Apa Kabar Para Korban Kebakaran?

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Sudah lebih dari empat bulan berlalu sejak malam terjadinya kebakaran di samping rumahku. Lokasi kebakaran yang berbatasan langsung antara Masjid Shirathal Mustaqiem dan rumahku itu kini sudah tak melulu kosong. Hingga kini, lahan bekas kebakaran itu sudah banyak yang dibangun kembali oleh pemiliknya. Jika memiliki dana, membangun kembali sebuah rumah memang tak memerlukan waktu yang lama. Terlebih lagi rumah-rumah di lingkungan tempat tinggalku adalah rumah kayu.

Ada pula beberapa warga yang memiliki kemampuan bertukang -meskipun mereka tidak bekerja sebagai seorang tukang bangunan- yang membangun sendiri rumah mereka. Tonggak-tonggak kayu ulin terlihat ditancapkan sebagai tiang rumah, lalu beberapa hari kemudian terlihat papan tersusun sebagai lantai. Saat beberapa hari kemudian aku menengok ke lokasi tersebut, sudah terlihat seng yang disusun rapi sebagai atap. Tak lama kemudian ada undangan dari pemilik rumah tersebut dalam rangka syukuran naik rumah baru.

Pada tanah yang berbatasan langsung dengan masjid, kulihat tetap dibiarkan kosong. Awalnya aku tak paham mengapa lokasi itu tidak dibangun kembali, mengingat pemiliknya adalah orang yang cukup kaya dan terpandang di kampungku. Saat kemarin aku lewat di depan tanah bekas kebakaran tersebut, barulah aku paham. Ternyata tanah yang ukurannya cukup luas itu diwakafkan untuk perluasan halaman masjid. Subhanallah.

Kebakaran memang sudah cukup lama berlalu. Hampir setiap warga sudah kembali pada rutinitasnya seperti sebelum kejadian. Ada yang sebelumnya menumpang di rumah keluarga, kini kembali tinggal di rumah mereka yang sudah dibangun kembali. Namun tidak demikian halnya dengan warga yang hanya mengontrak atau menyewa. Beberapa dari mereka sudah beberapa tahun menjadi tetangga keluargaku dan juga menjadi langganan di warung emak, kini sudah tak lagi kembali ke lingkungan RT kami. Usai terjadi kebakaran kemarin, mereka ada yang mencari rumah sewaan dan pindah ke RT/kampung lain. Bahkan ada juga yang pulang ke kampung asalnya di Sulawesi. Sedikit banyaknya kondisi ini mempengaruhi warung emak, karena pelanggannya berkurang.

Apa sebenarnya hikmah di balik sebuah kejadian akbar yang menghanguskan puluhan rumah pada Desember 2012 lalu? Banyak orang yang berpendapat bahwa sebuah musibah merupakan teguran dari Allah Sang Mahapencipta atas perbuatan kita yang sudah melanggar peraturan-Nya. Namun rupanya tidak semua orang bisa menangkap makna ini. Kondisi sebelum kejadian adalah sebuah pemukiman di sisi masjid, yang hanya segelintir warganya turut memakmurkan masjid. Para pemudanya alih-alih menjadi anggota remaja masjid, malah sibuk mabuk (hampir) setiap malam. Ketika menyusuri gang lewat samping rumahku hingga beberapa puluh meter ke belakang, yang terdengar adalah gema wadah plastik yang beradu dengan gulungan kertas untuk permainan lotre. Ramai anak kecil yang turut bermain dengan dimulai dari uang seribu rupiah yang ada di tangan mereka.

“Bagaimana sekarang kondisi di gang belakang, Mak?” tanyaku pada emak beberapa hari yang lalu.

“Masih tetap sama seperti dulu,” sahut emak. “Makanya emak enggan melayani anak kecil yang menukar uang seribuan. Emak tau, mereka mau judi di belakang.”

Aku tak dapat berucap apa-apa lagi. Meski telah menjadi korban kebakaran, namun sikap warga kampungku tetap tidak berubah. Lokasi perjudian masih tetap ada. Jamaah di masjid juga masih begitu-begitu saja.

Ada seseorang yang berkata, “Bahkan sudah terjadi kebakaran, masih tidak mau berubah. Hati-hati saja, bila Allah murka, bisa-bisa terjadi musibah yang lebih besar lagi.”

Tak ada yang mustahil, memang. Entah itu musibah besar yang tentu saja tak ada seorangpun mengharapkannya, ataupun perbaikan dari kepribadian masing-masing warga di kampungku. Semuanya mungkin saja terjadi. Namun sebagai seorang yang lahir, besar dan tinggal di kampungku yang sekarang ini, aku tetap menaruh harapan besar akan kebaikan kampungku. Aku tetap berharap kampungku bisa menjadi tempat yang baik dan aman untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anakku kelak.🙂

30 thoughts on “Apa Kabar Para Korban Kebakaran?

  1. aamiin ** mengaminkan line yang trakhir

    sangat miris melihat anak anak kecil yang sudah terpengaruh dg lingkungan yang buruk

    peran lingkungan para orang tua dan para pengurus warga sangat diperlukan agar anak anak kecil itu terselamatkan dari pengaruh buruk judi😦

  2. Kadang sampai berfikir yah kemana orang tua mereka saat kita bertemu anak2 seperti itu. ntah bagaimana pendidikannya di rumah sehingga bisa begitu. cuma dia dan kehidupannya yang tau, bahkan untuk berubahpun, peran keluarga dan dirinya sendiri yang menominasi

    • Ini jadi semacam kebiasaan. Anak-anak itu meniru, karena (kemungkinan besar) ortu mereka juga begitu. Mungkin sebenarnya mereka perlu ‘model’ atau contoh bagaimana cara berkehidupan yang positif ya..

  3. Semoga dengan kejadian ini bakal ada perubahan untuk pemuda disana🙂

    Oh ya, kayu Ulin sekarang masih ada ya Kak, padahal itu kayu istimewa lo # katanya sih, soalnya di Jawa tidak ada😀

    • Aamiin.
      Tentang kayu ulin si kayu besi, masih ada di hutan Kalimantan. Khabarnya kayu ini kini diawasi dengan ketat. Tetapi ternyata tetap bisa didapatkan di toko bahan bangunan, meski harganya muahal banget.

  4. semoga saja kebarakaran itu bisa membuat para pemuda2nya (khususnya) dan masyarakat (umumnya) untuk menyadari kesalahan2 mereka dan menganggap kebakaran itu adalah bentuk teguran sayang dari Allah bagi mereka.😀

  5. Semoga mereka dapat hidayah dan bisa berubah agar tidak terjadi musibah yang lebih besar ya Kak Akin. Semoga musibah yang terjadi dimana-mana juga menjadikan kita lebih baik. Amiiin

    Semoga sukses Kak AKin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s