[Review Buku] Camar Biru

Judul Buku : Camar Biru: Cinta Tak Selalu Tepat Waktu
Penulis : Nilam Suri
Penerbit : Gagas Media
Harga : Rp 45.000
Tebal : 288 Halaman
Genre: Romance
Tanggal terbit : November 2012

Bila kau masih jomblo 10 tahun yang akan datang, adakah seseorang yang bersedia menjadi pasangan hidupmu hanya karena sebuah janji?

Adith menawari Nina perjanjian bahwa ia akan menikahi Nina 10 tahun mendatang, bila gadis itu masih jomblo. Sepasang burung camar yang terbuat dari kertas menjadi pengingat antara keduanya. Saat 10 tahun berlalu, merekapun memutuskan untuk menikah.

Adith dan Nina telah menjalin persahabatan sejak mereka kecil. Persahabatan itu bukan hanya terdiri dari mereka berdua, namun masih ada Narendra, kakak laki-laki Nina, dan Sinar, kakak laki-laki Adith. Mereka berempat sangat akrab dan ketiga lelaki itu menjadikan Nina sebagai pusat perhatian mereka.

Adith setengah mati menyukai Nina sejak kecil, namun Nina lebih menuja Sinar. Saat Naren meninggal dalam sebuah kecelakaan, dan Sinar memutuskan meninggalkan tanah air, Nina menjadi hancur. Adith selalu siaga di sisi Nina. Terlebih lagi Nina mendapatkan perlakuan yang tidak ramah dari kedua orang tuanya usai kematian kakaknya. Nina yang mulanya ceria, berubah jadi muram. Ia memiliki teman bernama Danish, yang turut mendampingi Adith dalam menjaga Nina.

Nina memutuskan untuk menikah dengan Adith, hanya karena ia merasa nyaman dan terbiasa dengan lelaki yang sudah menjadi temannya sejak kecil itu. Namun, apakah Nina juga memiliki cinta untuk Adith? Ternyata Nina juga memiliki rahasia kelam yang disimpannya sekian lama dan menjadi mimpi buruknya. Lalu bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Adith?

*****

Tampilan depan novel Camar Biru cukup menarik dengan gambar burung kertas hasil keterampilan tangan. Tidak ada daftar isi pada buku ini dan bagian-baiannya tidak diberi judul/BAB. Sebagai pemisah setiap bagian, diberi jeda dengan menggunakan gambar burung kertas dan disertai potongan syair lagu yang menjadi semacam pengantar tiap bagian tersebut.

Penggunaan sudut pandang “aku” yang bergantian antara tokoh Adith, Nina, dan juga Sinar, menjadikan buku ini unik dan lebih bisa dinikmati. Namun kelemahan penggunaan sudut pandang yang bergantian ini bisa membuat pembaca bingung pada saat memasuki chapter baru. Bahasa yang digunakan pada buku yang ber-setting di Jakarta ini cukup ringan dan mudah dipahami, meski diselipi juga dialog dalam Bahasa Inggris yang dicetak miring.

Tema yang diusung Camar Biru adalah mengenai persahabatan, cinta, dan keluarga. Sarat dengan ungkapan perasaan, cerita ini membawa pembaca menyelami hati setiap tokohnya. Deskripsi yang baik pada setiap bagiannya, menjadikan novel ini tidak membosankan untuk dibaca.

15 thoughts on “[Review Buku] Camar Biru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s