Hapus Bulir Ini

Seingatku ada sebuah pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan, yang terdapat dalam tes psikometrik yang kujalani beberapa hari yang lalu.

“Aku selalu merasa bahagia”

Aku lalu memberi tanda pada bagian (+), bukan pada bagian (-). Apakah itu berarti aku memang benar-benar SELALU merasa bahagia? Tentu saja tidak. Ada kalanya aku bersedih, dengan kesedihan yang mendalam. Apakah artinya aku telah berbohong dengan mengatakan bahwa “Aku selalu merasa bahagia”? Kurasa tidak, karena setidaknya itulah salah satu harapan terbesarku, yaitu merasa bahagia.

Tak terkira do’a yang dirapal setiap hari, tak terhitung harap yang membumbung tinggi, dengan satu keinginan, yaitu hidup yang lancar-lancar saja. Hidup yang demikian tentu akan sangat membahagiakan, bukan?

Hampir selalu ada kejadian yang sangat bermakna pada setiap tingkatan hidupku. Misalnya saja di saat masih remaja, aku pernah mengalami kecelakaan tragis. Saat di UGD, dengan santainya aku bertanya pada teman yang ada di sampingku, “Apa aja yang patah?”

“Tulang paha dan tulang betis,” jawab temanku.

“Oo…” sahutku. Begitu saja. Nyerinya memang teramat sangat, namun sedikitpun aku tak pernah menangis karena nyeri patah tulang. Demikian pula yang kujalani hingga kakiku benar-benar pulih.

Lalu datanglah masa dewasa, saat tiba masanya aku merasakan sesuatu yang romantis. Sesuatu yang (mungkin) disebut cinta kemudian perlahan menyusup ke hati. Sedikit demi sedikit menyusun mimpi indah untuk kehidupan mendatang. Mengharap cahaya terang akan menghias jalan bersama. Namun apa daya, ternyata kemudian yang tercipta adalah cahaya suram nan gelap.

“Aku tidak mood nulis, aku sedang patah hati,” ucapku pada salah seorang kawan yang kebetulan sedang mengajakku menulis.

Nyeri.

Rasanya lebih ngilu dibanding saat patah tulang. Ya, ternyata begitulah rasanya. Dan mungkin aku memberi julukan baru pada diriku, “cengeng”. Hujan pun menjadi saat favorit karena berada di bawah rinai tak ada yang bisa membedakan asal aliran bening di wajah kita.

Pudar harap untuk merasakan bahagia bersama orang yang dicinta. Dalam keterpurukan bahkan sempat berprasangka, adakah lagi bahagia?

Oke, setelah sebuah proses kemudian kuakui bahwa aku telah salah. Sebenarnya ada begitu banyak kebahagiaan lain yang telah dilimpahkan Allah SWT padaku. Ya, kebahagiaan-kebahagiaan yang kudapat itu ibarat sapu tangan yang disodorkan untuk menghapus bulir bening di sudut mata. Ibarat anak kecil yang diberikan permen atau mainan untuk menghentikan tangis mereka.

Aku tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan, karena bahagia itu ada di sana. Aku hanya perlu membuka mata agak sedikit lebih lebar dan menyibak tirai kabut yang menggelantung di depan mata. Meski kesedihan membuatku luluh lantak, namun ternyata kesedihan membuatku paham akan kebahagiaan yang tidak kusadari. Salah satunya adalah dukungan dari sahabat-sahabat yang memahamiku dan selalu memberi semangat. Mereka tidak membiarkanku bersedih. Belum lagi bonus-bonus yang kudapatkan dari Allah SWT, yang sama sekali tak kusangka, yang begitu luar biasa.

Kini aku bisa melangkah ke depan dengan bertolak pada kebahagiaan yang telah kumiliki, dan meninggalkan kesedihan jauh di belakang. Tak ada lagi alasan untuk menitikkan bulir air mata, kecuali untuk kebahagiaan yang mengharukan.🙂

(Sumber gambar)

28 thoughts on “Hapus Bulir Ini

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Akin…

    Sedih dan terharu rasanya membaca nukilan mbak Akin ini. Jangan sedih mbak. Zikrullah menjadikan hati tenteram dan harmoni. Saya doakan semuanya akan baik dan tenang kembali.😀

    Subhanallah, jika kita menghitung nikmat yang Allah kurniakan kepada kita sejak lahir hingga sekarang, ternyata tidak bisa dihitungkan. Dalam kurnia itu banyak kebahagiaan telah kita tempuh tetapi kita lebih menurut rasa derita dan sedih sehingga bahagianya tidak nampak dipandangan. Sungguh kita ini selalu tidak bersyukur. Malu sekali saat meneliti diri apabila keluhan dan resah membuat kita selalu rebah.

    Iya mbak, hapuskan bulir yang “menyesatkan” hidup tidak keruan. Alirkan ia untuk menjadi penghadang kepada api neraka.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.😀

  2. Itu ada jus mangga, move it. . .😆
    Kak, itu bulir air matanya koq canggih bener ya, melambai di bulu mata.😀

    Ini fiksi kan, ya?😛 Kalau sedang dalam keadaan seperti di atas, akan lebih baik jika kita terus merapat dan mendekatkan diri padaNya. Berdiam diri di masjid, adeeemmmmm.🙂

    Bersabar dan berikhtiarlah, semoga bisa move on.😛

  3. sesungguhnya kesedihan dan kedukaan yang kita alami adalah sebagai sarana untuk melihat dan bisa mebersihkan segala kerikil yang menghalangi langkah kita menuju kebahagiaan yang hakiki….
    ayo semangat….keep happy blogging always…salam🙂

  4. Hmmm…setiap org mgkin atau pasti malah, merasakan hal spt itu…awalnya mgkin terasa amat nyeri tapi dg berjalannya waktu terkadang itu malah membuat kita menjadi makin kuat melangkah…salam kenal mbak #sungguh mengingatkanku masa 10thn yg lewat hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s