Kebakaran itu… (part 2)

Akhirnya aku mendapatkan waktu, energy dan mood untuk menuliskan cerita tentang kebakaran yang terjadi di kampungku, Samarinda Seberang, pada hari Selasa (4 Desember 2012) lalu.

Selasa malam lalu, bakda Magrib, aku sedang berbincang-bincang dengan temanku yang datang berkunjung ke rumahku. Aku menanyakan kabarnya dan ia menceritakan tentang kehamilannya yang sudah memasuki usia 7 bulan. Di rumahku listrik sedang padam, jadi kami menggunakan penerangan lampu emergency.

Hingga bakda Isya percakapan di antara aku dan temanku masih berlanjut. Tiba-tiba kami mendengar suara teriakan di luar rumahku.

“Api!! Apiii!”

Kebakaraaan! Kebakaraan!”

Aku dan temanku bergegas ke luar dan kami melihat kobaran api telah membumbung tinggi. Aku tahu api itu berasal dari tempat penjual bensin eceran yang jaraknya dua rumah dari rumahku ke arah kanan. Dengan pencahayaan yang minim, aku dan keluargaku segera mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Aku mengangkut tas cangklongku yang berisi lappy tercinta. Emak mengumpulkan segelintir uang yang kami miliki di rumah, seperti uang hasil penjualan di warung emak. Tanteku mengamankan buku catatan utang dan piutang kami. Sementara pamanku, adik emak yang juga tinggal bersama kami, bersikap lebih tenang.

Orang-orang sudah ramai berusaha menyelamatkan barang mereka. Jalan raya semakin padat. Aku lalu menurunkan sepeda motor dari teras dan  meletakkannya agak jauh dari rumah. Lalu aku kembali ke rumah dan meminta orang untuk melepaskan tabung gas hijau kami dari kompor dan membawanya keluar. Jerigen minyak tanah yang banyak terdapat di warung juga kami keluarkan, untuk menghindarkan kebakaran yang lebih parah. Setelah kami rasa cukup, aku lalu mengajak emak, tante dan paman untuk menjauh dari rumah kami dan membiarkan pintunya dalam keadaan tertutup.  Aku juga membawa sebuah lamu emergency bersamaku. Banyak orang  yang menawarkan bantuan untuk mengeluarkan barang atau perabotan kami, tetapi kami menolaknya. Kami sudah merasa cukup dengan apa yang kami bawa.

(Aku sudah lupa dengan temanku yang berkunjung tadi. Alhamdulillah, ternyata dia langsung pulang sebelum kebakaran sempat meluas. Aku cukup khawatir dengan perutnya yang besar bila ia berada di antara kerumunan orang-orang yang panik)

Aku, emak dan tante berdiri sekitar jarak 2 rumah dari rumahku. Kami terus memperhatikan kobaran api yang dengan mudahnya semakin membesar, karena semua rumah di sekitar lingkunganku terbuat dari kayu. Sementara itu mobil pemadam kebakaran mulai berdatangan. Aku melihat api sudah menghampiri pucuk atap rumah yang berada tepat di sisi kanan rumahku. Aku juga mendengar teriakan orang-orang bahwa api juga menjalar hingga ke bagian belakang. Kami semakin gencar mengucapkan zikir dan do’a.

Aku merasa sangat ngeri dan takut saat melihat api yang semakin membara. Aku lalu berteriak sejadi-jadinya dalam derai air mata, bertakbir dan memohon ampun pada Allah. Kakakku yang tinggal di RT sebelah kemudian datang dan menghampiri kami. Aku dibisikinya berbagai kalimat yang intinya agar aku tenang dan berpasrah pada Allah, bahwa harta benda kami hanyalah titipan-Nya dan kami harus yakin bahwa Allah pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik.

Sebenarnya aku bukan takut akan kehilangan rumahku, atau secuil harta benda di dalamnya bila dilalap api. Tetapi aku ngeri melihat api yang menjilat-jilat itu, karena aku merasa seolah-olah itu merupakan amarah Allah kepada kami dan semua penghuni kampungku. Di lingkungan kami berdiri megah sebuah masjid bersejarah, yaitu Masjid Shirathal Mustaqiem, namun ternyata hanya segelintir warganya yang turut memakmurkan masjid. Jangan dikata para pemudanya, sangat membuat miris.

Setelah kedatangan kakakku itu, akupun mengheningkan do’aku. Lalu aku mengajak emak dan tante untuk mengungsi ke rumah tante dari salah seorang kakak iparku yang agak jauh dari lokasi kebakaran. Tak lagi kami pedulikan bagaimana kondisi rumah kami. Di rumah tempatku mengungsi ternyata juga ada beberapa keluarga lain yang sudah jelas rumahnya habis tak bersisa.

“Motor Si Acong terbakar. Aku juga baru beli televisi. Apa mau dikata. Semua adalah milik-Nya,” ucap seorang lelaki dengan wajah tersenyum. Aku salut akan ketabahannya.

Beberapa jam kemudian aku mendapat telepon dari sepupuku. Rupanya ia sedang berada dalam rumah kami. Alhamdulillah, ia mengabarkan bahwa rumah kami aman. Banyak orang dan keluarga kami yang membantu menyiram dinding rumahku dari dalam dan menyiram atap dari luar. Aku kemudian menyadari bahwa paman tidak berada bersama kami di tempat pengungsian. Aku baru tau ternyata beliau masuk kembali ke dalam rumah dan melakukan apa saja demi menyelamatkan rumah yang rupanya sudah mulai dijilat api.

Mendengar rumah yang sudah aman dan api yang mulai bisa dipadamkan, keluargaku merasa lega. Berulang kali kami mengucap syukur. Kami sebenarnya tak sabar ingin segera kembali ke rumah, namun kakakku memperingatkan bahwa kondisi masih belum benar-benar aman. Asap kebakaran bisa sangat berbahaya bila terhirup paru-paru. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumah tempat kami mengungsi itu.

Keesokan paginya, setelah kami melaksanakan sholat Subuh, kami lalu memutuskan untuk kembali. Aku masih melihat asap ada di beberapa titik lokasi kebakaran.

Sudah pagi, masih ada asap di lokasi kebakaran

Sudah pagi, masih ada asap di lokasi kebakaran

Beberapa jama’ah perempuan yang baru pulang dari masjid memeluk dan menciumi emak. Mereka mengucap syukur atas selamatnya rumah kami. Setelah beberapa saat melihat-lihat lokasi kebakaran, kami lalu masuk ke dalam rumah dan menemukan rumah sangat berantakan. Beberapa dinding sengaja dijebol agak tidak dimakan api. Drum-drum tempat penampungan air jadi kosong karena isinya dipakai untuk menyirami dinding rumahku. Kulihat bagian belakang rumahku yang merupakan kamar pamanku, dindingnya berlubang.

Lubang di kamar karena sekeping papannya terbakar

Lubang di kamar karena sekeping papannya terbakar

Dinding rumah setelah ditambal

Dinding rumah setelah ditambal

Alhamdulillah, Allahuakbar! Selain sedikit dinding, hanya ada sedikit atap seng dapurku yang rusak akibat diinjak orang saat berusaha memadamkan api dengan menggunakan semprotan pemadam kebakaran. Subhanallah, hanya sedikit kerusakan yang terjadi di rumahku.

Namun aku kemudian sadar, jangan sampai keluargaku “bahagia di atas penderitaan orang lain”. Kami memang sangat wajib bersyukur, tetapi kami tetap harus berempati kepada para tetangga yang tertimpa musibah.

Puing-puing yang tersisa...

Puing-puing yang tersisa…

15 thoughts on “Kebakaran itu… (part 2)

  1. awalnya Bundo mengira kejadiannya masih jauh dr rumah Akin..
    ternyata Akin menjadi saksi peristiwa kebakaran tsb, merinding membayangkan perasaan Akin pada hari itu..

    Alhamdmulillah, Emak masih dikasih kesempatan sama Allah untuk menempati kembali rumah. Dan bagi yang kehilangan harta bendanya, semoga di beri ketabahan.. Allah selalu menyayangi.

  2. …………jangan sampai keluargaku “bahagia di atas penderitaan orang lain”.

    melakukan hal ini sering tanpa kita sadari mbak, beruntunglah kita klo cepat eling ya. Subhanallah ya mbak, karena Allah masih melindungi mbak dan keluarga. semoga keluarga korban kebakaran lainnya diberi kekuatan dan ketabahan.

  3. Ya ALLAH …
    Semoga tidak terjadi lagi ya Kak …
    Semoga tidak terjadi lagi …

    Saya bersyukur Kakaakin sekeluarga tidak apa-apa …
    Rumah pun selamat dari amukan Api …

    Salam saya Kak

  4. semoga tidak terjadi ya kak..
    tau banget gimana paniknya, soalnya beberapa bulan lalu rumahku juga hampir kebakaran.. mungkin kapan2 aku ceritain di blog deh kak

  5. Ya Alloh Mbak, Alhamdulillah wasyukurilah, keluarga masih dilindungi dan rumah masih bisa diselamatkan. Lama gak BW, kirain kebakaran apa-an eh ternyata beneran. Semoga yang terkena musibah kebakaran diberi ketabahan dan kesabaran.

  6. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,
    semoga Alloh Ta’ala melimpahkan kesabaran pada seluruh warga di kampung Mbak Akin. Dan ini menjadi pembelajaran bersama akan makna hidup, dan setelah semua terlewati semoga masjid indah itu menjadi semakin makmur karena itu menjadi penenteram kehidupan bermasyarakat

  7. Syukur keluarga kakaakin selamat dan kerusakan rumah terkendali. Ketenangan membimbing emak keluar rumah ke jarak aman refleksi kendali diri. Salam kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s