Beduk Sahur

Lomba beduk sahur adalah acara rutin setiap Bulan Ramadhan yang diadakan di kampungku, Samarinda Seberang. Menurutku, penggunaan istilah ‘beduk sahur’ hanya berdasarkan istilah umum yang digunakan saat sekelompok orang memukul suatu alat untuk membangunkan orang yang akan bersantap sahur, meskipun sebenarnya tidak menggunakan alat berupa beduk sama sekali. Lomba beduk sahur menarik  minat berbagai kalangan, dari anak kecil hingga dewasa. Pesertanya pun banyak pula berdatangan dari luar kampungku. Biasanya lomba diadakan pada Minggu dini hari pekan terakhir Ramadhan.

Di kampungku sendiri, lomba beduk sahur diantisipasi sejak jauh-jauh hari, sekitar Bulan Sya’ban. Terlihat lebih banyak kelompok anak-anak dibanding orang dewasa, yang terdiri dari 5 orang atau lebih. Terkadang mereka ‘latihan’ di halaman masjid, depan rumah warga, pernah pula di samping rumahku. Mereka latihan dengan menggunakan aneka benda, bisa berupa jerigen, botol galon, ember, kepingan besi, tangki petromaks, dll. Perkusi yang mereka gunakan dipukul sedemikian rupa dengan tempo tertentu. Tidak ada lagu khusus yang dinyanyikan, karena tidak ada alat musik yang menjadi melodinya. Tak jarang aku mendengar gelak mereka saat musik yang mereka hasilkan jadi berantakan dan jauh dari harmoni.

Setiap Ramadhan merupakan saatnya beraksi, mungkin sekaligus sebagai ajang latihan. Ramai terdengar suara orang yang berkeliling kampung sambil melakukan pertunjukan mereka. Saat lewat di samping rumah-rumah warga, suara musik rombongan beduk sahur ini lumayan nyaring. Tak jarang mereka dianggap cukup mengganggu karena mereka start keliling pada pukul 02.00 dini hari.

Latihan Beduk Sahur

Kemarin malam, sekitar bakda tarwih, aku memperhatikan sekelompok anak yang sedang berlatih di dekat rumahku. Wajah mereka terlihat serius memperhatikan rekan mereka yang lain, agar mereka dapat menyelaraskan tempo. Dari postur mereka, menurutku usia mereka berkisar antara 5-10 tahun. Tidak jelas siapa yang menjadi pemimpin. Jerigen, ember dan kepingan besi menjadi instrumen mereka. Entah dari mana mereka memperoleh peralatan tersebut.  Melihat alat-alat yang digunakan kelompok itu, aku jadi teringat keponakanku yang pernah memiliki kelompok beduk sahur semacam itu. Beberapa buah panci kakakku pun menjadi korban.

Sepertinya lomba beduk sahur Ramadhan tahun ini masih akan ramai, seperti halnya tahun-tahun sebelumnya yang selalu diminati banyak peserta. Kuharap aku tak tertinggal menyaksikan lomba ini yang jalur parade-nya selalu melewati depan rumahku.

12 thoughts on “Beduk Sahur

  1. Aku ke Samarinda ahh, sekalian mungkin aku bisa jadi penyanyi atau MC mungkin disitu.

    Gini-gini aku juga pengalaman MC Patrol Ramadhan ya buk.

    By the way, ketika kecil dulu aku juga sepet membuat kerusakan sebagian alat dapur hanya untuk membangunkan orang saur, namun akhirnya ya kena skorsing sama Mama.

    Emmm, beduk beduk.

  2. Wah, jadi semarak ya bulan ramadhan dengan adanya lomba beduk. Bakal lebih terasa ramadhannya, kalau ditempat saya bulan ramadhan sepi…sesekali aja ada suara petasan..hehehe. salam kenal kaka akin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s