Lain Padang Lain Belalang

Yang pertama-tama ingin kuucapkan adalah bahwa aku iri dengan Bu Evi Indrawanto. Itu terjadi beberapa waktu yang lalu, saat beliau berhasil terpilih sebagai salah satu peserta dalam acara Jelajah Gizi dengan mengunjungi Gunung Kidul, Yogyakarta. Lalu bermunculanlah di blog beliau cerita yang berkaitan dengan perjalanan beliau tersebut. Salah satu tulisan yang paling kuingat adalah mengenai makanan yang ada di Gunungkidul, yaitu pada tulisan berjudul Gunungkidul, Sego Abang & Belalang Goreng.

Bagian yang ingin kusoroti adalah belalang goreng. Makanan satu ini disuguhkan sebagai pendamping sego abang. Bu Evi sendiri hanya bertahan menyantap 2 ekor belalang goreng. Hingga di titik ini, aku lumayan merasa mual (maaf). Aku memahami bahwa kandungan gizi dalam belalang memang tak diragukan lagi. Protein, lemak, kalsium dan besi, tertulis sebagai zat gizi yang bisa didapat saat mengkonsumsi belalang. Meski demikian, benakku masih menekankan bahwa makanan tersebut berasal dari makhluk eksotis yang menggelikan. Lalu haruskah memandang sepele pada daerah  yang menjadikan belalang sebagai salah satu hidangan favorit mereka?

Menurut dugaanku, yang melatar belakangi dimasukkannya jenis serangga ini dalam hidangan sehari-hari di daerah Gunungkidul adalah karena masa penjajahan yang berkepanjangan. Sehingga bahan makanan yang disantap benar-benar seadanya. Namun, benarkah demikian? Sepertinya bukan hanya kebetulan saja jika ternyata serangga yang dipilih untuk disantap ini ternyata bernutrisi tinggi. Terlebih lagi pada tulisan Bu Evi ada yang mengatakan bahwa rasa belalalng goreng itu seperti udang. Sepertinya memang enak ya…🙂

Lain padang, lain belalang. Lain daerah, lain pula kebiasaannya. Ini yang juga kucoba tekankan pada diriku. Contoh termudah adalah bubur Manado. Masakan yang sangat terkenal di mana-mana -termasuk di Samarinda- ini merupakan jenis bubur yang terbuat dari beras dan dicampur dengan aneka bahan. Bagi sebagian orang akan memandang aneh dengan hidangan itu. Namun aku sangat suka makan bubur Manado, yang mana aneka bahan di dalamnya memberikan nutrisi yang tinggi pada bubur itu.

Lain padang, lain belalang. Lain daerah lain pula ceritanya. Kekayaan Indonesia mengenai budaya, termasuk makanannya sangatlah luas. Di sinilah kita bisa memahami dan mensyukuri bahwa keberagaman itu menjadikan kita unik, menjadikan suatu daerah itu unik. Menjadikan kita saling ingin tahu belalang-belalang yang ada di daerah lain. Saling ingin tahu kebiasaan atau kebudayaan di daerah lain, untuk kemudian saling menghormati. Inilah kita, Indonesia.

8 thoughts on “Lain Padang Lain Belalang

  1. teringat waktu saya KKN di Gunung Kidul dulu, setiap mampir ke warung bakso selalu disuguhi belalang goreng
    yah, meskipun saya masih satu provinsi dengan GK, tapi tetep saya gak familiar dengan makanan satu itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s