[Berani Cerita #9] ATM

Cantik, kaya dan gaya. Tiga alasan itu sebenarnya sudah cukup untuk membuatku membenci Mima. Lalu Tuhan rupanya mendengar kebencianku, sehingga menambahkannya dengan mengaruniai Mima seorang suami yang sempurna. Tampan, kaya dan gaya.

Hari ini Mima turun dari Mercy-nya dengan elegan. Stilletto buatan perancang, menghias indah kakinya yang putih. Aku berharap hak sepatunya patah dan Mima keseleo, sehingga ia tak perlu berjalan di sepanjang koridor seolah-olah sedang berjalan di atas catwalk. Zara edisi terbaru mengayun pelan di lengan kiri Mima.

Aargh, mengapa pipinya begitu mulus tak tercela. Aku meraba noktah yang menjejeri pipiku. Hidungnya lancip, bak pahatan dokter bedah plastik ternama. Aku meraba hidungku yang bulat dan berjerawat di ujungnya.

“Jaga matamu, Ver. Kau seperti akan menelan Bu Mima,” bisik Muni yang berdiri di sampingku.

Aku tersenyum tipis sambil keluar dari meja resepsionis. Kuraih koran pagi sebelum melangkah masuk ke ruangan Mima.

“Kau tidak mengangkat telponku,” ucapku.

“Aku masih lelah.”

Sosok Mima membelakangiku dan menghadap ke jendela. Shiluetnya tak berubah sejak masa remaja, padahal 2 orang anak pernah keluar dari rahimnya.

Aku mengambil gunting yang ada di wadah alat tulis di atas meja Mima. Inilah saatnya, pikirku. Perlahan aku mendekati Mima.

“Ada berita apa pagi ini?” ucap Mima sambil berbalik ke arahku.

Aku segera menyodorkan koran pagi pada Mima. Tak lupa gunting juga kuserahkan -sebelum Mima mencari-carinya- seperti biasanya.

“Halaman utama, Mim.”

Mima meraih koran dari tanganku dan sekilas membaca sebuah judul di halaman terdepan. Dengan geram ia mengguntingi koran itu, tepat pada foto seorang lelaki dan perempuan.

Dengan kasar Mima duduk di balik meja dan meraih sesuatu di laci. Ia membubuhkan tanda tangan pada sehelai kertas kecil dan menyerahkannya padaku.

“Beli semua koran pagi ini dan bakar!” teriak Mima.

Tanpa suara aku mengambil kertas kecil itu. Dengan gontai aku melangkah ke luar ruangan Mima. Aku tersenyum saat melirik angka 8 digit yang tertera di permukaan kertas. Ini adalah lembar keempat yang kuterima dari Mima.

“Mun, aku mau nelpon sebentar ya,” ucapku sambil mengedipkan mata pada rekanku itu. Lalu aku melangkah ke halaman kantor.

Aku tahu, lelaki yang akan kutelpon ini sedang liburan di luar negeri seperti berita di koran. Meskipun seorang perempuan sedang berada dalam pelukannya, aku tetap ingin menelponya. Siapa tahu ada 8 digit lagi yang akan mengalir ke rekeningku.

Usai menelpon, aku menatap ruangan Mima dari halaman.

“Terima kasih, Mima sayang. Kau dan suamimu memang merupakan sumber kebahagiaanku,” lirihku sambil meniupkan ciuman jarak jauh ke arah jendela ruangan sahabat masa kecilku itu.

36 thoughts on “[Berani Cerita #9] ATM

    • Bukan kontes kok, Mas. Ini cuma rame-rame nulis flash fiction.
      Setiap minggu ada tantangannya. Lumayan lah, jadi sering2 nulis fiksi deh😀

  1. halo ibu boleh belajar
    mengkritik? paragraf
    pertama kayaknya cukup
    diakhiri dengan “sempurna.”
    kedua, masih ada istilah
    asing yg tdk memakai garis
    miring, lebih bagus klo
    “linking” menuju
    penjelasannya.
    yg bener shiluet atau siluet
    ya?
    alurnya menarik tp saya blm
    menangkap maknanya
    *lagi nyocokin antara
    quotes n cerita*
    Tq. bu. maaf kalau sotoy

  2. kalau tokoh ‘aku’ berniat memerah duitnya Mima, mestinya informasi yang diberikan bersifat rahasia dan bukannya berita dari koran, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s