Secangkir Kopi dan Bayanganmu

Secangkir kopi hitam masih penuh di depanku. Kepulannya sudah hilang sejak bermenit yang lalu. Cangkir itu bukan pesananku, karena belum ada kata damai antara kopi dan perutku.

Aku termangu memandang cairan hitam yang belum sempat tersentuh oleh pemesannya itu. Abiyan, kau masih sama seperti bertahun yang lalu, kopi hitam adalah teman setiamu.

Aku teringat sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselku pekan lalu.

Kangen kamu, boleh kan?

Aku tersenyum membaca pesan itu. Kamu, sahabat lama yang tiba-tiba menghubungiku. Kebersamaan di tempat kerja dulu, membuat kita dan beberapa teman yang lain menjadi cukup akrab.

Boleh, Bi. Aku juga kangen kamu. Sama halnya aku kangen dengan semua sahabatku.

Itulah sebaris balasan pesan singkat yang kukirimkan. Sahabat adalah orang pantas menerima rasa rindu dan sayang, menurutku.

Apakah untukku tidak berbeda kadarnya?

Ah, rupanya kau mulai bercanda, Abiyan, ucapku dalam hati. Sahabat baikku selalu mendapatkan tempat yang sama di hatiku.

Bila aku sangat merindukanmu, berarti perasaanku sama pula kepada Roni, Alvin, Titin dan Dirga, Bi.

Oke deh. Beberapa hari lagi aku cuti. Kita bertemu di tempat biasa ya. Nanti kukabari lagi ya, Sarah.

Tiba di hari yang kita sepakati untuk bertemu, di salah satu sudut cafe favorit kita. Sepiring fettucini sudah ada di hadapanku. Seperti biasa, aku selalu memilih air putih setiap kali makan di luar. Kamu, tentu saja memesan kopi hitam.

“Sudah cukup lama juga kita tidak bertemu ya, Sar,” tatapanmu lekat padaku. Mengapa? Apakah di gigiku ada terselip pasta?

“Aku maklum, Bi. Hanya aku dan Dirga yang tersisa di kota ini. Sementara kalian sudah berkelana ke tempat lain,” sahutku tersenyum.

“Sar, sebenarnya aku sudah lama menyimpan ini. Sejak kita dulu masih sering bersama.”

“Apa maksudmu, Bi?”

Aku mencoba meraba-raba apa yang akan kau sampaikan, namun tidak dapat menebaknya.

“Aku cinta sama kamu, Sar,” lalu kau berusaha memegang tanganku yang terletak di atas meja.

“Tunggu,” sahutku dengan suara tinggi sambil menarik tangan,”aku tidak mengerti apa sebenarnya ini.”

“Aku menyesal karena dulu tidak memilihmu. Sekarang, ijinkan aku mencintaimu. Aku tak bisa menghilangkanmu dari benakku.”

“Tidak mungkin, Bi. Kau pasti bercanda.”

“Aku serius, Sar. Akupun berharap kau membalas cintaku. Disini, aku sepi tanpamu, Sar,” ucapmu lembut sambil menunjuk ke dada kirimu.

Byur…

“Cukup, Bi!”

Segelas air putih telah kusiramkan ke kepalamu.

“Apa-apaan ini, Sar?!” serumu.

“Itu kulakukan demi Titin. Tega-teganya kau menghianati istrimu! Titin itu, sahabat kita, Bi!”

“Tapi…” kau melongo dengan kepala dan pakaian yang basah. Tampak lucu, namun itu sangat pantas buatmu.

“Masih untung kamu tidak kusiram dengan kopi hitam di cangkirmu, karena aku masih mempertimbangkan persahabatan kita, Bi.”

Sambil marah kau melangkah melinggalkan meja dan keluar. Mataku mengikuti hingga bayanganmu menghilang di balik pintu cafe.

Dan aku masih disini, sejak bermenit-menit yang lalu saat aku menyirammu dengan air minumku. Aku sudah tidak selera lagi menghabiskan fettucini-ku. Namun, siapakah yang akan membayar kopimu? Apakah aku?

Dengan berat aku memanggil pelayan cafe.

 

Jumlah : 475 kata

23 thoughts on “Secangkir Kopi dan Bayanganmu

  1. Asli apa fiksi, Kak ?
    Koq enggak ada teman lainnya, cuman berdua….

    Kalo ada temennya kan bisa diajak nyiram bareng tuh laki yang udah beristri. Biar sekalian basah ampe dalem-dalemnya,,,,😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s