Pasca Hajatan

Setelah hajatan pernikahan sepupuku kemarin, ternyata masih banyak hal yang harus dibereskan. Meskipun hidangan untuk tamu menggunakan jasa katering dan acara resepsi diadakan di gedung, namun tetap saja rumah harus dirapikan dan aneka perabotan harus dikembalikan pada tempatnya. Supaya tidak terlalu melelahkan, akupun mengerjakannya dengan motto “perlahan tapi pasti slowly”, yang artinya entah kapan selesainya. *berharap itu perabotan bisa bergeser sendiri

Keluargaku sangat bersyukur, karena hajatan yang kami adakan bisa berjalan dengan baik. Tak ada gangguan selama acara dan hidangan untuk para tamu juga cukup. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutuliskan mengenai pengalaman mengadakan hajatan kemarin. Mengenai acara adatnya, hidangannya, atau para undangannya, dll, merupakan hal menarik untuk diceritakan. Namun mood-ku seolah-olah lenyap.

Rencananya tanggal 3 Maret esok, keluargaku yang di Samarinda akan beramai-ramai ke rumah mempelai pria di Balikpapan, semacam acara ngunduh mantu. Namun semangat kami juga meredup.

Ya, keramaian acara pesta yang kami adakan kemarin, sementara ini berganti duka. Kakak sepupuku (laki-laki) yang tinggal di Sidoarjo, menghembuskan napas terakhirnya tadi malam. Beliau pingsan saat berada di kantornya di Lamongan, pada hari Selasa (26/2) dan harus dirawat di ICU karena mengalami perdarahan otak. Kebetulan pada hari Selasa itu tante dan omku mengantar sepupuku yang baru saja menikah, Mae, ke Surabaya karena sudah harus masuk kuliah. Jadi mereka segera ke Lamongan untuk melihat keadaan kakak sepupuku. Seandainya sisa cutiku masih ada, ingin pula aku terbang ke Sidoarjo untuk kopdar menengok beliau.

Dari pelajaran kuliah yang dulu kudapatkan dan dari pengalaman, prognosis perdarahan otak itu tidaklah bagus. Namun kami sekeluarga tetap berharap yang terbaik bagi beliau. Rupanya inilah jalan terbaik yang dipilihkan Allah. Syukurnya Allah telah memberi kami 2x kesempatan untuk berkumpul dengan beliau, yaitu saat pernikahan sepupuku di Bandung, lalu saat pernikahan sepupuku yang di Samarinda ini.

Kepergian kakak sepupuku ini menyisakan segudang cerita tentang kebaikan beliau. Masing-masing anggota keluargaku memiliki cerita tentang beliau. Tanggung jawab terhadap keluarga, bahkan sudah dimulai sejak beliau masih kecil, saat tak ada sebutirpun beras yang tersisa di rumah keluarga besar kami dulunya. Beliau membuat layang-layang untuk dijual, demi mendapatkan beras.Semoga anak-anak dan istri yang ditinggalkan diberikan kesabaran.

Sekianlah ceritaku. Tak semangat untuk meneruskan menulis. Mohon maaf, belum sempat untuk berkunjung ke blog Sahabat, padahal aku sudah sangat rindu untuk berkunjung.

11 thoughts on “Pasca Hajatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s