atau novel?”

Mbak W tersenyum. “Memang sih, yang pernah saya coba, dan saya cukup mengalami kesulitan saat akan menulis cerpen. Sekarang saya lebih suka menulis sinopsis, lebih mudah dibanding cerpen.”

Wah … sinopsis lebih mudah? Semakin menggiurkan! Tetapi dengan resiko akan merasa kesulitan saat kembali menulis cerpen? Aku jadi galau. Hahaha…

Ingin menulis apa sih, Kin?

Cerpen belum tertulis, novel apalagi. Eh, sekarang sudah melirik ke produksi televisi. Tetapi, siapa tahu bisa lolos dan melihat ide cerita kita tayang di televisi, mengapa tidak? Sip banget, semangat pun membara.

Tiba-tiba teringat tugas kuliah dan tumpukan kerjaan di kantor, jadi lemes lagi. Langsung membuka kolom chat di FB dan mengobrol dengan seorang kawan.

Loh, bagaimana dengan sinopsisnya? Cerpennya? Novelnya? Tugas-tugas kuliahnya, Kin? *mendadak amnesia:mrgreen:

27 thoughts on “Ingin Menulis Apa?

  1. Hehehe…musim malas menulis itu ternyata menghantui siapa saja, ya? Kalau aku bukannya malas. Namun, memang kalau tidak ada kisah yang pas ya jadinya agak gimana begituuuu…jadi malu! Berarti aku tergolong males juga, ya?๐Ÿ˜€

  2. Kakaakin …. saya (malu2..) ngacungkan tangan …๐Ÿ˜ฆ
    saya juga bingung … kok saya kayak gak berdaya..?
    mati suri deh … tidak bisa menyelesaikan 1 postingan pun …๐Ÿ˜ฆ
    sampai2 bertekat … ‘sekali ngeblog tetap ngeblog … tetap saja tak ada gairah …๐Ÿ˜›

  3. Beberapa ratus ribu rupiah untuk sebuah sinopsis cerita, yang ditulis maksimal 3 halaman.

    Nulis skenario honornya sejuta ? waaahhh asik bener yak …

    hehehe

    Yang jelas … kalo di Blog …
    mau nulis pakai seribu hashtag juga tidak apa-apa kak …
    tak ada pengaruhnya kalau di Blog …
    tidak ada “isinya” / fungsinya …

    (kalau di soc med yang lain … nah itu baru kita harus bijak …)

    hehehe

    salam saya

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, Akin… Lama tidak BW kemari, baru ketahuan bahawa Akin sedang kuliah. Semoga sukses ya. Kalau dibilang malas, memang malas juga mahu lanjutkan posting blog dengan tugas yang menumpuk. Tetapi dikeraskan hati untuk menulis juga. Saya jadi pusing membezakan antara menulis cerpen dan sinopsis. Nanti aja dipelajari semua itu, mbak. Salam Manis dari Sarikei, Sarawak.๐Ÿ˜€

    • Hehe… memang harus mengeraskan hati agar mau menulis, Bunda. Kalau tidak, bisa-bisa rasa malasnya berlarut-larut๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s