Pandangan Pertama: Sangat Suram

Membaca pemberitahuan yang tertempel di papan pengumuman Balai Kota Samarinda, membuatku bahagia. Hal tersebut terjadi di awal tahun 2005. Ada namaku tertulis pada sebuah daftar yang merupakan pengumuman hasil seleksi CPNSD. Aku lebih bahagia lagi, karena ternyata ada beberapa nama yang kukenal. Dari ratusan peserta tes CPNSD jurusan Keperawatan, yang lolos hanya 8 orang. Dari 8 orang itu, aku dan 4 nama lain saling kenal, karena kami berasal dari kampus yang sama.

Selanjutnya kami harus melengkapi berbagai persyaratan. Untuk yang lolos pada bidang kesehatan, juga diharuskan melewati semacam masa orientasi di Kantor Dinas Kesehatan Kota (DKK) Samarinda. Kemudian tiba saat penentuan Puskesmas mana yang akan menjadi tempat kami bertugas. Aku ditempatkan di sebuah Puskesmas rawat inap yang ada di utara Samarinda. Bersamaku juga ada 5 orang perawat (termasuk 3 orang temanku), 2 orang dokter umum dan 1 orang dokter gigi. Kami lalu memutuskan untuk meninjau tempat kerja kami yang baru, dengan menumpang mobil salah seorang dokter.

Saat melangkahkan kaki turun dari mobil, aku agak tertegun melihat bangunan di depanku. Sangat suram. Warna krem bangunannya, terlihat seperti tak terawat. Tulisan UGD berwarna hitam di atas papan berwarna putih bernoda, tergantung di atas pintu masuk. Ya, rupanya inilah tempat aku akan mengabdikan diri sebagai PNS dan menjadi bagian dari pemberi pelayanan untuk masyarakat.

Kondisi di dalam Puskesmas ternyata lebih suram lagi, padahal saat aku berkunjung itu adalah siang hari. Entah bagaimana kondisinya di malam hari. Tak ada mushola. Bagaimana kondisi kamar mandinya? Mungkin ada yang lebih memilih menahan pipisnya dari pada harus menggunakan kamar mandi itu.

Warna baru di tahun 2009 :)

Warna baru di tahun 2009🙂

Saat kupandangi teman-teman yang lain, sepertinya mereka tidak terlalu antusias dengan penempatan itu. Terlebih lagi lokasinya yang lumayan jauh dari pusat kota dan sulitnya mendapatkan sinyal ponsel.

“Tadi kuhitung-hitung, kira-kira hanya setengah jam saja waktu tempuh ke puskesmas ini dari kota,” ucap salah seorang temanku yang mengendarai sepeda motor saat menuju puskesmas itu.

“Oh, jadi cuma setengah jam ya,” timpal yang lain. Beberapa senyumpun mengembang. Apalah arti setengah jam bagi amor (anak motor).

Beberapa di antara kami bertempat tinggal di tengah kota, atau di sudut lain kota. Namun ada beberapa rumah dinas yang bisa kami tempati bersama-sama, agar tidak perlu berangkat jauh-jauh menuju tempat kerja. Fasilitas ini sudah dijanjikan untuk kami. Akhirnya kami pulang dari Puskesmas dengan membawa senyum.

Fakta selanjutnya, tak ada satupun di antara kami yang menangis-nangis memohon kesana-sini, atau mengandalkan koneksi, agar bisa dipindahkan/ditempatkan di Pusksesmas yang ada di kota. Bertahun-tahun kami bekerja di Puskesmas itu. Menikmati bekerja di tempat yang suram dan kebanyakan lampunya masih menggunakan lampu pijar. Perlahan-lahan kesuraman itu berganti. Cahaya kuning lampu, berubah menjadi cahaya terang bak siang, demi menyingkirkan sudut-sudut gelap yang dicurigai sebagai tempat munculnya penampakan. Lingkungan yang lebih bersih dan indah, jadi lebih menyegarkan pandangan.

_____________________

Pandangan Pertama Special Untuk Langkah Catatanku

37 thoughts on “Pandangan Pertama: Sangat Suram

    • Alhamdulillah, kami dapat bekerja dengan tenang. Meski memnag beberapa penampakan pernah terlihat, antara lain ular kobra di halaman dan ular sanca di kasur. Hadeeeh… sereem…

  1. rasanya saya pernah merasakan seperti ini ketika tahun 1994 saya di tempatkan di Pontianak. Pemahaman kalimantan yang masih terbelakang menimbulkan rasa was-was dari keluarga, namun saya meyakinkan diri bahwa disitulah saya harus memulai. Alhamdulillah sayapun bertaiahan 5 tahun sebelum beralih profesi sebagai pedagang. Ternyata apa yang dipikirkan sodara-sodara saya nggak terbukti, karena saya ditempatkan di Kota Pontianak yang lumayan ramai

  2. tapi sekarang si suram itu udah kinclong dan bikin Akin cinta.
    padahal kabarnya Akin bentar lagi bakal kena mutasi ke puskesmas bukik.. wkwkkk

  3. Heeee….daerah terpencil kadang kala memberikan kita suatu pelajaran yang indah mbak…dan saya pernah mengalaminya…tugas hanya berdua dan kendaraan hanya seekor kuda…tidak ada alkom…listrikpun nyala dari pkl 18.00 s/d 06.00. Tapi ada hikmah yang luar biasa

    • Hah? Gak kebayang deh kalo kerja mesti naik kuda. Untung kalo bisa naikinnya, kalo nggak…alamat jalan kaki deh😀
      Ternyata cerita2 para pengabdi ini benar2 beragam ya…😀

  4. ada kejadian serem ga mbak selama dinas di puskesmas itu?
    tapi no matter what happen ya, yg penting bisa berguna untuk masyarakat di sekitar kita🙂

    • Pengalamanku, kejadian serem sih pas ngelihat ular. Teman-teman pada naikin kaki ke kursi😀
      Siip deh. Tetangga puskesmas udah seperti tetangga sendiri di rumah😀

  5. Ini kok mirip pengalaman saya waktu pertama kali saya ‘bertugas’ jadi semacam tarzan di tengah kebun yang jauhnya 15 km dari dusun, hehehe. Dulu masih jarang-jarang orang punya motor, jadi harus jalan kaki. Untungnya pula hp belum ngetrend, jadinya nggak pernah punya pikiran tentang sinyal, listrik dsb. Pandangan pertama memang terasa …, gimana ya nyebutnya? Hampa gitu deh. Terasa jauh terasing dari dunia luar. Tapi toh, hari-hari selanjutnya saya begitu menikmati suasana yang ada.

    • Mungkin karena manusia butuh waktu untuk beradaptasi ya. Umumnya kemampuan manusia untuk beradaptasi itu sangat baik. Terlebih ada sebagian orang yang berprinsip “dibikin enak aja”😀

  6. Aku juga lulusan perawat mbak tapi belum bekerja😦 rindu saat-saat praktek di RS dulu bahkan sekarang aku ingin sekali membersihkan luka ganggren loh mbak😀 tapi hidup harus disyukuri…. Semoga selalu menyenangkan dengan pekerjaannya mbak Akin.

  7. Selamat Sore, Kak.😉
    Maaf baru berkunjung ke Puskemas. #eh.

    Eheem, dulu suram dan sekarang tampak indah ya, Kak. Eh, emangnya banyak penampakan ya, pas dulu itu, kak? #kepo.😛

    Ini kan puskesmas yang diceritakan waktu itu, pas lagi menikmati gorengan kemudian ada ibu2 ngerumpi GJ.😆

    Terimakasih sudah ikut meramaikan syukuran GA Langkah Catatanku, Kak . Tapi Balonnya mana?🙄

  8. Dan satu fakta lagi mbak..
    Aku nggak boleh pindah,,
    #&$€£@₩###pranggggggg **lempar bengkok ke sudut apotik**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s