Bermain di Kolong Rumah

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Setiap daerah memiliki karakteristik masing-masing. Begitu pula dengan warganya dan cara mereka hidup di daerah tersebut. Tak terkecuali kampungku. Daerah tepi sungai Mahakam yang kerap digenangi air Mahakam kala sedang pasang itu membuat warga mempersiapkan bentuk rumah yang sesuai, yaitu rumah pangggung. Hampir semua rumah memiliki tiang-tiang membentuk kolong rumah. Saat sungai pasang, maka air akan lewat di kolong rumah.

Rumahku juga merupakan rumah panggung. Meski tak setinggi rumah-rumah khas suku Bugis, atau rumah gadang dari Sumatra Barat, namun kolong rumahku masih bisa dimasuki orang dalam posisi jongkok. Rumah-rumah tetanggaku juga demikian. Kolong rumah biasanya dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan papan atau kayu-kayu bahan bangunan yang belum terpakai. Karena susunan kayu ini pula, sesekali di sekitar rumah kami ditemukan ular kobra atau orang kampungku biasa menyebutnya ular sendok.

Aku teringat, saat masih kecil aku dan beberapa orang temanku suka bermain-main di kolong rumah. Mungkin karena udara di kolong rumah lebih sejuk, sehingga kami betah berlama-lama berada di sana. Tentu saja kami memilih kolong rumah yang tak ada susunan kayunya, seperti di kolong rumahku. Banyak kreatifitas yang bisa muncul di kolong rumah. Biasanya anak perempuan akan bermain rumah-rumahan, atau masak-masakan. Sementara anak laki-laki mengorek-ngorek tanah dan mengumpulkan cacing untuk umpan memancing ikan. Terkadang aku juga turut mengorek-ngorek tanah, namun tak berani memegang cacing karena merasa geli.

Ada pemandangan yang unik saat musim layangan tiba. Beberapa anak laki-laki berkumpul di samping rumahku. Kesibukan mereka terlihat jelas. Ada alat penumbuk dan gulungan benang. Dari pinggir aku menyaksikan mereka menggerus kaca, membuat adonan dan mencelupkan benang. Lalu mereka menjemur benang itu dengan cara membentangkannya dari satu tiang kolong rumahku, ke tiang lainnya. Ya, mereka sedang menyulap benang biasa menjadi benang yang tajam dan tangguh, atau yang biasa disebut benang gelasan. Mereka berharap layang-layang dengan benang yang sudah mereka pertajam, bisa mengalahkan atau memutuskan benang layang-layang lain saat sedang berlaga di udara.

Bermain di kolong rumah memang sangat menyenangkan. Namun itu dulu. Kondisi dulu sudah berbeda dengan sekarang. Setelah sekian tahun berlalu, kini sudah jarang terlihat ada anak-anak yang bermain di kolong rumah. Penyebab utamanya adalah sampah. Saat aku berdiri di samping rumah, aku melihat pemandangan yang tidak mengenakkan. Hampir seluruh permukaan tanah di kolong rumahku, tertutupi oleh sampah, terutama sampah plastik. Kondisi ini kurang lebih sama dengan kolong rumah-rumah yang lain.

Dulu, warga yang tinggal di kampungku tidaklah sebanyak sekarang. Gang-gang dan sela-sela rumah yang dulu mudah untuk dilewati, kini sudah semakin padat. Setiap jengkal tanah yang kosong, hampir selalu diisi dengan rumah-rumah sewaan atau bangsalan. Selain warga lokal yang sudah semakin berlipat ganda, banyaknya pendatang baru juga menjadi penyebab kepadatan kampungku.

Jumlah penduduk yang semakin banyak itu meningkatkan volume sampah. Belum lagi ketidakpahaman atau bahkan ketidakpedulian warga akan kebersihan lingkungan. Hal ini bisa terlihat dari kebiasaan membuang sampah di samping atau di kolong rumah. Jangankan memilah-milah sampah, kumpulan sampah jenis apapun alih-alih dibuang ke tempat sampah, ini malah dilempar dengan cueknya ke tanah.

“Nanti kan hanyut juga dibawa air pasang,” ucap salah seorang warga.

Ya, memang saat air sungai pasang, sampah-sampah itu terangkat dari tanah. Namun ternyata sampah itu tidak pergi terlalu jauh. Sampah itu hanya beralih tempat sedikit, dari satu kolong ke kolong yang lain.

Aku pernah berhayal, seandainya saja ada yang berinisiatif untuk membersihkan sampah di kolong rumah mereka masing-masing, maka tanah di kolong-kolong rumah akan kembali bersih. Anak-anak juga tak segan-segan untuk bermain kembali di atasnya. Namun, entah kapan impian itu akan terwujud. Yang terpenting sekarang aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak turut mengotori tanah lingkunganku dengan sampah-sampah yang berasal dari rumahku.

13 thoughts on “Bermain di Kolong Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s