[BeraniCerita #20] Pita

credit

“Kenangan mungkin hanya sesuatu yang absurd dari masa lampau, tetapi kita bisa memiliki sebentuk fisik yang bisa kita raba, untuk menegaskan kenangan itu!”

“Maaf, Mas. Tapi, ini kan hanya sebuah kaset…”

“Hanya, katamu? Ini priceless. Tak ternilai! Tak akan bisa kau dapatkan lagi di manapun, meski kau sanggup membayar mahal.”

“Iya, Mas. Aku paham…”

“Tidak. Kamu tidak paham. Kalau kamu paham, mestinya kamu tidak akan membiarkan siapapun menyentuh lemari koleksiku. Termasuk dia!”

“Maafkan Fais, Mas.”

“Pokoknya kamu harus bertanggung jawab. Aku mau pita yang dipotong Fais tadi kamu sambung!”

“Bagaimana caranya?”

“Ternyata, selain ceroboh, kamu juga bodoh. Aku malas menjelaskan padamu. Cari sendiri sana!”

Garda beranjak ke luar rumah dengan membanting pintu. Tina kebingungan dengan sebuah kaset yang pitanya mencuat tak beraturan dan putus pada salah satu bagiannya. Ia tak mengira kemarahan suaminya sebegitu besarnya. Ia menghela napas saat putra semata wayangnya yang berusia 5 tahun, muncul di pintu kamar.

“Sini, Fais sayang.” Ia mendekap anaknya sambil mengayun perlahan. Ia bersyukur karena cukup ia saja yang menjadi sasaran setiap amarah Garda.

*****

Tina terbangun tengah malam. Ia tertidur di meja kerja Garda, usai merekatkan pita kaset  yang putus. Ia merutuki dirinya karena sempat lupa dengan Google yang bisa menjadi sumber pengetahuan tentang apapun. Tina keheranan saat mendapati meja kerja di depannya rapi, tak ada peralatan yang digunakannya saat menyambung pita kaset.

Rumah Tina senyap. Ia melangkah ke ruang tengah yang temaram sambil mencari-cari suaminya yang biasanya sudah pulang kerja. Tangan Tina bergerak untuk menekan sakelar lampu.

Tina tercekat saat melihat Garda terbaring di sofa. Kaset kesayangan suaminya itu tergeletak di atas dadanya dengan pita yang berhamburan dan kusut. Sebuah gunting tertancap di perutnya.

Perlahan pintu kamar Fais terbuka. Ia lalu mendekati Tina.

“Papa gak akan marahin mama lagi,” ucap Fais sambil memeluk Tina.

37 thoughts on “[BeraniCerita #20] Pita

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Akin…

    Bahaya sekali, jika bertengkar di hadapan anak kecil ya.
    Tapi fenomena segini, jarang sekali berlaku kecuali anak itu sudah “musnah” jiwanya oleh masalah orang tuanya sehingga mencari jalan mudah untuk mengakhiri masalah.
    Kasihan, hanya kerana sebuah pita, nyawa seorang manusia jadi galang gantinya.

    Salam ramadhan dari Sarikei, Sarawak.😀

  2. Hmmm,,, seorang bocah 5 tahun bisa berbuat seperti itu ? Juga cuma dengan sebuah gunting yg dirancang hanya untuk memotong kain atawa kertas bahkan tanpa sedikitpun ada tanda tanda perlawanan dari seorang dewasa yg ‘brangasan, galak dan kemungkinan berbadan tegap dan kuat jika sifatnya seperti itu.

    Tetapi mungkin saja jika bocah itu memiliki ‘boneka chucky,,, yg saat ini sedang tersenyum menyeringai penuh kemenangan. Good Job.

    • Bisa aja itu dilakukan saat si orang dewasa sedang tidur? Bayangan gunting dalam benak saya adalah gunting emak saya yang ujungnya tajam. Hehe… #maksa
      Hiiii… mikirin boneka Chucky jadi merinding…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s