Adam dan Hawa

“Ayah, mengapa Nabi Adam dilarang makan buah khuldi?” tanya Ammar yang sedang bermain mobil-mobilan  di teras.

Firman yang sedang mempersiapkan barang dagangannya di kursi teras terdiam. Sebuah pertanyaan dari anaknya yang berumur 6 tahun, namun tidak dapat dijawab begitu saja secara sembarangan. Ammar yang duduk di kelas 1 SD cukup cerdas dan akan mengingat setiap ucapan ayahnya.

“Ammar mendengar cerita itu dari siapa?” tanya Firman.

“Tadi Bunda Alfiah bercerita di sekolah Ammar. Tapi ceritanya belum selesai. Bunda Alfiahnya ada tamu.”

“Allah kan sudah menyediakan banyak buah-buahan lain di syurga. Nabi Adam dan istrinya boleh memakan semuanya, kecuali buah yang satu itu.”

“Iya, Yah. Tapi kok Nabi Adam dilarang makan buah itu? Padahal malaikat dibolehkan,” tangan Ammar masih tidak lepas dari mobil-mobilannya.

“Itu adalah rahasia Allah, Mar. Allah sebenarnya ingin menguji apakah Nabi Adam patuh akan larangan Allah atau tidak.”

“Nabi Adam melanggar larangan Allah ya, Yah?”

“Iya. Syaitan terus-menerus merayu Nabi Adam dan Istrinya, sehingga mereka memakan buah itu. Lalu yang terjadi adalah…”

Kalimat yang diucapkan Firman menggantung. Sebuah kenangan masa lalu muncul menampar jiwanya. Bertahun-tahun yang lalu.

“Bila kau tak datang menjemput hatiku, maka aku tak tahu lagi akan kemana membawa hati ini.”

Isak tangis Fatimah menderu di telinga Firman, membuat Firman terjerat dalam pusaran kegelisahan. Larangan, bisikan-bisikan syaitan, berputar-putar di alam benaknya. Antara hitam dan putih berkecamuk. Entah ia dirasuki oleh syaitan, atau ia sendiri yang sebenarnya adalah syaitan.

“Kita akan tinggal sementara di kota kecil ini, Fatimah,” Firman menunjukkan sebuah kamar kos akan yang menjadi tempat mereka bersembunyi.

“Apakah kau mencintaiku, Firman?” Fatimah menatap jauh ke mata kekasihnya.

“Ya. Aku membawamu sejauh ini, karena aku sangat mencintaimu.”

“Cukuplah itu bagiku, Sayangku.”

Kemudian di malam sunyi kota kecil itu tiada syaitan lagi yang dikekang. Batasan-batasan telah hilang. Ajaran-ajaran yang pernah diterima Firman sejak di buaian ibundanya hingga di masa dewasanya telah membaur bersama tawa syaitan yang menggema di langit-langit kamar kos itu.

Lalu yang terjadi adalah…

“Lalu, apa yang terjadi, Yah?” Sentuhan lembut Ammar menyadarkan Firman dari lamunannya. Ammar sudah berdiri di sampingnya.

“Kamu, Mar. Yang terjadi selanjutnya adalah kamu,” ucap Firman dalam hati. Matanya berkaca-kaca.

Firman berusaha menatap mata Ammar. Mata yang sama dengan mata seorang perempuan muda yang meregang nyawa di pangkuannya. Darah begitu banyak menggenang di atas ranjang kamar kosnya, hingga  perempuan muda itu tak sanggup bertahan. Akhirnya ia tak sempat sekalipun menggendong seorang bayi mungil yang baru saja keluar dari rahimnya. Perempuan muda itu adalah Fatimah, ibu dari Ammar.

Seperti Adam dan Hawa yang memakan buah yang dilarang Allah, sehingga mereka terusir dari surga akibat ketidakpatuhan mereka. Firman merasa ia adalah contoh lain ketidakpatuhan manusia terhadap larangan Allah. Kini ia merasa sedih dan sangat menyesal kerena telah membawa Fatimah pergi meninggalkan keluarganya di saat usia perempuan itu masih belia. Bahkan kemudian ia tak sanggup melindungi perempuan muda itu di tempat pengasingan mereka.

“Ayah…” Ammar mengguncang-guncang bahu Firman, “lalu apa yang terjadi, Yah?” Ammar tak sabar menantikan lanjutan kalimat ayahnya.

Firman mengusap wajahnya. Ia berdiri sambil mengacak-acak rambut Ammar. Ia merasa tak sanggup melanjutkan kisahnya.

“Biar Bunda Alfiah saja yang melanjutkannya besok di sekolah ya. Sekarang ayah mau keliling dulu. Do’akan ayah banyak dapat rejeki ya, Mar,” Firman tersenyum melihat anggukan Ammar yang penuh semangat.

Perlahan Firman mengayuh sepeda ontelnya yang bagian belakangnya dipenuhi mainan anak-anak. Ia berharap masih bisa mengais rejeki di kota kecil itu, tanpa kembali ke keluarganya atau keluarga Fatimah.

Jumlah: 555 kata.

_______________________________

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka. Ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

34 thoughts on “Adam dan Hawa

  1. Cinta memang masalah hati, tapi logika pun tetap harus mengiringinya. Keselarasan antara hati dan akal, melahirkan nurani. Bisikan nurani itulah yang paling jujur. Hanya saja, manusia seringkali kehilangan tidak mengindahkan nuraninya, dan kemudian terpuruk dalam bujuk rayu syaitan. Akibatnya? Hancurlah segala harapan dan keindahan masa depannya..

    Cerita Firman dan Fathimah di atas, adalah contoh ketidakselarasan itu.. Menarik sekali, Akin.. Aku suka sekali ceritanya.. Mantap..🙂

  2. memang menjadi rahasia Allah kenapa dilarang memakan buah khuldi.. yang jelas, takdir pun berkata lain sehingga memang kisah setan menggoda manusia akan selalu hadir dalam sejarah manusia.

    hemm… semoga sukses dengan FFnya.. bagus dan bermakna niih.. bisa pas aja 555 kata

  3. 555kata – bisa pas gitu mba hehehe

    keren ceritanya, suka deh.
    sayang yah, mestinya Firman kembali saja ke keluarganya,
    sudah pula kehilangan Fatimah, masak terus mau memutuskan silaturahmi dengan keluarlganya, nambahlah dosanya kan

    kebanyakan kita begitu, sudah melakukan kesalahan, masih dilanjutkan dengan kesalahan lain dan dicari pula pembenaran untuk itu🙂

    sukses ya mba di kontesnya Amel🙂

  4. ga diragukan lagi kalau kak akin bikin cerita2 kaya gini maah…

    ehmm, apaka itu merupakan bntuk pngorbanan dari sebuah cinta, kan katanya cinta harus berkorban,,, hehehee (iya, tpi pengorbanan yang kebablasan & keliru :D)

    sukses kak, ngontesnya

  5. Dunia ini hanya dipenuhi oleh adam dan hawa, selama mahluk ini masih ada, maka kejadian yang sama akan terus berulang tanpa kita sanggup untuk mencegahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s