Menyelam di Hatimu

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Samarinda

Saat membongkar koleksi foto di laptop-ku, aku menemukan foto di atas. Foto itu kuambil saat Samarinda Integrity Fair awal bulan ini. Aku teringat beberapa potong percakapanku dengan petugas stan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda.

Saat aku melihat-lihat foto yang dipajang di stan itu, salah seorang petugas mendekatiku. Ia lalu menjelaskan kejadian yang terlihat pada foto. Rata-rata foto tersebut merupakan foto kegiatan penyelamatan yang telah mereka lakukan. Sebagian terdengar seperti nada bangga atas keberhasilan mereka, seperti saat menemukan mayat di sungai beberapa waktu yang lalu.

“Wah, berarti bapak-bapak ini jago menyelam ya,” ucapku sambil tersenyum.

“Ah, tidak juga, Mbak. Menyelam di sungai itu sulit karena airnya keruh. Tidak kelihatan apa-apa, gelap. Mungkin lebih mudah menyelam ke hati Mbak.”

Aku terkekeh mendengar ucapan bapak itu, yang agak terdengar seperti Andre di Opera Van Java.😀

“Oh, begitu ya. Berarti kalau menyelam di laut lebih mudah dibanding menyelam di sungai ya, Pak? Kan airnya jernih,” kilahku, berusaha tak memperdulikan rayuan ala Andre-nya tadi.

“Memang sih, jarak pandang kita agak sedikit lebih jauh saat menyelam di laut. Tetapi tetap saja sulit. Saya bilang, sepertinya lebih mudah menyelam ke hati Mbak deh.”

Oh, terjadi pengulangan. Sepertinya ucapan bapak ini meminta tanggapan, pikirku. Dengan serta merta aku pun menanggapinya.

“Eeaaa, so sweet…” sahutku sambil membuka kedua tanganku di dekat dagu dan bergaya ala Cherry Belle. Aku sendiri terkikik dalam hati bila ingat gayaku itu.:mrgreen:

Kukira pembicaraanku bisa berhenti sampai di situ. Ternyata tidak. Berulang kali aku mencoba memutus pembicaraan dengan bapak itu, namun ia terus saja bercerita tentang kegiatan heroik yang telah ia dan tim-nya lakukan. Aku maklum saja, karena kebetulan saat itu hanya ada aku dan seorang pengunjung lain di stan itu. Jadinya ia punyak banyak waktu untuk ‘memamerkan’ prestasinya.

Akhirnya setelah aku meminta difoto dengan sarung tangan pemadam kebakaran, aku berhasil jua menjauh. Ampun deh bapak-bapak itu.

Aku jadi berpikir seperti ini, “Ingin menyelam di hatiku, Pak? Sesungguhnya kau tak tahu berapa dalamnya hatiku. ” #eeaaa:mrgreen:

25 thoughts on “Menyelam di Hatimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s