[Cerpen] Pelungsur

Inilah cerpenku yang dimuat di koran Kaltim Post, hari Minggu tanggal 9 Desember 2012 lalu. Cerpen ini bukanlah karya yang baru. Mungkin ada di antara Sahabat yang ingat kontes Kecubung 3 Warna yang pernah diadakan BlogCamp? Tulisan di bawah ini adalah cerpen bagianku (bagian 1), sedang Mbak YSalma dan Mamah Aline yang melanjutkan bagian 2 dan 3-nya. Bagi yang ingin membaca versi awalnya, ada pada tulisan berjudul Kisah Seorang Ibu. Beberapa bagian cerpen itu kuubah, kutambah sedikit sentuhan lokal, lalu kubuat ending versiku.

Aku menyadari bahwa begitu sulit bagiku untuk membangun konflik dalam setiap tulisanku. Mungkin beberapa bagian seperti ‘memaksakan’. Artinya, aku harus lebih giat lagi berlatih dan mesti lebih banyak lagi membaca. Ini juga saatnya aku mendapatkan feedback dari pembaca cerpen ini di blog. Karena aku tak bisa mendapatkan feedback dari pembaca koran.😀

Sebuah kisah sederhana bertema ibu ini kurasa sangat tepat untuk kutayangkan pada tanggal 22 Desember yang bertepatan dengan hari ibu.

Selamat menikmati ya, Sahabat…😉

___________________________

Pelungsur

Jam dinding di kamar bersalin ruang Mawar RSU A. W. Syahranie Samarinda menunjukkan pukul 6 pagi. Meskipun ruangan itu ber-AC, tetap terasa panas bagi seorang perempuan yang tengah menghadapi persalinan. Menurut keterangan dokter, tak ada penyulit sama sekali pada kehamilan perempuan itu, semuanya normal. Namun sejak 2 hari sebelumnya ia selalu merasa nyeri yang tak terperi dan sang bayi tak kunjung keluar dari rahimnya.

Sementara di luar kamar bersalin seorang lelaki menunggu dengan gelisah. Ia tak tahan melihat istrinya menahan sakit, sehingga memutuskan berada di luar saja. Miris hatinya mendengar jeritan sang istri. Lelaki itu termenung lama. Lalu ia memutuskan langkah penting yang akan diambilnya demi menolong istrinya.

*****

Minuk memarkir mobilnya di garasi. Ia baru pulang kerja sore itu. Kemacetan yang menjadi-jadi di Kota Samarinda membuatnya malas untuk mampir sekedar untuk  membeli makanan. Minuk langsung menuju dapur dan memeriksa meja makan, tak ada apa-apa disana. Dibukanya lemari tempat menyimpan makanan, tak ada pula masakan matang disana. Perutnya lapar. Sejak kehamilannya bertambah besar, ia jadi mudah lapar.

“Bu!” Minuk berteriak dari dapur memanggil ibunya.

Seorang wanita yang sudah keriput disana-sini, masuk ke dapur. Dia adalah Bu Anik. Di gendongannya ada Andi, putra dari Minuk yang berusia 2 tahun.

“Oh, kamu sudah pulang, Nuk,” kata ibu itu sambil mengusap-usap punggung Andi.

“Mengapa ibu tidak masak? Minuk kan kelaparan, Bu. Bagaimana nanti kalau Mas Yus pulang dan tidak ada apa-apa di rumah?”

“Ibu tak sempat, Nuk. Tadi habis ibu cucian Andi rewel,” Bu Anik tak ingin berterus terang bahwa sebenarnya ia masih merasa tidak sehat meski sudah lebih dari sepekan ia keluar dari rumah sakit.

“Kok tidak sempat? Mestinya Andi ibu taruh saja di kamar. Yang penting ibu masak. Aku kan tidak mungkin masak, Bu. Aku harus kerja di kantor,” ucap Minuk dengan nada meninggi.

“Iya, lain kali ibu akan masak,” ibu itu menjawab dengan lembut. Ia tak ingin menerbitkan kemarahan putri sulungnya. Bu Anik tidak bisa membayangkan kekasaran apa yang akan Minuk lakukan bila marah.

Minuk bergegas ke kamarnya dan mengganti pakaian kantornya dengan pakaian rumahan. Ia mengambil telpon genggam dari saku tas, kemudian membuat panggilan.

“Halo, Mbak Minuk,” terdengar suara Hadi, adiknya, di ujung sambungan telpon.

“Di, mbak sudah cek rekening. Mengapa transferanmu belum masuk? Ibu sudah lebih seminggu keluar dari rumah sakit. Awas loh kalau kamu tidak ikut urunan.”

“Iya, Mbak. Tempo hari aku lupa. Nanti aku transfer,” sahut Hadi.

“Jangan cuma iya-iya saja. Kamu ini, enak-enak tinggal di Balikpapan, aku yang repot mengurus ibu waktu di rumah sakit. Aku tidak ikhlas mengeluarkan duit hanya untuk biaya rumah sakit,” Minuk lalu memutuskan sambungan telpon.

Bu Anik mengurut dada. Ia sudah sangat paham watak putri sulungnya yang keras. Mungkin salahnya juga sebagai orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya. Ia dan almarhum suaminya terlalu memanjakan Minuk sejak kecil. Bu Anik meraba pipinya yang dulu pernah terkena tamparan Minuk, karena ada keinginan Minuk yang tidak dipenuhi ibunya.

Minuk adalah putri sulung Bu Anik yang sehari-harinya bekerja di salah satu kantor pemerintah di bilangan Jl. Kesuma Bangsa Samarinda. Minuk memiliki 3 orang adik, yaitu Yati yang juga tinggal di Samarinda, Hadi yang tinggal di Balikpapan dan Tina si bungsu yang tinggal bersamanya di sebuah rumah kecil peninggalan suaminya.

Usai menidurkan Andi di kamar, Bu Anik merebahkan diri di kasur. Baru kali itu ia sempat beristirahat sejak seharian mengurus Andi dan membereskan rumah Minuk. Meskipun ia diperlakukan bagai pembantu, ia tak keberatan. Ia sangat menyayangi anak-anaknya, apalagi cucu-cucunya. Ia menganggap mengurus cucu sebagai hiburan di masa tuanya.

Bu Anik memegangi kepalanya. Sakit kepala mulai menyerangnya lagi. Kemudian ia mendengar seseorang membuka pintu kamar.

“Ibu kenapa?” tanya Minuk, “masih sore kok ibu tidur?”

“Kepala ibu sakit sekali, Nuk,” jawab ibunya.

“Loh, belum sebulan keluar rumah sakit, kok ibu kambuh lagi?”

 Kemudian Bu Anik mendengar Minuk membuat panggilan melalui telepon genggamnya, “Yat, kamu datang ke sini secepatnya. Bawa ibu pulang ke rumahnya saja.”

“Memangnya kenapa, Mbak?” Tanya Yati.

“Ibu kambuh lagi. Bawa pulang saja. Mending ibu di rumahnya. Di sana ada Tina yang bisa mengurusi ibu. Kita kan sibuk semua,” perintah Minuk pada Yati.

Segera setelah Minuk ke luar dari kamar, Bu Anik bangun meski kepalanya masih terasa seperti dihantam palu godam. Dengan mata berkaca-kaca ia membereskan tas yang berisi pakaiannya.

Hari sudah gelap saat Bu Anik tiba di rumahnya dengan diantar Yati.

“Maaf ya, Bu. Yati tidak bisa menemani ibu. Anak-anak saya tinggal di rumah. Bapak mereka belum datang,” ucap Yati. Bu Anik hanya mengangguk lemah.

Hingga sebulan kemudian, Bu Anik merasa pulih kembali karena dapat beristirahat dengan baik. Tina sangat memanjakannya. Sepulang sekolah, Tina yang melakukan segala aktifitas membereskan rumah atau memasak.

Bu Anik dapat duduk santai di depan rumah sambil menyantap teh hangat dan beberapa buah kue bingka gula merah kesukaannya yang dibeli di warung tetangga. Seperti halnya pagi itu. Baru sebuah bingka yang masuk ke perut Bu Anik, saat ia melihat Yus, suami Minuk, memasuki halaman rumahnya.

“Bu… Sudah dua hari Minuk kesakitan di rumah sakit. Dia belum juga melahirkan…”

Pandangan Bu Anik menerawang, lalu sejurus kemudian ia beranjak ke dapur dan mencuci kakinya hingga bersih.

*****

            Yus bergegas masuk ke dalam kamar bersalin. Ia meninggalkan seorang perempuan tua di kursi tunggu. Yus lalu menyodorkan sebotol air mineral kepada istrinya, Minuk. Namun Minuk menepis botol itu.

            “Aku tak bisa minum sekarang, Mas. Sakit sekali rasanya!” ucap Minuk dengan kasar.

            “Minumlah, Nuk. Itu adalah air cucian kaki ibumu,” ucap Yus dengan tegas.

            “Mengapa aku harus minum air cucian kaki ibuku, Mas?” tanya Minuk sengit.

            “Apakah kamu lupa atas segala kesalahan yang telah kamu perbuat kepada ibumu selama ini?”

            Minuk terdiam. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang perlahan basah. Lalu dengan tangan gemetar ia meraih botol itu dan meminum beberapa teguk isinya.

Yus kembali ke luar kamar bersalin dan duduk di kursi tunggu di samping perempuan tua yang tak lain adalah mertuanya, Bu Anik. Ia berdo’a dalam hati demi istri dan buah hati mereka. Tak lama berselang, terdengar suara tangis yang kencang dari dalam kamar bersalin. Yus lalu mencium tangan mertuanya, seiring dengan jatuhnya titik air mata di pipinya.*****

Selamat Hari Ibu ya, Sahabat…🙂

34 thoughts on “[Cerpen] Pelungsur

  1. Salam Takzim
    Buat ibunya kaka Akin
    SELAMAT HARI IBU YA
    Semoga hari ini ibu dibahagiakan
    Semoga hari ini ibu ditinggikan
    Semoga hari ini ibu dihapuskan dosa
    Semoga hari ini ibu selalu tersenyum
    Semoga hari ini ibu selalu ceria
    Semoga hari ini ibu selalu segar
    Semoga hari ini ibu selalu sehat
    Semoga hari ini tanpa air mata
    Buat ka akin, maap baru hari ini hadir kembali
    Cerita kaka akin selalu memberi makna
    sayang kontes 3 kecubung dari tim kami kalah
    Salam Takzim Batavusqu

  2. tokoh sang ibu betul2…. kasih sayangnya tak terbatas meski anaknya tidak memperlakukan dengan halus…. memang kasih sayang ibu tak terbatas….🙂

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Akin…

    SELAMAT HARI IBU untuk semua anak-anak dan ibu-ibu di Indonesia yang meraikan HARI IBU pada hari ini. Sebagai menghargai ibu yang dicintai, saya menghadiahkan 2 AWARD HARI IBU untuk dijadikan kenangan dari Malaysia.

    Silakan kutip award-award tersebut di sini:

    http://webctfatimah.wordpress.com/2012/12/22/ct143-22-disember-2012-selamat-hari-ibu-untuk-sahabatku-ibu-ibu-di-indonesia/

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

  4. Luar biasa utk ibunda kita, lebih tepat kalo ibu disebut-sebut sebagai “wanita paling setia”

    meskipun kita udah dewasa…meskipun udah hidup mandiri, ibunda kita selalu memikirkan kita, peduli ama kita……

    Selamat hari ibu, cintailah ibu kita, dengan sepenuh cinta… Karena Rasul saja menyebut 3 kali nama ibu sebagai orang yang patut kita hormati….

  5. inilah mungkin yang dimaksudkan sebagai tanda-tanda akhir jaman, Budak wanita melahirkan tuannya, yang dengan sengaja, atau tidak, dengan paham, atau tidak betapa banyak anak-anak yang sukses secara ekonomi dan orang tuanya dijadikan sebagai pelengkap dalam urusan rumah tangga. Orang tua diminta menjaga cucunya, membersihkan rumah tangga masak dan seterusnya. Padahal tanpa sadar, mereka seolah ‘memperkerjakan’ orang tuanya di rumah nya sendiri. Nau’dzubillah, semoga kita dijauhkan dari perilaku-perilaku yang demikian. Karena kita anak memiliki kewajiban menghormati dan memuliakan orang tua, bahkan berkata ‘ah’ saja tidak diperbolehkan.
    Wallohu’alam

    • “Budak wanita melahirkan tuannya” Saya baru tau, ternyata ada ungkapan seperti itu, Pak…
      Semoga kita tidak memberatkan kehidupan orang tua, terutama ibu kita…

  6. beuh bagus amat sampai sampai dipublikasikan di kaltim post ini kakakin yah betapa mulianya seorang ibu dan kita harus menjaga ibu kita jangan sampai kita meninggalkannya ketika tua dan pada waktunya jompo kita malah meninggalkan dipanti na’udzubillah

    • Betapa sepinya hidup orang tua di kala rentanya tak ada anak-anak yang menemani…
      Semoga kasih sayang kita tak putus2nya untuk kedua orang tua kita, terutama ibu…

  7. […] bisa menambah pembaca yang jarang bersentuhan dengan internet. Aku juga mau seperti kakaakin yang cerpen beliau berhasil dimuat di koran, tapi aku gak pernah nulis cerpen. Jangankan nulis, bacanya aja jarang. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s