Simple Life

Aku membuka mata dan melirik jam yang terpasang di dinding kamar. Pukul 4 dini hari. Saatnya bangun. Masih ada beberapa puluh menit sebelum masuk waktu sholat shubuh. Tak lupa aku bersyukur atas rasa gatal di kaki akibat gigitan nyamuk, atas rasa kebelet pipis karena kandung kemih yang penuh, atau rasa lapar karena perut sudah berjam-jam kosong. Semua rasa itu merupakan manifestasi dari satu hal, yaitu ‘hidup’. Hidup yang masih diberikan oleh Sang Pemilik, dan aku yang masih diijinkan-Nya untuk hidup.

Setelah mengambil air wudhu, aku bersujud dalam beberapa rakaat. Lalu dilanjut dengan membaca Al-Qur’an, satu atau dua lembar, sekaligus menunggu shubuh. Usai sholat shubuh, waktu sudah menunjukkan pukul, 05.30. Kusiapkan handuk. Kubiarkan setiap pori di tubuhku merasakan segarnya air.

Langkahku kemudian beralih ke dapur. Kurebus air satu ceret, lumayan untuk mengisi termos dan membuat seteko teh manis. Sementara menunggu air mendidih, kulihat ada piring kotor bekas semalam. Kusingsingkan lengan baju, untuk bergelut dengan busa pencuci piring. Lalu kuperiksa pemanas nasi, ternyta masih ada sisa nasi semalam. Bila kuolah jadi nasi goreng, cukuplah untuk sarapan beberapa anggota keluarga. Tak lupa nasi putih kusisihkan sedikit beserta lauknya, untuk bekalku ke kantor.

Tak terasa, ternyata sudah pukul 6 lewat. Akupun bersiap-siap. Seragam kerja, jilbab pilihan dengan warna yang senada, sudah kukenakan. Sarapan sebentar, lalu tepat pukul 06.30 aku berangkat ke kantor dengan menunggang sepeda motorku tercinta. Pukul 7 lewat beberapa menit aku tiba di kantor. Usai absen dengan pindai sidik jari, aku ke mushola untuk melakukan sholat dhuha dan melanjutkan bacaan Al-Qur’an-ku.

Pukul 07.30 waktu bekerja dimulai. Sesudah melakukan ini itu, ini itu, tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 12 siang.  Saatnya ‘ishoma’, istirahat-sholat-makan. Urutannya tidak selalu seperti itu. Setelah itu,  aku lanjut bekerja kembali hingga pukul 4 sore. Usai absen pulang, aku ke mushola untuk melaksanakan sholat ashar, agar bisa lebih tenang saat pulang ke rumah.

Pukul 5 kurang beberapa menit, aku tiba di rumah. Istirahat sebentar sambil bercengkerama dengan anggota keluarga, lalu aku ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Usai sholat maghrib, aku mempersiapkan hidangan makan malam. Setelah santap malam, tibalah waktu sholat isya dan akupun melaksanakannya.

Terkadang di malam hari ada anggota keluarga yang ingin makan kue, tak lupa kusajikan juga teh manis. Tak ketinggalan tayangan televisi tentang kejadian-kejadian hangat di seluruh penjuru dunia, biar tidak ketinggalan berita. Saat mata mulai mengantuk dan jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, saatnya tidur, agar aku bisa bangun pagi keesokan harinya.

Lalu siklusnya berulang/berlanjut kembali.

Itulah sebuah hidup yang sederhana, yang sempat kukhayalkan. Andaikan bisa hidup teratur …. Andaikan bisa memberi porsi istirahat yang lebih besar (dari biasanya) pada tubuh ….

“Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea

18 thoughts on “Simple Life

  1. terkadang istirahat terlihat sprt hal yg sepele..tp itu sangat berharga ya mb..kdg setelah seharian beraktivitas sampe mencuri2 waktu utk merem sbtr..hehehe..
    good luck GAnya mbak🙂

  2. kira2 bila itu belum terjadi.. dan tulisan ini menjadi khayalan di masa mendatang..
    dalam khayalan ini kan ada anggota keluarga.. siapa suamimu? brp anakmu? hehehe..

    tetep ngayal juga komennya…

    makasih ya Kak.. oiya.. tolong tulis lagi dunk di Laman Peserta GA.. biar mudah cek dan riceknya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s