Berduka dan Kehilangan

Pernahkah Sahabat memperhatikan orang yang sedang mengalami berduka dan kehilangan? Atau mungkin Sahabat sendiri yang mengalaminya? Beberapa hari yang lalu ada seorang ibu masuk UGD Puskesmas tempatku bekerja. Ibu itu sangat terpukul karena baru saja kehilangan adiknya, sementara ada beberapa anggota keluarga yang lain sedang sakit. Ia sama sekali tidak mau membuka mata ataupun berbicara, terlebih-lebih makan dan minum. Ia hanya terbaring lemah, seperti orang yang pingsan.

Aku teringat akan tulisan lawas di blog ini mengenai kehilangan, yang berjudul If I am loosing you... Di tulisan itu aku mengutip pelajaran kuliahku tentang “Berduka dan Kehilangan” (Loss and Grieving). Berduka dan kehilangan ini bukan hanya kaitannya dengan adanya orang tercinta yang meninggal, namun termasuk juga terserang penyakit yang sulit disembuhkan, dll. Ada beberapa tahapan yang biasanya dilalui setiap orang saat mengalami kehilangan. Kita akan bisa melihat, kira-kira ibu pada ceritaku di atas berada pada tahapan yang mana. (Sekalian saja kutulis ulang pada postingan kali ini).

Tahapan-tahapan kehilangan:

1. Denial (penyangkalan).

Biasanya hal pertama yang kita rasakan saat kehilangan adalah MENYANGKAL. Kata-kata yang sering terdengar misalnya : “ah, tidak mungkin deh aku terkena penyakit…” atau “tidak mungkin dia pergi secepat itu…”. Denial adalah normal. Kadang seseorang yang didiagnosis suatu penyakit akan pergi ke rumah sakit atau dokter yang lain untuk mendapatkan opini yang berbeda. Bila ia merasa tidak puas, maka ia akan pergi lagi ke tempat lain.

2. Anger (marah)

Tahap kedua ini yaitu marah atau menyalah-nyalahkan orang lain, misalnya: “Mengapa aku sih yang terkena penyakit ini…?” atau “Ini gara-gara rumah sakit yang perawatannya buruk…” atau “Mengapa aku dipecat sih?”. Tahap ini agak berbahaya, karena ada sebagian orang sangat susah ‘mengikhlaskan’ hingga waktu yang lama, jadinya dia selalu didalam kemarahan. So, kita mesti bisa ‘memaafkan’ dan ‘merelakan’ supaya kita bisa melalui masa berduka dengan mulus.

3. Bargaining (tawar-menawar)

Tahap ketiga ini biasanya digambarkan dengan kata ‘seandainya’, misalnya “Seandainya dulu aku menjaga kesehatan…” atau “Seandainya dulu aku bekerja dengan rajin…”, atau “Seandainya dulu aku menerima pinangannya…” (*curcol). Walaupun kita inginnya ‘turn back time‘ tetapi yang lalu telah berlalu dan tak bisa kembali lagi. Jadi hadapi masa depan saja.

4. Depression (depresi)

Most dangerous  stage!  Setiap orang akan mengalami depresi dalam menghadapi kehilangan tapi jangan sampai kita jatuh terlalu jauh ke dalam  depresi ini,  karena bisa berujung pada  bundir  alias bunuh diri alias suicide.  Perlu dipikirkan  bahwa  ‘selalu ada hikmah dibalik  setiap kejadian’.  Hal ini akan membantu dalam  melalui tahap depresi. Bila yang berduka adalah temanmu, pastikan bahwa kamu selalu ada untuk menjadi ‘shoulder to cry on‘-nya alias sediakan bahumu untuk tempatnya menangis… supaya dia bisa ke tahap terakhir dari kehilangan. (Sepertinya ibu pada ceritaku di atas sedang berada pada tahap depresi ini).

5. Acceptance (penerimaan)

The last stage, yaitu bila kita sudah bisa menerima bahwa kehilangan merupakan bagian dari kehidupan, karena yang datang bisa pergi, yang hidup bisa mati dan yang ada bisa jadi menghilang. Tidak melupakan yang telah pergi, namun menganggap mereka adalah bagian dari kehidupan kita. Keputusan untuk melanjutkan kehidupan, menemukan kebahagiaan dan membahagiakan orang lain adalah kesembuhan dari rasa berduka dan kehilangan.

Setiap orang mungkin tak sama dalam menanggapi kejadian yang menimpanya, pun dalam tahapan saat menghadapi kehilangan. Ada yang dengan mudah melalui setiap tahapan kehilangan, dimulai dari penyangkalan (denial), hingga penerimaan (acceptance). Ada pula yang sangat sulit melalui tahapan tersebut, sehingga terus berputar-putar pada tahap tertentu saja.

Menurutku dukungan keluarga dan pengetahun di bidang agama sangatlah membantu seseorang dalam melalui tahapan kehilangan. Tidak menutup kemungkinan, ada orang yang langsung berada pada tahap penerimaan (acceptance) karena ia telah belajar untuk mengikhlaskan segala musibah yang menimpanya.

So, pernahkah Sahabat mengalami tahapan-tahapan dalam kehilangan seperti yang kusebutkan di atas? Semoga kita bisa lebih bijak dalam menghadapi rasa berduka dan kehilangan.🙂

30 thoughts on “Berduka dan Kehilangan

  1. Saya juga pernah melihat orang kehilangan suaminya. Mereka menangis meraung-raung. Dengan berkembangya waktu mereka akhirnya bisa menerima.
    Saya juga pernah =kehilangan yaitu ayah meninggal dunia. Saya juga menangis tapi hanya sebentar selanjutnya bisa menerima.
    Dengan demikian tahapan2 diatas tidak saya lalui semuanya.
    Terima kasih atas pencerahannya
    Salam hangat dari Surabaya

  2. Semua memang ada prosesnya kak akin

    saya dulu juga pernah kehilangan salah satu anggota keluarga, dan alhamdulillah dalam waktu singkat sudah bisa menerima

    Dalam hal ini, belajar Legowo itu memang perlu

  3. waktu saya kehilangan kakak saya karena kecelakaan, rasanya kaki ini susah menjejakan di bumi karena saat itu saya adalah orang pertama yg diberi kabar oleh perusahaan tempatnya bekerja. Sementara istrinya baru dikasih tahu saat sudah di ruang jenazah…..
    Alhamdulillah…saya cuma sebentar lemasnya karena saat itu harus terlihat kuat menghadapinya….terimakasih pencerahannya bu…

  4. Kehilangan ibu & anak saya, dua kehilangan yang masih membekas. Saya hanya mengalami tahapan ke-3 & ke-5 saja.Alhamdulillah, mungkin karena dukungan keluarga & orang2 terdekat.

  5. dukungan keluarga dan pengetahun di bidang agama sangatlah membantu seseorang dalam melalui tahapan kehilangan, ini yang sangat penting kakaakin saya setuju dengan ini yang jelas proses untuk sampai pada penerimaan itu setiap orang beda -beda ada yang cepat ada juga yang lama

  6. postingan berat nih.. #bawa batu kalee
    siapapun itu pasti suatu saat atau sudah pernah mengalami kehilangan, dan harus (mau tidak mau) wajib melewati fase2 itu

  7. Semoga kita nggak banyak melewati tahapan itu secara mendetail, karena harapan kita adalah selalu diberikan kesabaran. Karena yang pernah saya dengar adalah, dikatakan sabar adalah ketika ikhlas pertama kali megalami cobaan

  8. Yang pernah saya alami adalah yang ke 1, bagaimana tidak wong pagi hari dia masih bercanda, eh sorenya sudah tiada, tapi mau gimana lagi umur tidak ada yang tahu sampai kapan batasnya manusia menghirup udara🙂

    Postingan yang apik Kak, nambah ilmu pengetahuan nih🙂 , matur nuwun

  9. Dua hari yang lalu Ayah dari salah satu teman dekatku ada yang meninggal, temanku tetep strong dan mencoba menghibur diri sendiri, berbeda dengan ibunya yang katanya selama dua hari terlihat shock. Semoga keluarga selalu diberi ketabahan untuk siapapun yang sedang merasakan kehilangan

  10. Saya pikir dulu, saya pasti akan depresi jika kehilangan anggota keluarga tapi kenyataannya wlo say kehilangan adik dan mamak dlm jangka waktu 3 bulan saya termasuk kuat lho. Mungkin karena keduanya melewati tahap sakit parah sehingga seperti merasa lebih rela mereka pergi daripada tak berjodoh dengan kesembuhan.

    Jika situasinya beda, bisa jadi saya tak setegar itu #semoga saya tidak underestimate pada diri sendiri hehehe

  11. Ya Allah, aku gak ngebayangin saat aku kehilangan orang terdekat. Selama ini saat kehilangan aku masih bisa tegar. Semoga Allah senantiasa memberikan ketegaran jika perlu langsung loncat ke tahap kelima aja deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s