Anak Band

Baru beberapa jam yang lalu salah seorang keponakanku, Dede, duduk bersamaku di ruang makan. Kami menyantap jagung keju buatanku. Ia bercerita, tepatnya aku bertanya-tanya tentang kegiatan yang dilakukannya pada malam pergantian tahun kemarin. Rupanya ia mengikuti sebuah festival band yang diadakan di salah satu mall di Samarinda. Aku pernah menuliskan tentang Dede yang pemalu, namun tetap berprestasi dengan menjadi anak band. Pada festival itu, band besutannya, “Back to Nature”, meraih penghargaan sebagai juara III.

“Band-nya Kakak Mila yang juara I,” kata Dede.

Aku tersenyum. Mila, adalah salah seorang keponakanku juga. Dia adalah anak dari kakak pertamaku, sedangkan Dede adalah anak dari kakak keduaku. Mila menjadi keyboardist dalam sebuah band beraliran jazz yang bernama “Hello, Freeday”. Ia menjadi satu-satunya anggota cewek dalam band-nya. Sebagaimana halnya Dede, Mila juga belajar memainkan alat musik secara otodidak. Berita tentang band-nya juga pernah dimuat di koran Kaltim Post. (versi online-nya disini)

Beberapa pekan sebelumnya, kedua keponakanku yang duduk di bangku SMA dan MAN ini juga pernah mengikuti festival band pelajar dan mereka masuk final (5 besar). Waktu itu Dede membawa bendera band lain, bukan Back to Nature, dan berhasil keluar sebagai juara I. Predikat ‘best keyboard‘ juga diraihnya. Sedangkan band Mila cukup berbangga bisa masuk final. Namun ternyata Mila ‘membalas’ kekalahan sebelumnya dengan menjadi juara I di festival band di malam tahun baru itu.

“Band Kakak Mila mainnya bersih, makanya bisa jadi juara I. Kalau band Dede, mainnya biasa aja,” ucap Dede sambil tersenyum.

Si Tante ini (aku, maksudnya) dan emak cukup bangga dengan prestasi para keponakan. Setidaknya kegiatan mereka jelas dan positif. Alhamdulillah mereka terhindar dari pergaulan remaja masa kini yang cenderung membuat sedih orang tua.

Namun…

Deep inside

Aku yakin, aku dan emak punya pemikiran yang kurang lebih sama. Emak memimpikan ada di antara cucu beliau yang menggeluti atau berprestasi di bidang agama, seperti menjadi qori, tahfiz Qur’an, sekolah di pondok pesantren, dll. Somethin’ like that lah🙂 Maklum saja, kekhawatiran akan kehidupan di masa mendatang ini cukup besar, karena ada kecenderungan orang-orang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari.

Rumah kakak pertamaku lumayan jauh dari rumahku, sedangkan kakak keduaku cukup dekat. Sehingga bila Dede mampir ke rumahku, tak henti-hentinya emak mengingatkan bahwa meskipun Dede menjadi anak band, harus tetap patuh sama orang tua dan tidak meninggalkan sholat 5 waktu. Semoga keluarga kami selalu berada dalam lindungan Allah Ta’ala.

16 thoughts on “Anak Band

  1. Keponakannya Mbak Makin hebat, belajar musik otodidak dan berprestasi. Dengan nenek dan Tante perhatian penuh seperti ini, insya Allah mereka juga jadi anak2 yang saleh. Amin

  2. ponakannya suka bermusik, tantenya suka menulis.. hebat!
    Dede dan Mila, jangan lupa selalu terapkan segala nasehat nenek dan tante Akin yaa.. Insya Allah bisa jadi qori yang keyboardist juga,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s