Mendaur Ulang Makanan

Indonesia memiliki wilayah yang luas dan kaya akan ragam budaya, suku dan juga makanan. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, telah terjadi pencampuran budaya atau kebiasaan di berbagai daerah. Suku-suku yang tinggal menyebar keluar dari daerahnya membawa serta kebiasaan mereka sebelumnya ke daerah mereka yang baru. Karena berada dalam suatu wilayah negara Republik Indonesia, dimana penduduknya sudah cenderung tercampur rata di berbagai daerah, maka penduduk Indonesia cenderung memiliki kebiasaan yang sama. Salah satu contohnya adalah mendaur ulang makanan.

Tanpa kita sadari, kita atau orang-orang di sekitar kita sudah sering melakukan daur ulang makanan. Mendaur ulang makanan berbeda dengan mendaur ulang sampah. Bila sampah merupakan sesuatu yang telah dibuang, namun makanan yang didaur ulang adalah makanan yang masih baik, atau makanan sisa. Maksud dari daur ulang adalah mengubah  tampilan atau bentuk makanan menjadi bentuk lain, atau ke bentuk yang lebih menarik.

Mengapa didaur ulang?

Ini merupakan salah satu kearifan lokal. Bisa jadi dikarenakan pengalaman kepahitan di masa lalu, di masa-masa sulitnya memperoleh makanan, maka mendaur ulang makanan menjadi kebiasaan. Saat makanan di rumah tak habis, maka keluarga akan berusaha membuat makanan itu agar dapat ‘termakan’ oleh anggota keluarga. Terkadang ada juga situasi yang menyebabkan makanan banyak tersisa di rumah. Misalnya usai mengadakan suatu acara dan beberapa jenis makanan masih tersisa. Bila kondisi makanan masih bagus dan rasanya tak berubah, maka makanan tersebut dapat didaur ulang.

Alasan lain untuk melakukan pendauran ulang adalah agar tidak terjadi pemubaziran, atau membuang-buang makanan. Daripada makanan tersebut berpindah tempat ke tong sampah, ada baiknya dipikirkan untuk didaur ulang sebelum makanan itu terlanjur rusak atau basi. Terlebih lagi di masa ekonomi sulit, dimana harga berbagai barang kebutuhan begitu tinggi, maka mendaur ulang makanan dirasa lebih bijak dan hemat.

Ada banyak contoh makanan yang sering didaur ulang dalam rumah tangga. Misalnya masakan sisa pesta yang berupa daging-dagingan seperti rendang, bisa dibuat dendeng. Daging yang kuahnya telah kering kemudian disuir-suir dan digoreng hingga kering. Dendeng ini bisa dijadikan lauk sebagai teman nasi dan bisa bertahan hingga beberapa hari kemudian. Bila sudah bosan, dendeng bisa disimpan sementara di kulkas untuk kemudian muncul beberapa hari lagi dengan tampilan yang menarik bersama sekeping roti tawar dan timun. Bila kebetulan akan membuat lemper, dendeng ini juga bisa diandalkan untuk menjadi isian. Nasi uduk yang gurih bisa tampil bersama dendeng tersebut beserta telur dadar dan taburan bawang goreng.

Mari periksa isi kulkas.

Ada sisa mi di kulkas? Misalnya mi goreng sisa pesta, atau mi bakso yang tidak dimakan, bisa dijadikan omelet. Omelet mi adalah makanan yang sangat populer, terutama di kalangan anak kos. Hanya perlu ditambah kocokan telur dan sedikit garam atau bahan-bahan lain, lalu adonan tersebut didadar di atas wajan, jadilah camilan yang lezat sebagai teman nonton televisi atau saat online.

Punya banyak sisa bubur kacang hijau di kulkas? Bila bosan menikmati bubur dengan cara yang biasa, maka bubur tersebut bisa dimasukkan ke dalam plastik klip atau plastik es lilin, lalu bekukan di dalam freezer dan jadilah es kacang hijau yang menyegarkan. Saat memakannya, seketika kita akan merasa seperti kembali ke masa kecil dulu, saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar dan suka makan es lilin yang dijual di warung dekat rumah. Bahkan rujak serut juga bisa diperlakukan dengan cara demikian.

Ada satu jenis makanan daur ulang yang paling khas Indonesia, yaitu nasi goreng. Hampir sebagian besar orang Indonesia di berbagai daerah menggemari makanan satu ini. Makanan ini sudah kita kenali sejak masa kecil. Tentu kita ingat, ibu kita memasak nasi goreng dari sisa nasi yang dimasak kemarin. Kebanyakan keluarga di Indonesia memasak nasi goreng bukan dari nasi yang khusus dimasak untuk nasi goreng, terkecuali biasanya yang dijual di warung-warung. Nasi goreng biasanya merupakan menu sarapan pagi, karena praktis dan mengenyangkan perut. Untuk meningkatkan rasa dan nilai gizinya, nasi goreng dapat disajikan bersama telur dan sayuran seperti selada dan timun. Bahkan bisa pula ditambah dendeng daur ulang (jika ada).

Ada satu menu nasi goreng yang paling Indonesia dari bahan makanan daur ulang, yaitu nasi goreng sambal terasi. Bila ada sisa sambal terasi di atas meja makan dan kondisinya masih bagus, sambal itu bisa menjadi bumbu nasi goreng. Akan lebih nikmat lagi bila ada ikan asin atau ikan goreng sisa semalam, lalu disuir-suir. Cara membuatnya sama saja dengan cara membuat nasi goreng pada umumnya. Tumis sambal terasi, masukkan ikan, goreng sebentar. Lalu tambahkan nasi. Bila ingin menjadikannya semakin Indonesia, maka lebih maknyus bila ditambah pete. Namun tentu saja pilihan yang terakhir ini tidak bisa dimakan saat pagi hari sebelum berangkat kerja, khawatir aromanya akan mengganggu orang lain.🙂

Sebagai salah satu kearifan lokal, mendaur ulang makanan menjadi salah satu kegiatan yang semakin memperkaya budaya bangsa Indonesia. Daur ulang makanan bukan bermaksud untuk bersikap pelit, namun ini adalah bagian dari penghematan. Daur ulang ini juga dilakukan dalam rangka menghargai makanan yang didapat dengan cara yang tidak mudah.

Apakah Sahabat sudah siap untuk mendaur ulang makanan?

21 thoughts on “Mendaur Ulang Makanan

  1. setuju sama Akin, mendaur ulang makanan agar tidak ada yg terbuang.
    biasanya klo tampilan baru, anak2 juga lebih semangat menghabiskannya.

    paling sering memang nasi goreng.. juga masakan berkuah santan yg kemudian digoreng biasanya malah jadi rebutan. tapi gak baik juga sering goreng2 begitu. yang paling baik memang memasak secukupnya, dihabiskan.. nanti masak lg yg baru.. #alesan klasik bundo sudah pasti, males.. xixi

    ini kontes ya Kin..?
    sukses ya..!

    • Kadang ada yang sengaja masak nasi dilebihin, supaya bisa digoreng besoknya, Bundo😀
      Saya belum pernah nyoba menggoreng masakan yang berkuah santan tuh… Hmm…

  2. saya jarang mendaur ulang makanan, lha wong jarang masak.
    Saya tidak menemukan tulisan bahwa artikel ini diikutsertakan dalam kontes, tapi kok pada nyebut kontes ya?

  3. Betul …
    dari dulu … kita semua diajarkan oleh para tetua …
    jangan membuang-buang makanan …
    akhirnya … ibu-ibu kita berputar otak …bagaimana mendaur ulang makanan … yang masih bisa di daur ulang …

    salam saya

  4. hihi, iya, ternyata secara gak sadar kita udah melakukan daur ulang makanan~😆
    sukses buat kontesnya ya kak~😀

  5. hmmmm…mendaur ulang makanan?? paling2 nasi kemarin dibikin nasi goreng,
    kalau sudah tidak layak didaur ulang,,,yaa…mohon maaf….dibuang dehh…

  6. Daur ulang makanan yang Indonesia banget itu hasilnya kadang lebih enak dibanding makanan tersebut saat original ya Ka🙂

    Dan yang terpenting terhindar dari kemubaziran😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s