Hadiah Istimewa Untuk Budhe

“Budhe sebaiknya istirahat dulu. Warung Budhe biar besok-besok saja dibukanya,” aku memijat-mijat punggung Budhe. Aku yakin perut Budhe tidak enak setelah muntah berkali-kali. Untung aku segera dihubungi Pak Anto, tetangga budhe yang mengantar beliau ke UGD Puskesmas.

“Nggak apa-apa, Yam. Cuma sakit maag aja kok. Budhe sudah disuntik Pak Mantri. Sebentar lagi juga sembuh,” ucap budhe dengan suara bergetar. Di tangannya masih ada kantong plastik berisi cairan yang keluar dari perut Budhe.

“Mbak, ” seorang perawat memanggilku.

Aku segera ke meja perawat, mengambil obat Budhe dan menyelesaikan pembayaran.

“Suster, bolehkah budhe saya istirahat sebentar disini?”

“Boleh, silakan.”

Aku kembali ke sisi budhe. Kulihat beliau tertidur di atas ranjang UGD. Aku bersyukur dalam hati muntah budhe sudah berhenti.

*****

“Mas Nug, tadi budhe ke UGD lagi,” kucoba menghubungi anak pertama budhe. Padahal Mas Nug tinggal sekota, namun jarang datang untuk menjenguk budhe yang hanya tinggal sendiri. Kakak sepupuku itu sangat tidak perhatian pada budhe.

“Tenang saja, Maryam. Nanti uangnya kuganti,” terdengar sahutan dari seberang sana.

“Bukannya begitu, Mas…”

“Sudah, tak usah dibahas lagi. Aku nggak bisa tinggal sama ibu. Aku sibuk nih.”

Mas Nug selalu begitu, mengabaikan orang tua. Bukannya aku tak ingin menjaga budhe, namun budhe punya empat orang anak. Ada Mas Nug, Mas Aldi, Mas Adam dan Noto. Tiga anak yang pertama sudah berkeluarga semua, namun mereka dan istri-istri mereka jarang menjenguk budhe. Aku sangat sayang budhe, namun aku juga ingin memberikan kesempatan pada sepupu-sepupuku itu untuk berbakti.

Harapan satu-satunya tinggal Noto untuk menemani budhe. Namun setelah Noto memutuskan untuk bekerja di luar kota, aku semakin kasihan pada saudara ayahku itu. Pupuslah harapan budhe untuk bisa tinggal dengan salah seorang anaknya.

****

Aku memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas besar. Beberapa keperluanku juga turut kumasukkan. Ibu memandangiku dari atas tempat tidur.

“Kasihan budhemu. Masih untung  kalau beliau cuma muntah-muntah. Kalau tiba-tiba beliau jatuh di kamar mandi? Nauzubillah,” ucap ibu sambil bergidik. “Bagus juga kalau kamu mau menemani budhe di rumahnya.”

“Iya, Bu. Kata suster kemarin, tekanan darah budhe juga tinggi. Takutnya beliau terserang stroke.”

Aku lalu pamit pada ibu, untuk sementara tinggal di rumah budhe.

*****

“Alhamdulillah…” budhe mengucap syukur berulang-ulang sambil menciumi wajahku.

“Sudah dong, Budhe. Geli nih,” ucapku sambil tersenyum.

“Syukur, Yam… Budhe masih punya keponakan sepertimu. Kamu mau tinggal di sini, sudah jadi hadiah buat budhe.”

Aku sangat bahagia, kerena di tengah kesendirian budhe, semoga aku bisa menjadi hadiah istimewa untuk beliau.

____________________

Artikel  ini [telat] dikutsertakan dalam Kontes Menulis Cerita Mini

32 thoughts on “Hadiah Istimewa Untuk Budhe

  1. telat juga ya Kin?
    jam istirahat baru bisa ngelongok dan kaget, rupanya acara sudah mulai ya
    Ini hari ultahnya bude Ipung?
    Selamat ya bude, semoga sehat selalu

  2. kakaaaaaaaaa, kok kita sama sih.. hahahaha, dhe juga telat lho.. tapi gk sampe bikin postingan, karena bener2 udah terlewat satu jam lebih sejak penutupan…😀

    dhe suka ama fiksinya mbak.. padahal merawat orang tua adalah impian semua anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya.. agak miris ketika melihat mereka tidak mau merawat hanya karena alasan sibuk.. semoga kita bisa seperrti perawat itu yaa kak..

  3. Pokonya hari ini BuDhe kebanjiran hadiah.
    Saat nulis amat dikejar waktu, persis acara di TV jaman dulu yg orang dikasih duwit segepok trus disuruh ngabisin dalam waktu beberapa jam…

  4. untungnya budhe punya keponakan yang memahami kondisi, plus bisa merawat lagi. Itulah ketulusan yang kita berikan pada orang lain akan melebihi nilai dari pemberian apapun

  5. wahh cerminnya bagus…tp sayang yach telat didaftarin….smoga anak2 budhe diberi kesadaran yach utk merawat orangtuanya selagi beliau masih hidup….krna penyesalan selalu datang terlambat…

  6. Namun setelah Noto memutuskan untuk bekerja di luar kota, aku semakin kasihan pada “adik ayahku” itu.

    Di Jogja, istilah Budhe (Ibu Gedhe= Ibu Besar) dipakai untuk memanggil kakak perempuan dari ayah atau ibu. Sedangkan panggilan untuk adik perempuan dari ayah atau ibu adalah Bulik (Ibu Cilik= Ibu Kecil). Begitu pula utk Pakdhe dan Paklik..

  7. mbak yang sangat sayang sama bu de nya yang sendirian dan butuh temen.
    kadang hidup memang sering tiba2 berubah , karena sakit., karena tak punya duit . tetapi semua itu harus selalu disukuri. aku mengalaminya.
    terima kasih tulisan mbak sangat mengena.

  8. kalau kata bung haji rhomah iramah: hay manusia hormati ibumu yg melahirkan dan membesarkan mu

    tpi kalau kata saya

    Orang tua kita adalah segala galanya bagi kita,,,,, jadi jngan disia-siain yaaa!!!!
    selagi bisa buatlah mereka bahagia!🙂

    oya mampir di website kami ya di :http://www.unsri.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s