Pasien itu…

Pasien memang aneka macam tingkahnya. Sekian lama bekerja, sedikit banyaknya aku dan rekan-rekan mengenali bagaimana watak beberapa pasien yang kerap datang berobat ke puskesmas kami. Ada yang biasa saja, ada pula yang sulit untuk dihadapi.

Ada pasien yang setiap kali datang selalu minta suntik meskipun sebenarnya tidak perlu, ada pula yang malah ketakutan saat harus disuntik. Ada pasien yang meminta macam-macam obat untuk mengobati setiap keluhannya, ada pula yang mengomel saat diberikan beberapa jenis obat. Ada yang sakit ‘pura -pura’ tetapi keukeuh minta surat istirahat, ada pula yang tetap ingin bekerja meski sedang demam.

Yang agak ‘sulit’ adalah saat berhadapan dengan pasien yang menggunakan kartu jaminan kesehatan berupa Jamkesmas, Jamkesda atau Jampersal. Pasien dilayani terlebih dahulu, kemudian di akhir bulan pihak puskesmas melakukan klaim ke Kantor Dinas Kesehatan Kota. Pemerintah memberikan janji untuk bantuan pengobatan, namun yang dipahami oleh masyarakat adalah pengobatan secara gratis. Sedangkan pada kenyataannya pemerintah tidak menyediakan obat-obatan secara lengkap, bahkan untuk pengobatan dasar sekalipun. Ini sih yang terjadi di puskesmas rawat inap tempatku bekerja. Keadaan bisa saja berbeda di tempat lain.

Beberapa hari yang lalu ada orang tua (bapak) pasien yang mengeluh terlalu banyak membayar saat anaknya melahirkan, padahal menggunakan Jampersal. Bapak itu kemudian marah-marah dan ingin merobek poster pengumuman Jampersal yang ada di dinding Puskesmas. Syukurlah, akhirnya bapak itu bisa paham bahwa yang dijamin oleh Jampersal hanya sebagian kecil dari total biaya. FYI, untuk Kota Samarinda, tarif persalinan normal yang tertulis dalam Perda adalah Rp 400.000. Biaya itu belum termasuk bila ada luka robek yang harus dijahit, pemasangan infus, biaya perawatan, dll. Ada tulisan informatif tentang pelayanan Jampersal yang bisa dibaca disini.

Kejadian terbaru adalah kemarin, rekanku menceritakan bahwa ada seorang bapak pemegang kartu Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) Samarinda meminta untuk dirawat inap. Padahal sebenarnya menurut dokter, bapak itu bisa dirawat jalan. Setelah penjelasan ini dan itu, akhirnya pasien tetap ingin dirawat. Rekanku menjelaskan bahwa ada beberapa item yang harus dibayar, karena pelayanan Jamkesda Samarinda tidak sepenuhnya gratis. Lalu bapak itu nyeletuk, “Coba gaji kalian ini yang dipotong untuk membantu membayar biaya pengobatan.”

Rekanku balas nyeletuk, “Gaji nggak seberapa, kok mau dipotong toh, Pak.”

Maklum saja, rekanku ini adalah pegawai honor puskesmas yang gajinya ‘hanya’ separuh lebih sedikit dari UMP yang ditetapkan Gubernur Kaltim beberapa waktu yang lalu.

(Mungkin Jamkesda ini mirip dengan Kartu Jakarta Sehat (KJS) di Jakarta ya, Mbak Nique?)

Pasien memang beraneka rupa, namun tak sedikit pasien menjadi hiburan bagiku dan rekan-rekan. Banyak pula di antara mereka yang mengajak bercanda, atau tidak mencak-mencak saat kami mencoba untuk menjelaskan tentang pelayanan puskesmas. Ada lagi, anak-anak yang manis dan unyu-unyu juga mejadi penyegar bagi kami kala bertugas.

27 thoughts on “Pasien itu…

  1. hehhe.. beraneka ya Kin.. kitanya yang tak boleh terbawa emosi
    karena yang macam begitu akan tetap ada sepanjang hari, bulan dan tahun.
    jadi dimaklumi saja.. yang penting lakukan tugas kita dgn baik.

    • Bundo, saya ini terkenal kalem loh kalo menghadapi pasien. Tapi kok ya sempat bernada tinggi juga saat beberapa hari yang lalu saya menghadapi keluarga pasien yang mengalami kecelakaan. Salah saya juga, mereka kan sedang panik.

  2. jamkesda produk keluaran foke😀
    gak pernah punya dan gak pernah dengar juga bagaimana penerapannya di lapangan. sepertinya kak monda lebih tahu deh.

    maaf mbak akin, masyarakat mungkin sudah JENUH dan capek dijadikan bola pingpong, sehingga di dalam benak mereka cuma merekalah yg susah. Lupa klo yg melayani mereka itu pun bagian dari masyarakat ketika mereka pulang ke rumah. apalagi, tak sedikit juga petugas yg bekerja setengah hati, sehingga yang lain pun terkena g etahnya.

    semoga tetap bersemangat untuk melayani dengan sepenuh hati ya mbak, sampaikan salam hangat saya buat mbak2 perawat di sana🙂

    • yg dibilang Akin betul semua, di sini ya sama saja ….

      Jamkesda, SKTM perlu verifikasi tempat tinggal…yang dapat hanya golongan tak mampu atau kurang mampu

      untuk mendaftar yg sekarang ini tak pakai verifikasi ….so…..
      berjubel orang datang seperti rebutan pembagian zakat yg bikin heboh ……, padahal petugas kita hanya segitu2nya…
      dan kita lebih memilih merawat yang sakit dulu…

  3. ternyata komentarku di rumah mbak Ni, kayaknya bisa dimasukkan di sini
    ini copasannya:
    sama halnya dengan operasi sesar (bener nggak nih tulisannya) kelahiran, kan ada tuh yang gratis. Ternyata menurut salah satu kerabat yang berprofeesi sebagai perawat meski gratis teryata fasilitas yang diterima dengan yang berbayar (walo paling murah sekalipun), dari segi peralatan dan fasilitas yang digunakan. Katakanlah yang berbayar itu kelas 1 skornya sakitnya 2, kelas dua 5, kelas 3 10 dan yang gratis 50 …
    Jadi, yang namanya gratis tetap saja ada perbedaan dengan yang ngeluarin cring-cring

    • Yang jelas, kelasnya beda…😀
      Tapi keknya kelas 3 yang bayar dan kelas 3 yang gratis sama aja deh kualitas pelayanannya… Tapi, entah lah ya, mungkin beda RS beda kebijakan.🙂

  4. Jika bekerja di bagian pelayanan, baik pelayanan untuk masyarakat maupun anak sekolah tuh memang membutuhkan kesabaran ya, Kak.
    Masyarakat ditempatku mempunyai pemahaman, jika mempunyai kartu jamkesma berarti berobatnya geratis.

    Mungkin perlu diluruskan lagi, suapya aangapan masyarakat itu tidak mbleber2, jadi kalau berobat ke puskes tidak mencak-mencak.😆

    kak, ikut GA aku ya? Kalau gak awas lho. ..😀

    • Janji pengobatan gratis gak diiringi dengan kelengkapan sarana dan obat2an. Serba salah jadinya.
      Menegangkan banget ternyata saat menghadapi orang yang mencak2, Dah. Benar2 ajang latihan buat pribadiku🙂

  5. Mohon Maaf Kakaakin …
    Saya paling sebal jika ada orang yang sotoy … tidak tau unjung pangkal …
    tidak tau permasalahan dengan baik …
    tetapi ngomong seenaknya …

    Semoga Kakaakin dan kawan-kawan diberikan kesabaran untuk menghadapi tingkah pasien yang kadang kala kepintarannya seolah melebihi ensiklopedia itu ..

    salam saya Kak

  6. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Akin…

    Karenah manusia tidak dapat kita duga terutama yang sakit tentu banyak tingkah yang membuat sabar kita hilang. Saya memahami tugas jururawat seperti mbak Akin kerana dalam keluarga saya ada 3 orang yang bertugas seperti mbak.\

    Alhamdulillah, saya di antara orang yang tidak mahu menyusahkan jururawat kerana itu saya selalu menjaga kesihatan diri agar selalu sihat.

    Salam sore mbak dan bersabarlah banyak-banyak.😀

  7. Sosialisasi program yang tidak tuntas menyisakan bara masalah di tempat layanan seperti masalah jaminan layanan kesehatan ini ya mbak. Selamat melayani ya mbak, kesabaran dan kecekatan rekan2 perawat ujung tombak layanan kesehatan. Salam

  8. Hmm…gitu ya ujiannya jadi seorang perawat, mungkin masyarakat menganggap semua biaya kesehatan yang dimaksud gratis seratus persen,,masyarakat tidak salah, permerintahlah yang keliru, seharusnya beberapa item yang tidak termasuk dalam Jamkesda dll nya dijelaskan dengan gamblang, sehingga perawat tidak menjadi sasaraan kemarahan pasien😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s