Anggrek yang Merekah (bagian 3)

Baru teringat, ternyata diriku belum memajang lanjutan cerpen kemarin😀

Baiklah, inilah lanjutannya. Hmm.. rasanya, semakin kubaca, aku merasa aneh sendiri dengan tulisanku. :D 

Bagian 1 ada disini.

Bagian 2 ada disini.

Lamat-lamat Hana mendengar suara orang berbincang-bincang dari dalam rumah. Sepertinya suara ayah dan ibunya. Hana merasa seperti berada di masa lalu. Saat ia tiba di rumah sepulangnya dari jaga malam, ada suara orang di rumah. Rumah jadi terasa hangat karena ada kehadiran orang lain, tidak seperti beberapa waktu ini saat kedua orang tuanya tinggal terpisah.

Hana memarkir kendaraannya di teras rumah. Tak sabar ia ingin segera masuk untuk menemui kedua orang tuanya. Hana bertanya-tanya dalam hati penuh harap, apakah mereka sudah berbaikan? Perlahan Hana masuk ke dalam rumah. Namun sepertinya harapannya tidak terwujud. Sebuah koper besar tergeletak di ruang tamu. Ayah dan ibunya duduk berhadapan di kursi ruang tengah dengan ekspresi wajah yang masing-masing tegang, sehingga tak merasakan kehadiran Hana.

“Ayah mohon, Bu. Kembalilah ke rumah ini.”

“Tidak akan. Ibu tidak akan pernah kembali, kecuali ayah menceraikan perempuan itu!” Suara ibu yang biasanya lembut kepada ayah, kini bernada tinggi sarat emosi. Hana terkejut mendengar ucapan ibunya.

“Apa, Bu? Ayah sudah menikah dengan Mbak Wita? Benar, Yah?” Hana memandangi wajah ayah dan ibunya secara bergantian. Mereka terkejut karena melihat Hana yang muncul tiba-tiba.

“Hana, kapan kamu datang?” Tanya Ayahnya.

“Tolong jawab dulu pertanyaan Hana, Yah. Apakah betul ayah sudah menikah dengan Mbak Wita? Tanpa sepengetahuan ibu?”

“Iya, Orchid. Benar sekali, ayah sudah menikah dengan Wita secara agama.” Ucap ayahnya sambil menunduk.Hana melirik ke arah ibunya yang hanya terdiam sambil memandang keluar jendela.

Tiba-tiba ibu Hana berdiri.

“Ibu akan ke rumah nenek. Rio masih ibu tinggal disana. Hana, kamu tinggal disini atau mau menyusul ibu ke kampung, terserah.” Ibu Hana lalu  melangkah ke ruang tamu dan menarik kopernya keluar rumah.

“Ibu, jangan pergi. Hana mohon.” Hana mencegat langkah ibunya di teras. Ia melihat gurat kekecewaan yang sangat dalam di wajah ibunya.

“Tanyakanlah kepada ayahmu. Semua tergantung keputusannya.” Ibu Hana melangkah keluar halaman dan naik angkot yang lewat di depan rumah mereka, meninggalkan Hana yang tertegun sendirian di halaman.

*****

Hana merasa bosan berada di ruang perawat bangsal kebidanan. Tak sabar ia ingin pulang. Biasanya ia sangat  menikmati menjadi asisten di kamar bersalin dan memandang bayi-bayi mungil yang baru lahir, namun kini Hana menjadi apatis. Menjadi seorang perawat, tak lagi menjadi hal yang menarik baginya. Terlebih lagi yang merusak keharmonisan keluarganya adalah seorang perawat.

Tut tut. Telpon genggam Hana berbunyi singkat, menandakan sebuah pesan masuk. Dari Kak Anton, kakak tingkatnya yang sedang praktik di Rumah Sakit Jiwa mengabarkan bahwa ia tak dapat memberikan obat yang dibutuhkan Hana.

Beberapa waktu yang lalu, saat rumah Hana mulai dihampiri prahara, secara tak sengaja Hana memergoki pembicaraan beberapa kakak tingkatnya di belakang kampus. Salah satunya adalah Kak Anton. Mereka membahas beberapa kenakalan yang pernah mereka lakukan, misalnya mengambil beberapa butir tablet dari laci pasien di Rumah Sakit Jiwa, atau mencuri beberapa ampul obat penenang dari lemari obat rumah sakit.

“Boleh minta, Kak?” Tanya Hana perlahan, mengundang tatapan heran dari kakak tingkatnya. Setelah beberapa saat, akhirnya Kak Anton merogoh saku baju seragam kuliahnya.

Gambar pinjam dari sini.

“Ini, Diazepam, penenang. Pakai kalau kamu perlu aja, atau kalau kamu pusing dengan masalah kuliah.” Kata Kak Anton saat itu sambil menyodorkan sebuah palstik klip kecil berisikan 3 butir tablet kecil.

Kini Hana kehabisan tablet penolongnya itu. Pikirannya masih kalut. Hana gelisah, bagaimana bila nanti ia tak dapat beristirahat karena memikirkan masalah keluarganya.

Diam-diam Hana keluar bangsal kebidanan, padahal jam jaganya belum usai. Ia ingin kabur saja dari ruangan itu. Saat melewati depan ruang ICU, Hana mendapatkan ide. Saatnya mempraktekkan apa yang didapatnya dari Kak Anton.

(bersambung)

______________________

Curcol : Ila Rizky Nidiana menyarankan agar aku menggunakan cerpen ini untuk membuat proyek solo atau novel. Tuing tuing tuing… Membayangkan saat harus menulis/mengembangkan cerpen ini hingga berpuluh-puluh halaman, membuat kepalaku berdenyut. Rasanya tak sanggup. Mungkin belum sekarang.😀
Salut banget pada orang-orang yang bisa menulis novel🙂

8 thoughts on “Anggrek yang Merekah (bagian 3)

  1. Kakaaaa….aku jg pgn bgt nulis novel. Semoga kita bisa ya Ka.
    Pssttt…kasih tau Hana, ga usah dipraktekkan segala ilmu dari Kak ANton, pulang ke rumah aj trus bobo heuheu

  2. Cerita yang menarik…. tapi mesti sabar nunggu kelajutannya hehehe…
    tadi baca dari part 1, bablas sampai 3 ini baru ninggalin komen…

    Saya tunggu kelanjutannya ya Mbak..

    salam hangat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s