Menyeberang Sungai Mahakam dengan Kapal

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Kota Samarinda merupakan ibukota Propinsi Kalimantan Timur. Sebuah sungai besar bernama Mahakam membelah kota ini dan membagi kota dengan istilah Samarinda Kota dan Samarinda Seberang. Aku lahir dan besar di Samarinda Seberang, dan hingga kini masih tinggal di salah satu kecamatan yang ada di Kota Samarinda itu. Karena pusat kegiatan warga berada di kota, makanya mobilisasi warga cukup tinggi setiap harinya, dari Samarinda Seberang ke kota. Sejak dulu, kami terbiasa menyeberang dengan menggunakan kapal kecil/ketinting. Memang sekarang sudah ada jembatan Mahakam dan angkutan kota, namun tak sedikit warga yang masih memilih menggunakan kapal untuk menyeberang.

Ketinting (Sumber gambar)

Ada 2 macam kapal/perahu yang biasa digunakan untuk penyeberangan. Yang pertama adalah ketinting, seperti pada gambar di atas. Bagian depannya tidak beratap, sehingga akan tersengat sinar matahari. Bila hujan turun, penumpang yang duduk di bagian depan terpaksa berjejal ke bagian dalam yang beratap. Jarak dari bibir perahu ke permukaan air cukup dekat. Terkadang aku suka memasukkan tangan ke sungai untuk menikmati sensasi riak yang tercipta.

Pelabuhan penyeberangan taksi sungai Samarinda Kota

Jenis yang kedua adalah kapal. Kadang ada yang menyebutnya taksi sungai atau hanya kapal saja. Jenis ini sedikit lebih besar dibanding ketinting dan atapnya menutupi kapal dari depan sampai belakang. Tak sedikit penumpang yang suka naik dan duduk pada bagian atapnya, terlebih lagi anak-anak sekolah. Kedua jenis angkutan sungai ini ada pelabuhannya masing-masing. Pelabuhan yang di dekat rumahku biasanya dilabuhi angkutan jenis yang kedua.

Menurut cerita-cerita orang tua, dahulu bila warga yang memiliki kendaraan akan menyeberang dari dan ke Samarinda Kota, harus menggunakan semacam kapal feri di pelabuhan-pelabuhan khusus. Sedangkan penumpang biasa yang akan ke kota, bisa naik kapal dari pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada di pinggir sungai. Tidak jarang juga penumpang naik dari dermaga rumah mereka sendiri. Biasanya warga yang tinggal di tepi Mahakam selalu memiliki semacam dermaga kecil di belakang rumah mereka. Jadi, saat akan naik kapal penyeberangan, mereka tak perlu repot-repot datang ke pelabuhan. Cukup melambaikan tangan saja saat ada kapal yang lewat, maka kapal itu akan menepi ke dermaga mereka. Mirip dengan saat memberhentikan angkutan umum saat berada di pinggir jalan raya. Demikian halnya saat turun dari kapal. Banyak penumpang yang memilih untuk turun di dermaga-dermaga terdekat dari rumah mereka.

Dahulu memang masih sangat ramai orang-orang naik kapal untuk menyeberangi sungai Mahakam. Biasanya, sebelum haluan kapal mengarah ke kota, kapal bergerak menyusuri tepi sungai untuk menjemput penumpang yang menunggu. Kini keadaannya sudah berbeda. Keberadaan angkutan kota dan banyaknya warga yang memiliki kendaraan pribadi, menurunkan jumlah penumpang. Sehingga kini kapal jarang yang mau mengambil penumpang selain di pelabuhan. Mungkin hal ini sekaligus untuk menghemat bahan bakar.

Sensasi naik kapal penyeberangan sangatlah menyenangkan. Meskipun sekarang aku lebih sering menggunakan sepeda motor dengan alasan kepraktisan, sesekali aku naik kapal dengan alasan tertentu. Saat aku kuliah dulu, taksi sungai adalah angkutan rutinku. Kadang aku merasa sebal bila harus menunggu menumpang penuh, barulah kapal berangkat. Sebenarnya ada pula pilihan lain, yaitu naik taksi sungai dengan sistem carter. Kita hanya perlu membayar lebih dan kapalpun berangkat, meskipun hanya ada sedikit penumpang. Namun cara yang kedua ini tentu tidak cocok untuk kantung mahasiswa. Jadi harus lebih sabar dalam menunggu.

Demikianlah kisah tentang angkutan sungai Mahakam yang ada di Kota Samarinda, di tengah eksistensinya yang terancam oleh keberadaan angkutan darat.

Jadi, apakah ada di antara Sahabat yang mau menyeberang sungai bersamaku dengan naik taksi sungai/ketinting?

20 thoughts on “Menyeberang Sungai Mahakam dengan Kapal

  1. Dua tiga kali ke Balikpapan dan Samarinda …
    saya belum sempat memperhatikan angkutan sungai seperti ini …

    Asik juga ya … tiap rumah punya dermaga sendiri … hehehe

    Salam saya Kak

  2. Sempat mencicipi sensasi menyeberang Kapuas dengan ketinting, menciduk air Kapuas dengan tangan, meski belum merasakan air Mahakam. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s