Level 100

Tulisan ini adalah sebuah cerpen yang rencananya akan kusertakan pada proyek Kenduri Menulis Kreatif: Samarinda Under Attack. Proyek ini digagas oleh iSamarinda.net, sebagai lanjutan dari buku Samarinda Bekesah #1. Salah satu syarat tulisannya adalah “Inti tulisan harus mengurai problematika kota Samarinda (bisa fokus pada isu tertentu) dan gagasan atau alternatif-alternatif untuk perbaikannya“. Aku masih berusaha untuk bergerak di ranah fiksi. Semoga saja tulisanku cukup sesuai dengan tema.😀

Keterangan: Cerpen ini berjumlah 5 halaman ++ A4, dengan jumlah kata sekitar 2061 kata. Sudah ter-update!

_________________________

LEVEL 100

Oleh : Mariatul Kibtiah

Malam itu senyap. Sebagian besar warga Samarinda Seberang sudah berada di peraduan. Di pinggiran Jalan Pangeran Bendahara ada beberapa orang berkumpul. Mereka bergerak perlahan dalam diam, hanya sesekali terdengar kalimat-kalimat pendek. Meskipun cahaya temaram, masing-masing sudah hapal dengan apa yang memang biasa mereka lakukan hampir setiap malam.

            Setelah beberapa waktu kemudian, beberapa dari mereka sudah tak mampu duduk tegak. Ada yang bersandar di dinding, atau merebahkan badannya. Mereka berada disana hingga pagi menjelang.

*****

            “Kakak, ayo buruan mandi. Nanti terlambat loh ke sekolah. Hari ini ada try out kan?” Aliya membangunkan Fikri, putra pertamanya yang sudah duduk di kelas 6 SD. Usai sholat subuh bersama bapaknya, Fikri kembali memeluk guling.

            Aliya mendengar suara guyuran air di kamar mandi. Fahmi, putra keduanya sedang mandi.

“Sebentar lagi Fahmi selesai mandi. Setelah itu, Kakak yang mandi ya,” ucap Aliya pada Fikri yang mulai membuka matanya. Dari ruang tamu, terdengar tawa Ahmad, suaminya dan Fauzan, putra ketiganya yang sedang bermain bersama.

Pagi yang sibuk, seperti biasanya. Aliya harus bergegas agar anak-anaknya bisa segera diantar ke sekolah dan suaminya tidak terjebak dalam lalu lintas Samarinda yang padat. Ia lalu pergi ke dapur untuk membuat sarapan praktis bagi anggota keluarganya. Nasi goreng dan telur dadar adalah menu yang paling sering Aliya sajikan.

Aliya senang saat melihat formasi anggota keluarganya telah lengkap dan duduk manis di meja makan. Fikri masih tampak mengantuk, tapi ia sudah siap dengan seragam merah putihnya. Fahmi yang duduk di kelas 3 SD juga sudah tampak rapi. Meskipun masih sering berceceran, Fauzan makan sendiri. Aliya sangat suka melihat Fauzan yang mengenakan seragam hijau TK-nya. Bapak mereka juga tetap setampan belasan tahun yang lalu, saat ia baru menikahi Aliya.

“Kak Fikri, betulkan kerah baju yang sebelah kanan. Kak Fahmi, dasinya miring tuh. Adik Fauzan, di pipi kiri ada nasi,” dengan lembut Aliya memeriksa anak-anaknya usai sarapan.

“Do’akan Fikri supaya bisa menjawab soal ya, Bu,” ucap Fikri sambil mencium tangan ibunya.

“Fahmi berangkat ya, Bu. Assalamu’alaikum.”

“Bapak juga berangkat ya, Bu. Assalamu’alaikum,” Ahmad bersiap di sepeda motornya usai Aliya mencium tangannya.

Fikri dan Fahmi diantar ayah mereka yang sekalian berangkat ke kantor. Fauzan biasanya diantar Aliya menuju TK-nya dengan menggunakan sepeda, karena jaraknya tidak terlalu jauh.

Aliya tersenyum mengingat jagoan-jagoannya. Ia memimpikan mereka tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang sholeh, berguna bagi bangsa dan negara. Ia dan suami sudah diberi amanat untuk menjaga 3 orang yang kelak  menjadi generasi penerus bangsa.

Usai mengantar Fauzan ke TK, Aliya yang memilih berhenti bekerja di luar usai melahirkan Fahmi, melanjutkan kegiatan kesehariannya di rumah. Merapikan rumah, memasak, mencuci dan berbagai aktifitas lainnya, dipilih Aliya untuk dilakukannya sendiri. Terlebih rumah peninggalan orang tua suaminya tidak seberapa besar.

Aliya memulai dengan menyapu pekarangannya yang sempit. Aliya menemukan beberapa plastik bening berisi cairan kental berwarna kuning di tanah. Apakah pedagang es juga ada di malam hari? Ia bertanya-tanya dalam hati. Hampir setiap pagi ia menemukan plastik seperti itu di pekarangannya. Aliya mengumpulkan plastik itu bersama sampah lain dan memasukkannya dalam tempat sampah.

Betapa terkejutnya Aliya saat melihat ada plastik bening lagi yang ditemukannya di bawah rerimbunan bunga tapak dara di depan rumahnya. Plastik itu berisi kaleng kecil yang bertuliskan “Fox”. Ia mengenali kaleng itu adalah kaleng lem.

Jantung Aliya berdegup kencang. Berarti plastik-plastik yang didapatinya sebelumnya itu bukan berisi es, tetapi lem. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah halaman rumahnya menjadi tempat orang yang sering memabukkan diri dengan cara menghirup lem? Aliya mengambil plastik berisi kaleng lem itu untuk ditunjukkan pada suaminya nanti.

*****

Di malam hari, sekitar rumah Aliya ramai seperti biasa. Terlihat beberapa kumpulan orang-orang yang bercakap-cakap dalam bahasa Bugis, karena sebagian besar warga Samarinda Seberang memang bersuku Bugis.

Beberapa pemuda sedang bermain gitar dan bernyanyi di stan ojek kosong yang tak jauh dari rumah Aliya. Setahu Aliya, mereka tidak memiliki pekerjaan. Biasanya mereka juga tak lepas dari minuman beralkohol. Mereka jarang terlihat di siang hari karena tidur setelah malam harinya begadang.

Aliya melihat Fahmi dan Fikri bermain bola bersama beberapa anak lain. Sulitnya menemukan tanah lapang di Samarinda Seberang, membuat banyak anak yang bermain di pinggir jalan meskipun lalu lintas agak ramai.

“Fikri, Fahmi, masuk yuk,” Aliya memanggil kedua anaknya.

Biasanya Aliya memberi kesempatan anak-anaknya untuk bermain bersama teman-temannya usai belajar dan sholat Isya. Namun kini Aliya menyuruh kedua anaknya masuk rumah, karena ia resah atas apa yang ditemukannya pagi harinya.

Aliya mengunci rumahnya rapat-rapat. Tadi suaminya menelpon dan memberi tahu bahwa ia akan pulang terlambat karena harus lembur.

 Malam belumlah larut saat tiba-tiba Aliya mendengar suara gaduh di luar. Beberapa orang berteriak.

“Hei! Jangan lari!”

Lalu terdengar suara ledakan yang Aliya yakini merupakan suara tembakan. Ia bersyukur karena anak-anaknya yang sudah tidur tidak terbangun. Perlahan-lahan Aliya mengintip dari balik tirai jendela depan rumahnya dan melihat apa yang terjadi. Andi, anak Pak Udin yang tinggal di seberang rumahnya tampak didampingi oleh 2 orang polisi.

Mendadak kaki Aliya lemas. Sesekali memang ia pernah melihat anak-anak muda keluar masuk rumah Pak Udin. Namun mengapa pula Andi ditahan oleh polisi? Apakah berkaitan dengan narkoba? Aliya bergidik. Setelah paginya ia menemukan kaleng lem di depan rumahnya, kini ia melihat Andi ditahan polisi.

Tok tok tok.

Aliya dikejutkan oleh ketukan di pintu. Ia kemudian lega setelah mendengar salam dari suaminya.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” Aliya membukakan pintu untuk suaminya. “Ibu tak mendengar suara sepeda motor Bapak,” ucapnya heran.

“Bapak sudah dari tadi datang. Tetapi suara polisi-polisi itu bikin kaget.”

“Jadi Bapak melihat semuanya? Apakah ada yang kena tembak?” tanya Aliya.

“Itu hanya tembakan peringatan, karena tadi memang ada yang berusaha kabur, tetapi sempat ditangkap.”

“Ibu tadi melihat Andi ditangkap,” kata Aliya.

“Bukan cuma Andi, Bu,” ucap Ahmad sambil meletakkan tas kerjanya dan berjalan menuju dapur, lalu duduk di meja makan.

“Hah? Masih ada lagi?” Aliya mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih, lalu menyerahkannya pada suaminya. Ahmad mengambil gelas itu dan meminumnya.

“Kalau bapak tidak salah hitung, tadi ada sekitar 5 orang yang ditangkap. Tadi bapak ngobrol dengan Pak RT, katanya kamar Andi di rumah Pak Udin sering dijadikan tempat pesta shabu. Pak Udin sudah tua, sehingga tak mampu melarang anaknya. Sebenarnya Pak RT juga pernah memperingatkan Andi dan anak-anak yang sering nongkrong di stan ojek, tetapi tidak digubris.”

“Astagfirullah…” Aliya berkata lemah, lalu terduduk di kursi. Ternyata tetangganya sudah separah itu dan ia baru mengetahuinya padahal ia sudah sangat lama tinggal di kampung itu.

“Oh iya, Pak, tadi pagi ibu bertemu sesuatu,” Aliya lalu mengambil plastik berisi kaleng dan menyerahkannya pada suaminya.

“Ini lem, Bu. Ibu dapat dimana?” tanya Ahmad sambil mengamati kaleng itu.

“Iya, ibu tahu itu lem. Tadi pagi saat ibu menyapu di halaman, ibu banyak melihat plastik berisi lem. Sebenarnya ibu sudah sering melihat plastik seperti itu, tapi ibu tidak tahu apa itu. Setelah ibu melihat kalengnya, akhirnya ibu paham apa cairan kental berwarna kuning itu.”

“Masya Allah…” Ahmad menggeleng lemah sambil meletakkan plastik berisi kaleng itu di atas meja, “rupanya lingkungan kita cukup parah ya, Bu. Bahkan halaman rumah kita saja dijadikan orang sebagai tempat menghisap lem.”

“Kira-kira, siapa yang berbuat seperti itu ya, Pak?”

 “Entahlah, Bu. Bapak juga belum pernah melihat secara langsung. Yang jelas, kasihan sekali anak-anak muda kampung kita ini. Kalau para pemudanya pada suka teler, bagaimana nasib Samarinda nantinya…?”

Aliya terdiam. Ia dan suaminya menatap kaleng diatas meja itu dalam hening. Pikiran mereka melayang ke dalam kamar, dimana 3 orang jagoan mereka sedang tidur. Mereka resah dan ragu, apakah sudah memberikan tempat yang baik bagi anak-anak mereka untuk tumbuh dan berkembang?

*****

Hari sudah sore, namun Fikri belum juga pulang ke rumah. Aliya sudah menanyai salah seorang teman Fikri yang tinggal di dekat rumah mereka, katanya Fikri sudah pulang saat sekolah bubar. Aliya menjadi bingung.

“Fahmi, tadi waktu pulang sekolah, lihat Kak Fikri?” Aliya menanyai Fahmi yang sedang bermain sepeda di halaman.

“Tadi Fahmi lihat kakak bertemu dengan Kak Dodo di depan sekolah, Bu. Jadinya Fahmi pulang sendirian saja.”

Dodo? Aliya tahu Dodo adalah anak Pak Usman yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Aliya sering lewat di depan rumah Pak Usman. Ia tidak suka saat melewati rumah itu. Banyak bapak-bapak atau pemuda yang juga sering berkumpul disana. Ada yang sibuk bermain catur, bahkan ada yang berjudi juga. Rumah itu juga merupakan tempat bermain Play Station. Aliya sudah berulang kali mewanti-wanti anak-anaknya, agar tidak pergi ke rumah itu.

Saat Aliya berencana pergi ke rumah Pak Usman, sepeda motor Ahmad memasuki halaman. Aliya senang karena hari itu suaminya tidak perlu lembur, sehingga bisa pulang cepat. Sejenak Ahmad bermain dengan Fauzan di teras sebelum masuk ke rumah.

“Kak Fikri mana, Bu?” tanya Ahmad sambil memainkan mobil-mobilan milik Fauzan.

“Belum datang, Pak. Dari pulang sekolah, belum sampai ke rumah,” sahut Aliya lemah.

“Belum datang?”

“Ibu baru mau mencarinya ke rumah Pak Usman. Tadi kata Fahmi, Fikri pulang bersama Dodo.”

“Biar bapak saja yang ke sana,” Ahmad lalu pergi ke rumah Pak Usman, meski belum mengganti pakaian kerjanya.

Perlahan Ahmad memasuki halaman rumah Pak Usman. Sejak kecil, almarhum bapaknya melarangnya bermain ke tempat itu. Ahmad merinding karena merasakan suasana yang tidak nyama. Di salah satu sudut halaman, tampak sekelompok orang sedang berkumpul sambil memegang kartu. Setumpuk uang kertas terlihat di tengah-tengah mereka. Ahmad mengenali satu dua orang di antara mereka.

“Assalamu’alaikum…” Ahmad mengucap salam dan dijawab perlahan oleh beberapa orang yang peduli.

Saat tiba di depan rumah, Ahmad menengok ke dalam melalui pintu yang terbuka. Ruang tamu sudah disulap menjadi tempat permainan Play Station. Suasananya ramai oleh suara permainan yang terliat di beberapa layar televisi dan tombol-tombol konsol yang ditekan oleh para pemain. Tetapi ia tidak melihat Fikri di antara mereka. Lalu perlahan Ahmad melangkah ke dalam, supaya dapat melihat lebih jelas.

 Betapa terkejutnya Ahmad saat melihat Fikri yang berada di sebuah kamar di ruang depan. Ia bersama beberapa anak yang berseragam putih biru, termasuk Dodo, sedang menghisap rokok. Hanya Fikri yang berseragam merah putih. Pak Usman juga berada di ruangan itu, sedang menonton televisi.

“Fikri!” Ahmad memanggil anaknya sambil menahan emosinya yang memburu, “ayo pulang!”

Fikri yang terkejut melihat bapaknya, segera mematikan rokok yang dipegangnya ke asbak. Pak Usman menoleh saat mendengar suara Ahmad. Ia lalu mendekati Ahmad.

“Anakmu jangan dimarahi, Mad. Nakal-nakal sedikit, kalau anak lelaki tidak masalah lah,” ucap Pak Usman dengan dialek Bugis yang kental.

Darah Bugis yang mengalir dalam diri Ahmad menggelegak. Ingin rasanya ia meninju wajah Pak Usman yang membiarkan saja anak-anak di bawah umur mengisap rokok. Ahmad berulang kali mengucap istigfar dalam hati. Ahmad bersyukur masih dapat menahan emosinya.

“Pak Usman, saya mendo’akan semoga anak-anak saya dan anak-anak Pak Usman menjadi anak yang sholeh,” ucap Ahmad. Pak Usman hanya mengangkat bahunya. Ahmad lalu mengikuti Fikri yang melangkah keluar.

*****

Di Minggu pagi terlihat kesibukan di rumah keluarga Ahmad. Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian di rumah Pak Usman. Ahmad sudah memberikan hukuman pada Fikri atas perbuatannya, berupa menghapal beberapa surah pendek dalam Al-Qur’an dan membantu merapikan rumah. Fahmi dan Fauzan turut membantu kakak mereka.

“Kak Fikri, pot-pot yang ini dipindahkan ke sudut halaman sebelah sana saja,” perintah Aliya. Ahmad dan Aliya memutuskan memperbanyak tanaman di halaman rumah mereka, untuk memperkecil ruang yang biasa digunakan para penghisap lem. Mereka berharap halaman rumah mereka tak akan lagi dijadikan tempat untuk berbuat yang negatif.

“Bapak sudah berbicara dengan Anton, Bu,” Ahmad menyebut nama salah seorang dari pemuda pengangguran tetangga mereka. “Bapak sudah menyampaikan bahwa ada mal baru di daerah Sungai Kunjang yang sedang mencari banyak pegawai. Semoga ia dan teman-temannya mau melamar ke sana.”

“Mudah-mudahan, Pak. Dengan bekerja, semoga mereka bisa memiliki kesibukan dan tumbuh rasa tanggung jawab dalam diri mereka.”

Ahmad dan Aliya memandang ketiga buah hati mereka.

“Kita punya tiga orang yang menjadi tanggung jawab terbesar kita,” ucap Ahmad perlahan pada istrinya.

“Iya, Pak. Kita harus menjaga mereka baik-baik. Setelah beberapa kejadian kemarin, jujur, sempat terlintas keraguan di benakku, apakah kita sanggup melindungi mereka dari pengaruh-pengaruh negatif di kampung kita ini.”

“Kita harus yakin, Bu. Jika kekuatan pengaruh lingkungan kampung kita ini ada di level sepuluh, maka kita harus melipatgandakan pertahanan keluarga kita, bila perlu sepuluh kali lipat! Kita harus berada pada level 100, Bu!”

Aliya tersenyum pada suaminya. Ia tahu, keluarga merupakan landasan terpenting bagi perkembangan anak-anak mereka. Bekal pendidikan dari keluarga juga menjadi penguat bagi generasi penerus mereka dalam menghadapi beratnya kehidupan di masa mendatang.

“Insya Allah, kita akan segera mencapai level 100 itu, Pak,” ucap Aliya penuh keyakinan.

_________________________

Demikianlah cerpen berjudul “Level 100” ini. Aku berharap untuk mendapat kritik dan saran dari Sahabat-sahabat pengunjung blog ini, sehingga saat cerpen ini mejeng dalam buku Samarinda Under Attack, tidak akan malu-maluin.😀

28 thoughts on “Level 100

  1. yang aku suka, karakter ayah yang waktu marah tetep mendoakan kebaikan buat anak2nya dan anak2 pak usman..
    perlu ditiru itu

    gaya bercerita kaka akin makin oke kak.. tapi sekedar saran deh ya kak,, kan temanya kota samarinda nih.,. makin oke kalau ada bahasa daerah atau bahasa sehari2 kota samarinda..

  2. waduuww ada namaku di cerpen hehehe…Sptnya udah oke mbak…pesan yg disampaikan jelas, hanya menurutku (sama kayak mba niken)…cerita bahwa ini terjadi di Samarinda msh kurang deskripsinya, cuman ada di kalimat 1 dan 2 paragraf pertama ya….. #sok jd kritikus, pdhl blm pernah bikin cerpen hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s