[BeraniCerita #24] Ketika Bunga Layu

Aku menyelipkan sekuntum mawar di kuping bunga pujaan hatiku, Vivienne. Mawar kesekian yang pernah kuberikan. Dan kini aku hanya mendapat keheningan dari gadis itu.

“Bolehkah aku memelukmu, Win?”

Kalimat pertama yang keluar dari mulut Vivienne usai terdiam selama lima belas menit, membuatku terkejut. Sejak SMA, aku sudah sangat ingin memeluknya, namun tak pernah terwujud.

“Kamu tahu bahwa aku selalu sayang kamu, Vi.”

Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata.

“Maafkan aku, Win. ” Vivienne melepasku. Ia menunduk sambil mengusap perutnya yang samar membuncit.

Aku terhenyak. Bunga yang selama ini kujaga sepenuh jiwa, ternyata ada yang telah berani menyentuhnya.

“Siapa…”

“Sudahlah, Win.” Vivienne menggeleng kuat sambil terisak.

Tangis Vivienne semakin menjadi saat melihat acara debat calon gubernur yang ditayangkan sebuah stasiun televisi.

17 thoughts on “[BeraniCerita #24] Ketika Bunga Layu

  1. cerita ini menjadi realita dalam kehidupan di dunia nyata…ketika seseorang menjadi pejabat atau bakal pejabat..maka dirinya akan ikut arus dengan harta, tahta dan wanita…..nice story….rupanya ada yang lagi milad ya…selamat hari lahir…semoga sehat bahagia selalu (moga2 saja saya tidak salah info)…..salam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s