[photofiction] Undangan

Undangan“Aku cinta kamu, Mas,” Antika menatap lembut lelakinya di sebuah cafe.

“Iya, aku tahu itu,” sahut Airlangga.

“Apakah kau juga cinta padaku?”

“Haruskah dipertanyakan lagi?”

“Aku bahagia, karena kau ada di depanku saat ini, Mas,” Antika lalu menggenggam tangan kekasihnya di atas meja.

Airlangga merasakan genggaman erat Antika. Iapun mengurungkan niat merogoh tasnya untuk mengambil sebuah amplop berisi undangan, yang bertuliskan namanya dan nama seorang wanita lain.

 

 

27 thoughts on “[photofiction] Undangan

  1. #nama di undangan itu kan masih bisa direvisi.. #heleh..😛

    Bundo punya niat bikin fotofiction juga kayak Akin.. entar klo udah ada idenya.

    • Macem fiksi mini ya? tapi bener kata rangtalu. lebih menarik kalau disebutkan semua nama tokohnya, jadi bisa buang kata ‘wanita lain’, biarkan pembaca menyimpulkan sendiri.
      keep on good work ya!

  2. dan sound effectnya adalaaaahhh ….

    jreng jeeeeennngggg !!!

    kamera … zoom in … zoom out … 17 kali … bolak-balik … mata melotot mulut menganga …

    seperti sinetron kejar tayang itu …

    Salam saya Kak

  3. Trus si cewek bilang, “Aku lebih rela kamu mati, Mas, daripada lihat kamu sama orang lain.” Akhirnya si Airlangga makin nggak berani deh ngasih tu undangan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s