Warung Mak Hani

Warung Mak Hani adalah judul tulisanku (Flash True Story) yang ada dalam buku Seorang Nenek di Bawah Pohon Kasturi. Tulisan itu berupa cerita tentang warung emak yang seru. Buku itu pernah kujadikan tali asih pada kuis lebaran yang kuselengarakan beberapa waktu yang lalu.

Alhamdulillah, setelah hampir 20 tahun membuka warung sembako, hingga kini warung emak masih eksis di kampung. Meski ukuran warung tidak bertambah besar, namun ukuran badanku pastinya bertambah lebar. Maklum saja, bahan cemilan selalu tersedia setiap hari di warung emak.:mrgreen:

Usai terjadinya kebakaran 3 pekan yang lalu, emak merasakan efek tidak langsung dari kejadian itu terhadap warung beliau. Menurut analisa beliau, pelanggan -yang sebagian besar adalah tetangga yang menjadi korban kebakaran- yang berbelanja di warung mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan beberapa hal, antara lain:

1. Sehabis kebakaran, para korban tak punya uang untuk belanja
2. Korban kebakaran mendapatkan sumbangan sembako dari berbagai pihak, jadi sementara ini belum perlu belanja karena masih ada stok.
3. Beberapa keluarga yang hanya menyewa rumah, pindah ke RT lain.

Namun emak tetap bersyukur, karena rejeki dari Allah Ta’ala tiada putus-putusnya. Pelanggan dari tempat lain masih tetap datang untuk berbelanja di warung emak yang sederhana.

Warung Mak Hani yang sederhana :)

Warung Mak Hani yang sederhana🙂

Warung Mak Hani memang menjadi wadah berkreatifitas bagi emak, di saat usia beliau yang sudah renta. Supaya tidak terlalu lelah, emak dibantu oleh salah seorang tanteku. Yang  jelas warung ini juga menjadi sumber penghasilan keluargaku. Setidaknya saat tanggal sudah sangat tua, aku bisa minta duit ke emak, buat beli bensin.😀

 

26 thoughts on “Warung Mak Hani

  1. warung ini adalah penghiburan buat eMak.. selain menambah penghasilan, warung ini juga ajang silaturrahim eMak dengan tetangga. Dengan mengelola warung eMak dipacu untuk terus berpikir, otak atik angka dan pengaturan penyediaan barang.. Insya Allah eMak akan jauh dari kepikunan.

    eMak, luar biasa. . semoga sehat selalu, aamiin.

    • Sesama pedagang? Toss😀
      Sedikit banyaknya saya juga diajarin emak untuk berdagang. Tapi ternyata saya lebih banyak berada di depan laptop dibanding di warung😦

  2. Saya paling suka berbelanja diwarung tradisional seperti ini Mba. Dan biasanya kita akan mendapatkan pelayanan seperti keluarga sendiri. He…x9 Sama seperti warung depan rumah saya.

    Sukses selalu
    Salam Wisata

  3. Semoga lancar jualannya, Maaak.

    O ya, waktu saya masih kelas 4 SD, Mak pernah berjualan gulai dan sayur di samping rumah, tepian gang. Nggak dibuat warung, cuma nyediain meja saja. Tetangga banyak yang memesan karena menurut mereka, masakan Mak itu sedap sekali. Sebulan bertahan, usaha kecil-kecilan Mak ini, meskipun laris manis bak kacang goreng, terpaksa harus tutup juga karena selalu merugi; besar modal daripada penerimaan. Mungkin Mak saya nggak punya bakat dagang atau apa. Yang jelas, Mak saya itu, kalau ada orang yang beli, apalagi orangnya miskin, Mak suka kasihan dan menggratiskan jualannya sama mereka. Belum lagi kalau ada orang yang mau beli ngutang, Mak saya malah bilang; “Udah, ambil saja. Tak usah bayar.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s