November Rain

“Tutup jendelanya! Mau turun hujan.”

Aku mendengar seruan seorang laki-laki dari rumah tetanggaku, kemudian suara seorang perempuan pun menyahut mengiyakan. Rumahku ini memang hanya terbuat dari kayu, sama halnya dengan rumah tetanggaku yang lain. Sehingga percakapan dengan nada biasa kadang bisa terdengar dengan baik, terlebih lagi bila berseru atau berteriak. Pembicaraan orang yang lalu lalang di gang samping rumahku juga terdengar jelas.

Tak lama setelah aku mendengar suara tetanggaku itu, hujanpun turun. Rata-rata orang di kampungku menutup jendela sebagai persiapan saat terjadi hujan, karena khawatir terpaan air hujan turut masuk ke dalam rumah. Keluargaku juga melakukan hal yang sama.

Hal lain yang dipersiapkan oleh keluargaku saat hujan turun adalah ember. Rumahku ini sudah cukup tua. Jauh lebih tua dari umurku, bahkan sudah berdiri lama saat pertama kali emak datang ke kampung ini di tahun 1970. Sudah belasan tahun kami mendiami rumah ini, dengan perbaikan yang tidak seberapa. Atap sirap yang terbuat dari kayu ulin itu kini sudah sulit ditemukan. Bila ada orang yang menjualnya, harganya juga mahal. Sehingga kami menambal atap yang bocor dengan menyelipkan lembaran seng. Namun tak lama kemudian terjadi lagi kebocoran di tempat lain. Jadinya untuk sementara kami hanya mempersiapkan ember untuk menampung air hujan dari atap yang bocor.

Atap sirap

Gambar dari sini.

Alhamdulillah, ternyata hujan di pagi Jum’at ini tidak seberapa deras. Sehingga air hujan tidak sampai masuk ke dalam rumah.  :D

Sejak berminggu-minggu yang lalu hujan sudah kerap membasahi Kota Samarinda. Mungkin intensitasnya hanya akan semakin meningkat di bulan November ini. Yang jelas, sepeda motorku masih penuh lumpur dan aku belum perlu mencuci motor lagi.

“Nanti juga hujan lagi…” Itulah sahutan orang yang (agak) malas mencuci motor.😀

Oh, Sahabat… Seandainya kalian tahu betapa berlumpurnya jalan raya yang ada di Kota Samarinda. Belum lagi genangan air yang ada di sana-sini saat dan setelah hujan…😦

26 thoughts on “November Rain

  1. lhamdulillah BAndung juga selalu hujan di sore hariii..tapi panassnya pwool di siang harii..
    SAma Kak motorku juga kotor, tanggung nnati juga ujan lagi xixiix..

    Semoga hujan kali ini membawa berkah..
    # biar air banyak lagi,

    • Hujan adalah rahmat. Saya sih senang2 aja. Kalo hujan yo pake jas hujan, jadinya kan saya naik Honda Jazz (jas hujan)😀
      Eh, Mbak, lumpur di motor saya udah tebel keknya…:mrgreen:

  2. Kalau musim hujan memang paling *males* nyuci mottor ya, kak.😆

    Kemarin dapat kabar dari Om yang lagi kuliah di UNMUL, katanya di sana hujannya memang sudah deras.

    Banjarnegara masih biasa saja, hujan rintik2 saja, kak. . .🙂

  3. Alhamdulillah, Surabaya di tempatku tinggal udah pernah hujan sekali tapi belum datang lagi sampai sekarang. Semoga kita bisa mengambil berkah dari hujan yang mulai turun dimana pun berada. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s