Pasukan Kuning

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat.

Pernahkah sahabat mendengar istilah “Pasukan Kuning”? Istilah itu biasanya digunakan untuk menggelari kawan-kawan yang bekerja di bawah naungan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota, yang tugas kesehariannya adalah menjaga kebersihan dan keindahan kota. Bidang kerjanya juga beraneka macam. Ada yang membersihkan jalan raya atau tempat-tempat umum, mengurus taman kota, mengumpulkan sampah, dan lain-lain. Dari kegiatan yang dilakukan pasukan kuning ini saja, kita sudah bisa tahu betapa pentingnya keberadaan mereka bagi sebuah kota.

Sejak beberapa jam jelang subuh, orang-orang berseragam kuning sudah mulai disebar di banyak titik jalan raya kota. Bersenjatakan sapu lidi, mereka mulai menyusuri jalan, mengais sampah yang terserak. Sampah berupa dedaunan memang lazim mengotori jalan, karena masih banyaknya pepohonan yang berfungsi sebagai penghijauan. Tak jarang pula, di antara sampah yang berserakan itu merupakan sampah yang dibuang warga sembarangan. Misalnya ada warga yang sedang melintas dengan mobil, dengan santainya ia membuang bungkus biskuit ke jalan raya. Para penyapu jalanlah yang kemudian membereskan kebiasaan buruk para warga itu.

Sampah menumpuk di tempat pembuangan sampah? Bayangkan saja bila hal itu terjadi berhari-hari. Aroma yang menyengat serta pemandangan tak sedap sudah barang tentu mengganggu kenyamanan kita. Kegiatan rutin para pasukan berseragam kuninglah yang kemudian membantu kita memberi rasa nyaman. Pun tempat-tempat umum di kota, median jalan, persimpangan, tepi-tepi jalan, akan terlihat gersang dan tak elok bila dibiarkan gundul begitu saja. Anggota pasukan kuning pulalah yang memeberi sentuhan warna-warni yang indah dan sedap dipandang mata. Tempat-tempat tersebut diberi tumbuhan dan aneka bunga yang indah dilihat, bahkan saat sedang di bawah terik mentari. Mereka juga merawat tumbuhan tersebut secara periodik, atau bahkan mengganti jenis tanamannya agar tidak itu-itu saja.

Sumber

Kini pakaian anggota pasukan kuning memang tak lagi melulu kuning. Sering kita lihat ada yang berpakaian oranye di antara yang kuning. Namun dari segi nama, pasukan ini tak serta merta berganti menjadi “pasukan oranye”. Nama “Pasukan Kuning” telah begitu melekat, terlebih lagi warna oranye masih tidak terlalu jauh berbeda dengan warna kuning.

Ada apa dengan warna kuning atau oranye? Saat bos membagikan seragam olah raga dengan atasan berupa kaos lengan panjang berwarna oranye di tempat kerjaku, banyak rekan yang mencibir di belakang.

“Ini sih seragam pasukan kuning,” ucap beberapa orang.

Kesan yang kutangkap adalah berpakaian dengan warna yang sama seperti anggota pasukan kuning itu seolah-olah merupakan sebuah aib. Beberapa bahkan berkata agak malu bila harus dipandangi orang-orang saat mereka di jalan.

“Nanti kita dikira tukang sapu jalanan. Kan malu-maluin,” ucap yang lainnya.

Jadinya, saat setahun berlalu dan seragam olah raga kami berganti warna biru, mereka seolah-olah merasa lega karena tak perlu lagi terlihat seperti anggota pasukan kuning. Yang menyedihkan adalah saat salah seorang teman dekatku menegurku yang suka mengenakan kaos kuning lengan panjang.

“Jangan pakai baju itu lagi ya. Kamu terlihat seperti pasukan kuning!”

Apakah pekerjaan sebagai anggota pasukan kuning itu merupakan pekerjaan yang hina dina? Apakah menyapu jalan, membereskan taman dan mengangkut sampah itu merupakan kejahatan?

Aku tak peduli bila disama-samakan dengan pasukan kuning saat mengenakan kaos seragam olah ragaku. Kita tidak akan jatuh sakit bila ada yang mengejek. Lagi pula, bukankah warna kuning/oranye itu merupakan warna-warna cerah, yang biasanya bisa turut mencerahkan suasana hati?

Aku berharap agar orang-orang bisa lebih bijaksana dalam memandang sebuah pekerjaan. Terlebih lagi pekerjaan pasukan kuning memberikan kontribusi yang sangat besar pada keindahan dan kebersihan sebuah kota. Misalnya saat sebuah kota mendapatkan penghargaan Piala Adipura, maka pemegang peranan penting keberhasilan itu adalah para petugas pasukan kuning. Kita patut berterima kasih kepada mereka.

Jadi, memakai baju kaos berwarna kuning atau oranye dan dikira sebagai anggota pasukan kuning? Siapa takut!😀

13 thoughts on “Pasukan Kuning

  1. lah aku punya baju kuning, pede aja tuch, mereka boleh tukang bersih2 tapi coba gak ad pasukan kuning apa jadinya tuch pasar di pagi hari…ckckckck…

  2. kalau aku… pakai baju warna apa saja nggak masalah ka, asal berpakaian sopan… dan lebih suka lagi kalau warnanya soft…🙂

  3. Masih ada orang yang melihat hanya karena pakaiannya padahal keberadaan pasukan kuning sangat membantu dalam kehidupan kita. Yang bisa menjaga kebersihan lingkungan

  4. Kebetulan aku suka warna kuning dan gak pernah merasa rendah kalau itu kebetulan sama dengan seragam tukang sampah. Warna adalah bagaimana kita memaknainya. Kalau dianggap rendah karena sama dengan tukang sampah yah gak bakalan pd memakainya. Apa lagi rasa pd-nya emang sudah rendah dari sananya. Tapi kalau dimaknai sebagai warna cerah yang diciptakan alam untuk menggembirakan perasaan kita, sandang lah dengan percaya diri🙂

  5. Pasukan Oranye …
    kalau di jakarta sebagian besar Oranye …
    walaupun satu dua ada yang putih … dan juga hijau … tergantung perusahaan penyedia jasa kebersihannya …

    Yang jelas …
    memang tidak sepantasnya lah … kita mencibir pekerjaan orang lain …

    salam saya Kak

  6. Istlah Pasukan kuning sudah melekat dibenak kita yang mengarah pada sodara-sodara kita yang berkerja di dinas kebersihan. Pun demikian pakaian mereka pun sudah banyak mengalami pergeseran warna, yang penting menyoloj agar gampang terlihat ketika mereka menjalankan tugasnya di jalan raya. Kita harus menghargai tugas mulia mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s