Bukti Tak Terbantahkan

“Mas…!” Rikmo Sadhepo mengguncang perlahan bahu Mudhoiso. Dibukanya topeng cakil yang dikenakan lelaki yang menjadi lawan mainnya di panggung. Seketika terlihat jelas wajah Mudhoiso yang membiru. Pelakon lain turut mengelilingi Mudhoiso yang telah berubah menjadi jasad.

Inspektur Suzana tercekat. Ia tak menduga sebuah tindakan pembunuhan terjadi tepat di depan hidungnya. Diambilnya selembar tisu dari tas cangklongnya dan sepintas memeriksa luka di leher Mudhoiso. Hanya sebuah luka dangkal dan darah yang mengalir pun tidak seberapa banyak. Wajah Mudhoiso yang membiru membuat Inspektur Suzana yakin kematian Mudhoiso bukan kerena kehabisan darah.

Layar panggung kembali dinaikkan. Inspektur Suzana bangkit dan memandang para pelakon serta kru Wayang Orang BlogCamp Budhoyo.

“Saya Inspektur Suzana. Saya harap tidak ada satupun kru yang meninggalkan gedung ini,” ucap Inspektur Suzana sebelum membuat panggilan ke kantornya.

Tak lama kemudian gedung Argo Mulyo, tempat diadakan pertunjukan wayang orang itu ramai oleh orang-orang berseragam polisi. Masing-masing mereka menjalankan tugas dengan sigap. Setiap kru diinvestigasi. Inspektur Suzana kembali duduk di kursi penonton. Penonton lain sudah diminta untuk meninggalkan gedung.

Inspektur Suzana memandang Rikmo Sadhepo. Perempuan cantik yang masih berpakaian Arjuna itu tampak tenang. Sebuah ketenangan luar biasa bagi seseorang yang baru saja menghunuskan sebilah keris ke leher orang lain. Terselip sebuah resah di hati Inspektur Suzana. Seperti ada yang sangat mengganggu pikirannya, namun ia belum bisa memastikan apakah itu. Kembali ia menatap keseluruhan panggung dengan gusar.

“Keris itu bersih…” ucap salah seorang bawahan Inspektur Suzana di ruangannya.

“Sudah saya duga…” lirih Inspektur Suzana sambil setengah menerawang.

Setelah bawahannya keluar, Inspektur Suzana kembali mempelajari laporan terkait kematian Mudhoiso. Sianida. Racun khas yang kerap digunakan untuk pembunuhan itu ditemukan dalam tubuh Mudhoiso. Profil lelaki setengah baya itu adalah penyendiri. Ia tidak terlalu membaur dengan pelakon yang lain. Hanya sesekali terlibat pembicaraan yang berkaitan dengan perannya. Mudhoiso tidak suka sembarang makan. Ia cukup hati-hati dengan membawa sendiri minumannya dalam botol. Botol maupun peralatan lain termasuk kostum cakil, tak ada teridentifikasi mengandung sianida.

Lalu Inspektur Suzana beralih ke Rikmo Sadhepo. Seorang perempuan muda yang sangat mencintai dunia perwayangan. Pembawaannya tenang dan tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Orang tuanya adalah pembuat topeng yang dipasarkan ke beberapa daerah. Ia baru mengenal Mudhoiso saat bergabung dalam Wayang Orang BlogCamp Budhoyo beberapa tahun sebelumnya. Tidak ada yang mengtahui ada  kaitan apa antara Rikmo dan Mudhoiso, selain hubungan rekan kerja.

Inspektur Suzana memberi perhatian lebih pada Rikmo. Ia menccoba mengiringi investigasi lanjutan pada Rikmo di ruang khusus kantor polisi. Dengan lancar ia menjawab setiap pertanyaan. Kecuali sebuah goresan kecil di leher Mudhoiso, hal-hal lain sama sekali tidak mendukung Rikmo sebagai tersangka. Tak ada petunjuk yang mengarahkan bagaimana bisa racun dengan kadar mematikan ditemukan dalam tubuh Mudhoiso.

“Sebentar. Maaf saya sela, Saudara Penyidik,” Inspektur Suzana buka suara, ada satu hal yang membuatnya sangat penasaran, “Saudari Rikmo, mengapa Anda begitu tenang pada penyidikan ini?”

Rikmo tersenyum tipis, “Karena saya memang tidak bersalah.”

Geram sekaligus kesal Inspektur Suzana melangkah keluar dari ruang investigasi. Iapun kembali ke ruangannya dan menatap foto-foto hasil penyelidikan yang ditemukan di Gedung Argo Mulyo. Buntu.

Hingga berberapa hari kemudian, Inspektur Suzana masih belum menemukan apapun. Rikmo diperbolehkan keluar dari tahanan sementara karena belum cukup bukti untuk menahannya. Sesuatu kembali menggelitik benaknya Inspektur Suzana. Wajah biru Mudhoiso seolah-olah memanggil-manggilnya untuk kembali datang ke Gedung Argo Mulyo. Setelah berdiri di depan panggung, pada barisan penonton, ia mulai untuk mereka-reka adegan wayang orang tragis itu secara berurutan, hingga kehebohan yang terjadi sesudah Mudhoiso ditemukan tidak bernyawa.

Leher Cakil tergores oleh keris, lalu ia tumbang —>Pertunjukan selesai, layar tertutup —>Terdengar jeritan, Mudhoiso ditemukan tewas —>Ramai orang mengerubungi jenazah Mudhoiso —>Tim dari kepolisian datang ke TKP.

Berulang-ulang Inspektur Suzana memikirkan adegan demi adegan. Semua terasa normal, namun ia tetap merasa ada sesuatu yang mengganjal. Tiba-tiba ia merasa mendapat pencerahan. Kini ia tahu apa yang begitu mengganggu pikirannya. Memang ada sesuatu yang terjadi pada rangkaian adegan itu.

“Kita akan ke rumah Rikmo dan memberinya status tersangka,” ucap Inspektur Suzana tegas kepada bawahannya melalui ponsel.

Rumah sederhana itu tampak tua, namun ditata apik. Inspektur Suzana dan beberapa ank buahnya memperhatikan keadaan. Sepasang topeng barong berukuran kecil dipasang di sisi kiri dan kanan pintu. Setelah beberapa kali ketukan, sebuah wajah cantik mencuat saat pintu terkuak.

“Bukankah saya tidak bersalah. Ada perlu apa Anda sekalian datang ke rumah saya?” tanya Rikmo ketus.

“Permisi, Saudari Rikmo Sadhepo. Sekali lagi kami ingin membawa Anda ke kantor polisi,” ucap Inspektur Suzana tegas, lalu ia memberi kode pada anak buahnya untuk segera bergerak. Inspektur Suzana mengedarkan pandangan dan melihat banyak kerajian topeng hias tertempel di dinding ruang tamu Rikmo.

“Periksa yang satu itu,” inspektur Suzana menunjuk sebuah topeng cakil yang sama persis dengan yang dikenakan Mudhoiso dalam pertunjukan.

Seorang penyidik melakukan tes singkat dan menemukan jejak sianida pada bagian dalam topeng cakil itu. Dua orang polisi segera memborgol tangan Rikmo.

“Saya tidak bersalah!” teriak Rikmo, sambil berusaha memberontak.

“Anda bisa memberikan penjelasan lebih lanjut bagaimana cara Anda menukar topeng cakil itu di kantor polisi,” kata Inspektur Suzana.

“Saya tidak bersalah…!”

“Si Mudho keparat itu yang bersalah…!”

“Dia rentenir sialan yang membuat orang tua saya mati…!”

“Lepaskan saya! Saya tidak bersalah…!

Jeritan-jeritan Rikmo perlahan lenyap dari pendengaran Inspektur Suzana, seiring perginya mobil polisi dengan sirene yang meraung-raung.

Rikmo Sadhepo, seorang anak manusia telah begitu lama menyimpan kesedihannya dan menjadi kebencian yang mengakar. Inspektur Suzana menghela napas. Beruntung ia mengingat ada seseorang yang membuka topeng cakil. Perlahan ia menutup pintu rumah sederhana itu dan melangkah kembali ke kantornya.

_____________________________________

Cerita ini ditulis dalam rangka membuat lanjutan Misteri di Balik Layar yang diadakan BlogCamp.

34 thoughts on “Bukti Tak Terbantahkan

    • Bukan digigit deh keknya😀
      Sepertinya ada semacam tali/karet yang terikat ke belakang kepala. Menurut pemikiranku, dinding sebelah dalam topeng itu sedemikian rupa bersentuhan dengan bibir/mulut. Ini yang menjadi jalan masuknya racun ke dalam tubuh. Kira2 begitu😀

  1. Edan…
    Kereh abis..

    Selalu kagum sama penulis fiksi…
    Apalagi kisah misteri kayak gini…

    Gimana ituh topeng yang bisa menggores leher sampe mati kin?
    Mohon dibikin sketsanya…hihihi…*kriminil*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s