Jejak di Rumput yang Sepi

Saat membaca judul yang kutulis di atas, apakah yang terlintas di benak Sahabat? Fiksi banget ya? Memang, “Jejak di Rumput yang Sepi” adalah judul cerpen yang kutulis tahun lalu. Inspirasinya berasal dari sebuah kecelakaan yang menimpa seorang pelajar Sekolah Dasar di samping Puskesmas tempat kerjaku dulu. Batok kepala yang pecah dan darah yang berceceran, menjadi pemandangan yang memilukan saat hari kejadian. UGD Puskesmas dipenuhi keluarga korban serta warga sekitar yang ingin tahu.

Tema anak sekolah dan dunia pendidikan menyimpan banyak sisi untuk diceritakan. Cerpen yang kutulis itu pun awalnya kusertakan untuk sebuah lomba cerpen yang bertemakan dunia pendidikan, tetapi tidak lolos sebagai pemenang. Seperti kalimat yang sering kulihat menjadi semboyan beberapa penulis, “Biarkan tulisan kita menemukan takdirnya”, tulisanku ini pun menemukan takdirnya.

Senin lalu, saat aku membuka-buka koran Kaltim Pos terbitan Minggu 21 Juli 2013, aku melihat cerpenku itu tercetak di halaman 22. Ini adalah cerpen kedua yang terbit di media cetak. Bahagia tentu saja, meski sudah yakin bahwa aku tak akan mendapatkan honor pemuatan, sama seperti cerpenku sebelumnya. Sebagian teman terheran-heran, bagaimana mungkin sebuah tulisan yang mendekati 1.000 kata, dan memakan tempat hampir separuh halaman sebuah harian terbesar di Kaltim, tetapi tidak mendapatkan imbalan sepeserpun?

Aku tersenyum saja menanggapi hal tersebut. Sama seperti temanku yang cerpennya juga pernah dimuat di rubrik yang sama. Kami menganggap pemuatan tersebut sebagai ajang melatih diri untuk menulis dengan baik dan meraba-raba selera editor koran tersebut. Siapa tahu kemudian kami mempunyai keberanian untuk ikut bersaing mengirimkan cerpen kami ke media yang me-nasional.🙂

Bagi Sahabat yang ingin membaca cerpen sederhana ini, bisa dilihat di Epaper Kaltim Post hari Minggu 21 Juli 2013, halaman 22.

Jejak di Rumput yang Sepi

Saat akan mengirimkan cerpenku pekan lalu, aku sempat kebingungan dalam menulis biodata yang disertakan di cerpen. Akhirnya kuputuskan untuk menulis singkat saja, dan aku tersenyum sendiri saat membacanya ulang di koran.

Oleh Kaka Akin

Semangat menulis, Sahabat!

20 thoughts on “Jejak di Rumput yang Sepi

  1. ok, Kin.. kerelaan untuk tak dibayar itu apakah juga kesepakatan..?
    apapun itu, ada harga yg sudah dibayar,, yaitu kepercayaan diri Akin sbg penulis akan semakin kokoh..

    • Gak ada kesepakatan apa-apa sih, Bunda. Tapi di samping cerpen itu ada tulisan bahwa koran tersebut mengajak penulis untuk menyumbangkan karya cerpennya untuk dimuat setiap Minggu. Kesimpulan saya sih berarti cuma nyumbang doang. Hehe… Ternyata…😀

  2. eh..apa memang semua cerpen yg diterbitkan di situ tak ada honornya? menurutku itu aneeh…. tapi… tetep angkat jempol utk kreatifitasmu ya..🙂

  3. Selamat mbak tulisannya kembali terbit semoga sllu istiqamah menulis ya🙂
    Cuma syang koran tu ko g ada penghargaan sdkitpun.. Hrs nya hsil karya kt dihargai dong… (ikutan gemesss)

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Akin…

    Saya turut berbangga dan teharu atas kesungguhan dalam berkarya. Mudahan semuanya akan sukses dan pasti sahaja, tanpa bayaran cukup menyakitkan tetapi imbalan kepada usaha itu sangat besar.

    terus menulis Akin. biarkan tulisanmu berkelana lagi di dunia ini untuk dibaca dan raikan tempatmu sebagai penulis novel di suatu hari.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s