Joko Junior

Aku adalah Joko Junior. Aku dan jutaan Joko Junior yang lain berenang gembira. Joko Senior telah mengantarkan kami hingga tepat di depan mulut rahim Minah Senior.

“Terima kasih, Senior! Selebihnya serahkan pada kami!” teriakku. Aku mengencangkan ikat kepala. Mungkin aku bukan yang terhebat, tetapi aku akan berjuang dan bersaing dalam rangka memenuhi misi menemukan Minah Junior. Aku lalu berenang mengarungi rongga rahim.

“Aku lelah…”

“Aku tak tahan…”

“Aku menyerah saja…”

Aku gusar tatkala satu persatu kawanku tumbang. Aku melemah. Rasanya ingin menyerah juga.

Namun semangatku tersulut kala melihat masih ada ribuan Joko Junior yang semangat berenang. “Ayo, kita bahkan belum separuh jalan!” teriakku pada kawan-kawan yang tersisa.

Setelah sekian lama kami berenang, kami menemukan persimpangan yang membentang di depan kami. Tulisan yang tertera di lorong sebelah kiri, sama dengan yang sebelah kanan, “Tuba Fallopii”. Rupanya kami sudah berada di muara saluran telur.

“Kamu pilih yang mana, Kawan?” salah satu Joko Junior bertanya padaku.

Dengan mantab aku menjawab, “Kanan!”

“Aku memilih yang kiri.”

“Baiklah, semoga beruntung, Kawan.”

Aku terus berenang dan berenang. Persimpangan yang kupilih bagaikan terowongan tak berujung. Aku khawatir tak menemukan Minah Junior yang menjadi target misiku. Semakin jauh, semakin membuatku cemas. Mungkinkah yang kami cari ada di lorong yang satunya? Bila memang ternyata iya, itu artinya aku kalah dalam memperebutkan Minah Junior yang cuma ada satu setiap bulannya.

Sudah berapa harikah ini?

Aku sudah di penghujung rumbai saluran, namun Minah Junior tak kunjung terlihat. Tiba-tiba sebuah benda bulat berwarna kuning berkilau muncul.

“Ah, rupanya akulah yang beruntung! Oh, Minah Junior-ku!” seruku.

“Jangan senang dulu, Kawan!” ucap sebuah suara. Aku menoleh. Ternyata masih ada beberapa Joko Junior yang juga berhasil menemukan Minah junior.

“Hei, Kalian! Bersainglah dengan sehat,” ucap Minah Junior dengan lembut, sambil terus bergerak menuju saluran ke arah rahim. “Yang beruntung, maka akan hidup bersamaku,” lanjutnya sambil mengedip.

Aku tak ingin mati, sehingga aku berusaha merasuk ke tubuh Minah Junior. Bila aku berhasil, maka yang lain dengan sendirinya akan berguguran.

Selapis demi selapis selubung Minah Junior dapat kutembus, dan… Yes! Aku berhasil masuk. Selubung yang kulalui tadi menebal dan tak memberi celah lagi bagi Joko Junior lainnya untuk masuk, karena sudah ada aku di dalamnya.

Kami mengalun bersama, menasbihkan betapa indahnya jalan yang telah direncanakan untuk kami. Aku dan Minah junior berpadu menjadi satu yang baru dan melekat ke dinding rahim Minah Senior, untuk mendapatkan sari-sari kehidupan.

*****

“Ma… maafkan aku, Mas…”

“Minaaah!” jerit Joko sambil memeluk istrinya yang lunglai tak bernyawa.

Satu persatu anak mereka masuk ke dalam kamar.

“Ibu kenapa, Pak?” tanya Budi, si putra sulung. Ia duduk di samping bapaknya sambil menangis.

Mak Narti, tergopoh-gopoh masuk kamar, sambil menggendong cucunya, seorang bayi perempuan, putri ketujuh pasangan Joko dan Minah.

“Ya ampun, Minah!” jerit Mak Narti. “Istrimu kenapa, Joko?”

Joko hanya menggeleng sambil menangis. Pandangannya tertuju pada kaki Minah yang membuka. Sarung istrinya yang tersingsing hingga paha, basah oleh darah yang terus mengalir. Beberapa ranting jarak dan tangkai singkong tergeletak di antara kedua kaki Minah.*****

Lagi ikutan Ngasih Hadiah September Bahagia-nya Harry Irfan, yang dikembangkan dari fiksi mininya : PELAN-PELAN BANYAK ANAK KECIL Ia mengurangi kecepatannya menuju sel telur

31 thoughts on “Joko Junior

  1. cara yg salah untuk mengakhiri kehamilan ke 8 ya….., tapi kok takut ada yg mau ikutin cara itu….., disebutin sih pake apaan
    KB dong Minah he.,he.,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s